Asal-Mula orang Tobelo

Editor: Irfan Ahmad author photo
Peta Tobelo Tahun 1920. Koleksi KITLV.
Tradisi lisan dan catatan etnografis dari Utrechtse Zendings Vereniging (UZV) mengabsakan bahwa penduduk yang mendiami pulau Halmahera bagian utara menyebut diri mereka sebagai orang Tobelo. Secara etimologis, tobelo terbentuk dari dua kata, to dan o belo. To artinya orang dan belo  yaitu  sepotong  kayu/tiang  yang  ditancapkan  ke  pasir  (penambat perahu). Hueting seorang misionaris Belanda menyebutkan bahwa sebutan Tobelo pertama kali muncul saat sultan Ternate mengunjungi wilayah Halmahera bagian utara. Ketika sultan sampai di pesisir Halmahare, dia memerintahkan bala (prajurit) untuk mengikat perahu agar tidak terbawa arus. Akan tetapi saat itu, tidak ditemukan tempat untuk mengikat perahu sultan, sehingga bala sultan mengikatkan tali  perahu kepada salah seorang penduduk setempat yang datang menyemput sultan. Maka, sultan—pun bertitah kepada orang itu “saya namakan enkau  to-belo”. Artinya orang yang menjadi tiang penambat perahu. Orang itu menjawab, “Jou, Tobelo”. Artinya sayalah si penambat perahu (Topasimasang, 2004; 48).

Sejarawan Maluku Utara, Adnan Amal ( 2013:1) kata Tobelo berasal dari orang Tobelo sendiri. Nama ini muncul ketika satu pasukan orang Halmahera datang dari arah laut dan ketika sampai di pesisir, pempinan meraka berteriak “o ngotirini ya belo”. Artinya, “tancapkan belo supaya perahu  tidak  terbawa  ombak  dan  arus”. 

Versi lain yang lebih mengakar pada mitos kosmologi tradisional orang Tobelo, menyakini bahwa nama Tobelo adalah peniruan dari kata-kata penduduk setempat yang menyebut nama tempat mereka sebagai o Tobelo-ka ma ngangi dan menyebut diri mereka sebagai o Tobelo-ka manyawa (Platenkam, 1988;111).

Tentang  asal-usul  orang  Tobelo  ada  berbagai  kisah.  Semua  sama  bahwa baik orang Tobelo maupun Galela datang melalui laut. Suatu kisah menceritakan bahwa:  Suatu ketika penduduk Halmahera tersesat di laut, yang terdesak di atas Gaane,  di  ujung  selatan,  di  tempat  itu  kini  disebut  “Juanga  ruba-ruba”, dalam bahasa Ternate juanga adalah sejenis perahu besar, ruba ruba berarti lenyap (Adnan, 2013:6). 

Dari  tempat  itu  semua  orang  menyebar  mencari  tempat  tinggal  mereka.  Kedua suku  ini  berangkat  di  bawah  seorang  pimpinan.  Orang  Galela  membawa  serta sebuah meriam (lela) dari perahu yang kandas sebagai harta warisannya dan orang Tobelo  membawa  dua  gong  besar.  Setibanya  di  daratan  Payahe,  batas  utara  dari semenanjung  selatan  orang  Galela  tidak  lagi  bisa  membawa  mariam  itu  dan meninggalkannya  di  gunung  yang  disebut  Bukuspera  sampai  sekarang  (dalam bahasa Ternate buku adalah gunung, uspera adalah meriam). Dari  daerah  tersebut  mereka  meneruskan  perjalanan  sampai  tempat  di mana  sekarang  ini  danau/talaga  Lina  berada  di  pedalaman  Halmahera  bagian utara  yang  menjadi  pemukiman  awal  mereka.  Di  tempat  ini  banyak  ditumbuhi pohon  sagu  sebagai  bahan  pangan  tetapi  mereka  tidak  puas  di  tempat  ini  karena mereka  terbiasa  tinggal  di  laut  lepas.  Pimpinannya  mencari  jalan  untuk  bisa  ke laut    melalui  gunung  api  Dukono  (gunung  Tolo),  melalui  lembah  sungai  Medee dan sampai di pantai, di tempat sekarang kampung Medee. (Hueting, 1921: 225).

