Wallace dan Santiong House: Teka-Teki di Balik Klaim

Editor: Irfan Ahmad author photo

Alfres Russel Wallace
Wallace, yang bernama lengkap Alfred Russel Wallace, belakangan ramai dibincangkan lagi. Ini bukan pertama kalinya. Pada 2008 dan 2010, perbincangan tentang Wallace juga marak pada tahun-tahun itu. Pada 2020 ini, Wallace diwartakan oleh berbagai media daring dengan sudut pandang masing-masing. 

Wallace tiba di Ternate pada Januari 1858. Kala itu bertepatan dengan dibukanya akses perdagangan bebas oleh pihak Pemerintah Kolonial Belanda di Ternate. Ternate menjadi salah satu kota yang disinggahi dan memiliki narasi tersendiri bagi Wallace. Di Ternate, ia mendiami salah satu rumah milik Maarten Dirk van Renesse van Duivenboden, seorang pedagang kaya  keturunan Belanda. Pedagang ini memiliki banyak tanah dan rumah yang disewakan di Ternate. Asetnya terutama banyak terdapat di wilayah tengah dan selatan Ternate. Salah satunya di wilayah bekas pemukiman Eropa (Kampoeng Eropa), di rumah inilah lahir sebuah karya besar dalam ilmu pengetahuan.


Di rumah sewaannya di Ternate ini, Wallace mencetuskan teori seleksi alam sebagai jawaban dari teori evolusi. Wallace adalah penemu teori evolusi bersama-sama dengan Charles Darwin. Namun, Darwin yang menikmati popularitas sebagai penemu teori evolusi. Ternate pun menjadi tenar sebagai tempat tinggal Wallace. Bukan lagi cengkeh dan pala semata, melainkan juga tempat Wallace menuliskan gagasan yang brilian. 


Tak heran ketika sejumlah orang melibatkan diri mereka dan melakukan “Pameran Spesimen Sejarah Alam” di Galeri Salihara, Jakarta, pada 16 Agustus - 15 September 2015. Wallace mengumpulkan 125.660 spesimen selama 8 tahun perjalanannya menapaki pulau-pulau di Nusantara, dan salah satunya Pulau Ternate. Bagi ilmu pengetahuan, temuan Wallace dan teori yang dicetuskan oleh Darwin adalah hal penting. Dari perspektif ilmu sejarah dan kebijakan pengelolaan situs bersejarah, di balik temuan ilmuan ini, termasuk hal yang penting adalah rumah di mana Wallace pernah tinggal selama berada di Ternate. 


Rumah Wallace di Santiong

Sebelas tahun lalu, Yayasan Wallacea Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia melakukan Pra Simposium "Letter from Ternate", yang digelar di Hotel Amara Ternate pada 2-3 Desember 2008. Kegiatan spektakuler ini melibatkan berbagai disiplin ilmu demi menuai hasil optimal. Di akhir kegiatan, tepatnya pada 3 Desember 2008, Tim peneliti bersama Walikota Ternate, Syamsir Andili, menyepakati dan meresmikan sebuah nama jalan di mana Wallace pernah tinggal. Jalan yang berada di Kelurahan Santiong, Kecamatan Kota Ternate Tengah, kemudian dinamai Jalan “A.R. Wallace.” 

Sumar Wallace

Kita seharusnya bersyukur dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Ternate, LIPI, YWI, dan AIPI saat itu. Mereka memberikan nama jalan dengan mengunakan nama besar ilmuan tersebut di suatau kawasan yang terletak di Kelurahan Santiong, Kota Ternate. Ini mewakili Indonesia dan Desa Usk, Wales, di mana Wallace dilahirkan. Sayangnya, nama ini tak disandang dalam waktu lama.