Tobelo Laut dan Tobelo Pedalaman
Sejak orang Tobelo bersekutu dengan kesultanan Ternate dan mengakui pemerintahan Kolonial Belanda di abad  XVII.  orang  Tobelo  dibagi menjadi  dua  komunitas,  yakni  Tobelo-Tia atau Tobelo Pedalaman bermata pencaharian utama sebagai petani; dan Tobelo-Tai atau Tobelo  Laut  bermata  pencaharian  sebagai  nelayan (Leirissa, 1990: 159-1 60). 

Pembagian  ini  dilakukan oleh  Kolonial  Belanda  dimaksudkan  untuk  mengetahui  dan  membedakan penduduk Tobelo yang sudah keluar dan hidup di pesisir pantai. Berdasarkan  cerita  turun  temurun  orang  Tobelo,  pemukiman  “para leluhur” terdiri 9 (sembilan)   hoana  (o  hoana)  atau  kampong  (juga  disebut wilayah)  yang  mengacu  pada  hubungan  kekerabatan,  marga  atau  keluarga  yang menetap di talaga Lina dikenal dengan istilah soa (dalam bahasa melayu Ternate).  Hoana atau kampung di talaga Lina tersebut adalah sebagai berikut:  hoana Lina, hoana  Huboto,  hoana  Mumulati,  hoana  Gura,  hoana  Kanaba,  hoana  Tuguis, hoana Modole, hoana Pagu, dan hoana Togehoro. (Baca, Hibua Lamo, 2005; 22-23)
Kapita Tofor/Pimpinan "Bajak Laut" Tobelo yang disegani di perairan Banggai, 1879.
Gambar: Koleksi Muhammad Diadi.
Tradisi  lisan  dari  Tobelo  seperti  yang  dicatat  menyebutkan  bahwa  nenek moyang dari Utara dan Selatan Tobelo pernah tinggal bersama-sama di pinggiran talaga  Lina.  Tapi  nenek  moyang  dari  Tobelo  Utara  dibujuk  oleh  Sangaji  Gam Konora  (perwakilan  dari  Sultan  Ternate),  ajak  turun  dari  talaga  Lina  ke  pesisir pantai.  Setelah  keluar  dari  pedalaman  talaga,  mereka  menetap  di  pantai  Paca kemudian pindah ke Gam Hoku (desa terbakar), kondisi politik yang tidak stabil dan  sering  terjadi  pertikaian  antara  penduduk  Tobelo,  kelompok  ini  kemudian hijrah ke utara yang disebut Gam Sungi (desa baru). Gam Sungi yang berkembang menjadi  Kota  Tobelo  dan  seiring  waktu  berjalan  Tobelo-Tia  tidak  didapati  lagi karena pada abad XIX  mereka tidak lagi tinggal di sekitar  talaga Lina tetapi di wilayah pesisir bagian utara distrik Kao dan fakta ini dapat menjelaskan mengapa mereka tidak lagi disebut sebagai Tobelo-Tia, karena mereka tidak lagi tinggal di pedalaman (Fraassen, 1979: 123).

Di  bawah  ini  kita  akan  melihat  bahwa  Utara  Tobelo  abad  XIX  dibagi menjadi empat soa, selatan Tobelo dibagi menjadi empat bagian, ada pembagian ganda pada masyarakat Tobelo secara keseluruhan pada akhir abad XIX baik di Selatan Tobelo maupun utara Tobelo dari abad XIX, bersama-sama ketika masih hidup di Talaga  Lina yang  dibagi  menjadi  sembilan  soa.  Rupanya  jumlah Sembilan dalam pembagian tersebut tidak pernah terealisasi dalam struktur sosial-politik  dan  mungkin  dalam hipotetis  yang  didominasi  ditekankan  oleh  bagian penduduk muslim. Utara Tobelo,  kemudian  dibagi  menjadi  empat  suku  atau  garis  keturunan yaitu:  Lina,  Gura,  Subuto  dan Momulati.  