Pada pertengahan 2010, jalan yang tadinya dinamai “Jalan A.R. Wallace” bersalin menjadi “Jalan Djuma Puasa.” Sejak itulah rumah kini dikuasai oleh Puanga Tjandra tak menyimpan lagi jejak Wallace. Di rumah yang di dalamnya pernah tinggal seorang Wallace dan menuliskan gagasannya dalam "Letter from Ternate", menjadi sirna dalam kekekalan sejarah. Padahal, melalui surat itulah buku Darwin Origin of Species (1859) terilhami dan dapat terbit kemudian.


Perubahan nama ini—dari A.R Wallace menjadi Djuma Puasa—tidak hanya mengabaikan nilai sejarah di balik penamaan tersebut. Akan tetapi, ini juga sekaligus “menutup mata” terhadap upaya-upaya yang ditempuh sebelum penetapan dan “penganugerahan” nama terhadap jalan itu. Sebelum nama (Jalan A.R Wallace) ditetapkan dan diterapkan terhadap kawasan di Santiong itu, sebuah penelitian dilakukan. Di dalamnya terlibat ahli dari berbagai disiplin ilmu. Sebagai suatu upaya ilmiah, temuan tadi berlandaskan fakta sejarah. Termasuk pihak yang dilibatkan pada pengumpulan data saat itu adalah keluarga pemilik rumah, yaitu Bapak Yusuf Bay. Penggantian nama jalan ini menjadi awal polemik yang berkembang kemudian. 


Soa-Sio dan Jalan Pipit: Bukan Rumah Wallace 

Penentuan tentang rumah yang pernah ditempati Wallace ketika berada di Ternate lantas menjadi “tidak tentu” lagi kemudian. Muncul dua klaim lain yang mengatakan bahwa rumah yang dimaksud adalah bukanlah yang di Santiong. Membantah temuan para peneliti di atas (rumah Wallace terletak di Santiong), ada dua lokasi yang ditunjuk. Selain “Jalan Djuma Puasa”, masih di Kelurahan Santiong, dikatakan bahwa sebuah rumah yang terletak di “Jalan Pipit” adalah rumah Wallace. Sebuah rumah lainnya yang juga ditunjuk sebaga rumah Wallace terletak di Kelurahan Soa-Sio, Kecamatan Ternate Utara. Dengan demikian, ada tiga rumah yang ditunjuk sebagai klaim atas rumah yang pernah dihuni Wallace. Ketiganya menjadikan sumur (parigi) yang dalam sebagai penandanya. 

Fala Seng

Klaim kedua rumah yang disebut belakangan (di Jalan Pipit dan Kelurahan Soa Sio) sebenarnya terbantahkan dengan cerita yang dinyatakan oleh Wallace.


Wallace pernah menceritakan denah dan lingkungan rumah tempatnya tinggal. Ia menceritakan dengan jelas bahwa dari rumah tempatnya tinggal menuju ke pasar hanya membutuhkan waktu selama lima menit. Sementara dari arah berlawanan tidak ada lagi rumah-rumah orang Eropa. Wallace juga menegaskan bahwa rumah yang disewakan berada paling pojok dari pemukiman Eropa. Ia juga mengatakan dengan jelas bahwa Wallace menempati rumah yang berada di pinggiran kota. Kota yang dimaksud saat itu sebenarnya adalah Fort Oranje, sebuah ‘kota baru’ bagi Ternate setelah Sampalo—saat ini Kelurahan Kastela—ditinggalkan sebagai kota lama kala itu. 


Jika kita mencermati keterangan singkat dari Wallace di atas, maka dapat dikatakan dengan tegas bahwa rumah yang ditempatinya tidak berdekatan dengan Sigi Lamo (Masjid Sultan) dan Keraton Ternate (Istana Sultan). Andaikata Wallace menghuni rumah yang berada di Soa-Sio, maka ia sejatinya tidak mengabaikan kedua bangunan penting ini dalam keterangannya. Keduanya tak mungkin luput dari amatan dan akan tercatat dalam buku The Malay Archipelago. Ia tidak perlu merepotkan diri dengan menarasikan jarak pasar ke rumah dan pantai. Ia seharusnya cukup dengan menarasikan bahwa ada sebuah masjid yang besar dan istana yang megah di sekitar rumah yang ditempatinya. Jika benar ia tinggal di rumah dimaksud, maka sangat disesalkan jika kedua bangunan penting luput dari narasinya. Padahal, Wallace adalah seorang ilmuan. Hipotesa ini menguatkan pandangan saya bahwa Wallace tidak menempati rumah yang berada di Soa-Sio!


Untuk melihat keterkaitan antara struktur kota Ternate dan hubungan antara Maarten Dirk van Renesse van Duivenboden dengan Wallace, gambaran singkat berikut dapat menjadi pertimbangan untuk menunjuk di mana rumah Wallace di Ternate. 


Agar diketahui, pada zaman Kolonial Belanda, Kota Ternate dibagi menjadi dua bagian secara administrasi. Pertama, wilayah Swapraja di bagian utara. Status swapraja berarti daerah tersebut dipimpin oleh pribumi yang berhak mengatur urusan administrasi, hukum, dan budaya internalnya. Wilayah swapraja berada di sekitaran keraton, yang terdiri dari soa-sio. Hal ini erat terkait dengan struktur atau soa (marga) bangsawan lokal yang loyal terhadap sultan. 


Kedua, wilayah Residen kota Ternate di bagian selatan. Wilayah ini diperuntukkan bagi para pendatang yang melakukan aktivitas perdagangan di Ternate. Maka para pendatang seperti Orang Arab, Cina, Melayu dan warga Belanda ditempatkan di sekitar Fort Oranje agar mudah dikontrol oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Terkait dengan wilayah selatan, dalam berbagai laporan Belanda disebutkan bahwa anak sultan, orang Cina dan Belanda memiliki tanah dan rumah sewaan. Van Duivenboden, seorang pengusaha kaya  keturunan Belanda yang memiliki banyak rumah di Ternate, terutama di wilayah tengah dan selatan. Salah satunya di wilayah yang belakangan ini dinamakan Santiong.


Perlu Riset Serius

Lantas, apa yang membuat kita ragu untuk menunjuk rumah di Santiong itu sebagai rumah yang benar-benar pernah dihuni oleh Wallace?


Apakah kita meragukan atau tidak mempercayai hasil riset yang pernah dilakukan pada 2008 oleh LIPI, YWI, dan AIPI? Mungkinkah lembaga riset resmi negara ini, mempublikasikan temuannya secara ceroboh? Apakah keputusan Wali Kota Ternate saat itu memang bersifat politis belaka sehingga pergantian penguasa (wali kota) juga mengaburkan, jika bukan menggugurkan, temuan ilmiah (sejarah)? Sederet pertanyaan ini perlu dijawab tuntas. 


Baiklah, anggap saja kita menginginkan sebuah hasil dari penelitian yang sungguh-sungguh (saya tidak mengatakan bahwa penelitian sebelumnya oleh LIPI, YWI, dan AIPI adalah penelitian abal-abal sebab saya mempercayai kredibilitas lembaga tersebut). Karena itu, kita perlu melakukan lagi penelitian terkait rumah Wallace sesungguhnya. 


Pemerintah Kota Ternate harus mengupayakan kajian atau penelitian yang lebih serius. Penelitian dilakukan dengan melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Termasuk para ahli arkeologi yang dengan metodenya dapat melakukan ekskavasi di lokasi situs yang diduga rumah Wallace.  Kita punya tenaga ahli dari lembaga resmi pemerintah serupa Balai Arkeologi Maluku. Ini dimaksudkan untuk menentukan rumah Wallace sesungguhnya. Bukan spekulasi dengan berbagai kepentingan di baliknya. 


Tulisan ini pernah dimuat laman Akademika Malut Pos (Selasa, 19/9/2019).





Share:
Komentar

Terkini