Di  masa  lalu  beberapa  yang  tidak  puas meninggalkan  Gura  dan  mereka  mendirikan  sebuah  desa  mereka  sendiri  yang disebut  Sabua  Lamo.    Pada  awal  abad  XVII  Sabua  Lamo  lebih  padat penduduknya  ketimbang  soa  Gura  yang  dahulu  sesuai  tradisi  dalam  melakukan perburuan bersama-sama dan menggabungkan diri menjadi satu soa. Keempat soa hidup bersama di Gam Hoku pada awalnya dan kemudian pindah ke Gam Sungi. Masing-masing dari empat soa memiliki pemimpin sendiri tetapi  soa Lina adalah pemimpin dari empat soa pada saat yang sama dan ia mendapat gelar Sangaji (Ibid.,126)

Sementara  itu  sumber  yang  lain  juga  menjelaskan  bahwa  suku  Tobelo adalah  penduduk  yang  awalnya  berdomisili  di  pesisir  pantai  Halmahera  bagian utara,  karena  tidak  mampu  membayar  upeti/pajak  dan  hijrah  ke  pedalaman Halmahera  tepatnya  di  Talaga  Lina.  Suku  Tobelo  memiliki  empat  sangaji  dan Galela  memiliki  dua  sangaji  yang  tergabung  dalam  satu  rumpun  (sembilan  sub suku)  kemudian  sub-sub  suku  ini  mulai  keluar  dari  satu  persatu  melalui  sungai Togosi, kali jodoh (Abubakar  M. Nur, 2008: 21).

Kelompok yang pertama keluar adalah orang Module menyusul  orang  Pagu,  orang Boeng, orang Tobelo danorang Galela. Orang Module, Pagu, dan Boeng, keluar  melalui kali Togosi sehinga  berdomisili  dan menetap di wilayah  Kao kemudian  berkembang  menjadi  beberapa  perkampungan  di  sekitar  (sungai)  kali Togosi termasuk desa Gayok. Pemukiman ini kemudian dikenal dengan penduduk Teluk Kao yang terdiri dari orang Module, Pagu, Boeng, dan Towilikao, proses penyebaran ini diperkirakan suku ini belum mengenal agama samawi (Ibid.,).

Sementara menurut  legenda  yang  dicatat  oleh  pejabat  Belanda  di  abad  XIX  bahwa  orang Tobelo berasal dari Hinianga sekitar talaga Lina di kaki Gunung Tolo. Kemudian berangsur-angsur mereka ke daerah pesisir sehingga terbentuk empat pemukiman (hoana)  yaitu:  hoana  Lina,  Huboto,  Momulate,  dan  Gura/Hibua  Lamo.  Struktur sosialnya  yang  masih  sangat  sederhana  berupa  kolektifitas-kolektifitas  famili  (o utu)  yang  terkait  dalam  suatu  hoana  terbentuk  melalui  suatu  tempat  pemujaan nenek moyang melalui ritual upacara, o halu (Leirissa, 1990;70-71).

Desa  utama  Tobelo  terdiri  dari  4  kampung:  Momulati,  Lina,  Suboto  dan Sabua  Lamo.  Semuanya  berada  di  bawah  seorang  sangaji  (kepala  distrik). Sementara  di  utara  Tobelo  terdapat  3  kampung:  Popilo,  Mede,  dan  Ruko,  yang kepala kampungnya berada di bawah kimalaha Suboto. Sebelumnya desa tersebut berada di sebelah Selatan, di sebuah tempat yang dikenal dengan “pojok terbakar” (bahasa Tobelo: Barere ma-Nguku) dan berkembang menjadi kota Tobelo (Fraassen, 1979;123).

Dari  pengelompokan di atas,  setidaknya  kita  memiliki  petunjuk  bahwa  pada  waktu  itu  sebagian  suku bangsa Tobelo yang menjadi pelaut sangat tersohor,  karena  dalam  setiap  ekspedisi  berperan  sebagai  pasukan-pasukan pelopor.  Dalam  berita-berita  selanjutnya  pemerintah  Belanda  hanya  menyebut tentang  “bajak  laut  Tobelo”  walaupun  sesungguhnya  di  antara mereka juga terdapat orang-orang Galela, Maba, Weda, Patani dan suku bangsa lainnya (Irfan, 2014).

Oleh  Leirissa (1990;197) mengemukakan bahwa orang Tobelo  yang  turun  dari  talaga  Lina  dan  berdiam  di  pesisir (Tobelo  dan  wilayah  Kao),  dikenal  sebagai  pemburu  teripang  dan  penyu. Perburuan dilakukan oleh o utu (suatu unit keluarga) yang terdiri dari 3 sampai 4 orang  dengan  menggunakan  perahu sampan.  Khusus  dalam  berburu  penyu digunakan sebuah tombak dengan ujung yang terbuat dari besi yang dikait dengan seutas tali yang panjang dan digulung rapi pada haluan depan perahu. Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau pemburu-pemburu ini sering berada di laut sampai berbulan-bulan  dan  hanya  kembali  pulang  ke  kampung  halaman  bila  persediaan makanan  telah  cukup  banyak.  Kebiasaan  mengembara  ini  oleh  Pemerintah Hindia Belanda  dianggap sebagai “bajak laut”.

Salah satu bagian yang terpenting di Halmahera bagian utara sejak abad XVIII sampai abad XIX adalah pelayaran orang Tobelo yang belakangan Pemerintah Kolonial Belanda melebelkan mereka sebagai “bajak laut” karena tidak patuh terhadap Pemerintah terkait dengan wajib pajak yang ditetapkan oleh Pemerintah Belanda.

Pelayaran orang Tobelo penting untuk dicatat kembali sebagai khasanah sejarah Maritim di Maluku Utara. Mengingat orang Tobelo adalah salah satu pelaut ulung yang menentang Pemerintah Kolonial Belanda dan diakui oleh Sultan Ternate, Baabullah maupun Sultan Tidore, Nuku. Bahkan dimasa Nuku memerintah sebagian besar prajurit handal beliau sebagain bersal dari Tobelo Selatan. Pelayaran orang Tobole perlu didokumentasi kembali, mengingat mengingat jangkauan wilayah/pulau yang dilayari orang Tobelo tidak terbatas di Maluku Utara saja, melainkan jangkauannya sampai ke Banda, Papua, bahkan sampai ke Pulau Jawa dan bebas melakukan transaksi apa saja di laut (Hamka, dkk, 2013; 188). 
Orang Tobelo yang mendiami wilayah pedalaman, Merdeka ini kemudian disebut sebagai orang Alfur, Alifur.
Gambar: Koleksi KITLV.
Namun lambat laun orang Tobelo yang aktif di laut yang dijuluki sebagai “bajak laut” mendapat tekanan dari Kesultanan Ternate maupun Pemerintah Belanda, karena diklaim telah melakukan pelanggaran pelayaran. Istilah yang negatif ini telah menutup kenyataan lebih banyak bagaimana kehebatan pelayaran pelaut-pelaut dari Tobelo. Sesaungguhnya mereka adalah para pelaut ulung yang telah mengadakan hubungan-hubungan maritim yang luas bahkan boleh dikatakan keberhasilan Sultan Khairun, Baabullah dan Nuku adalah peran penting orang Tobelo dan mereka menjadi garda terdepan.

Orang Tobelo yang aktif di laut berbeda dengan mereka yang mendiami wilayah pesisir. Mereka ini, diklaim sebagai orang yang patuh kepada kesultanan Ternate dan Belanda. Mereka juga berhak mengikuti agama Islam mupun kristen dan bebas mengunakan bahasa Melayu. Akan tetapi, mereka memiliki satu kewajiban yang bersifat wajib adalah melaksanakan ekspedisi (tenaga pengayuh kora-kora) bagi kesultanan dan mengeluarkan ngasi  atau pajak (Baretta, 1915; 22). Berbeda dengan  kalangan  penduduk  yang  masi  hidup  di  pedalaman  Halmahera  yang disebut sebagai orang Tobelo-Tia yang awalnya dinamakan sebagai orang Alfur. Mereka hidup bebas di hutan, menganut agama lokal/ suku dan tidak mengenal pajak. Belakangan banyak kalangan juga menyebut kelompok tersebut sebagai orang Togutil. Namun ketika di tanya asal mereka sebagaian besar mereka menyebut diri mereka sebagai o’hongana manyawa.





Share:
Komentar

Terkini