Benteng Oranje: "Riwayatmu Dulu"

Editor: Irfan Ahmad author photo
Bekas Pemukiman Kampoeng Melayu, kemudian dibangun Fort Oranje.
Benteng Oranje ini semula berasal dari bekas sebuah pemukiman orang Melayu (Clercq, 1890:15), atau dikenal dengan benteng Melayu. Setelah kedatangan Belanda di Ternate, oleh sultan Ternate mereka diijinkan untuk mendirikan sebuah benteng pertahanan di bekas pemukiman orang Melayu. Pada bulan Mei 1607 (Keppel, 1914:12), setelah ada kesepakatan antara Sultan Ternate dan  Cornelis Matelief de Jonge, benteng kemudian di bangun dan diberinama Fort Oranje oleh Francois Paulus van Carden, 1608-1609 (Irza, 2006:127). 
Waterpoort van Fort Oranje, Ternate-1900.
Nama Oranje sendiri diambil dari sebuah kerajaan kecil di bawah naungan kerajaan Spanyol. Kerajaan kecil tersebut dipimpin oleh seorang pangeran yang bernama Willem I atau lebih dikenal dengan nama Willem van Oranje (Willem dari Oranje). Willem kemudian dikenal dunia saat memimpin pemberontakan melawan penguasa Spanyol dan berhasil membawa Belanda menjadi Republik Independen. Untuk mengenang perjuangan Willem van Oranje tersebut, benteng ini kemudian diberi nama Oranje dan dijadikan sebagai pusat kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebelum dipindahkan ke Batavia (Horden,1952:513).

Selain pertahanan, benteng ini dibangun untuk mengimbangi perdagangan dan pertahanan orang Spanyol di Benteng Nostra  Senora  del Rosario atau Gamlamo (kampung besar) di pantai barat pulau Ternate. Benteng Oranje berdinding batu cukup tebal, dengan denah bentuk segi empat dengan bastion di keempat sudutnya. 

Keempat bastion masing-masing diberi nama:  De Punt Reaal (Reaal) di bastion baratdaya,  De Punt Jelolo  (Gilolo) di bastion baratlaut,  ‘T Zeebolwerk (Klein Zeebolwerk) di bastion timur laut, ‘T Groot bolwerk (Groot Zebolwerk) di bastion tenggara ini mempunyai pintu gerbang bergaya  Barock, dengan hiasan berbentuk mahkota di tengahnya. Di sekitar benteng terdapat parit (moat) yang dibangun mengelilingi benteng (Schilder, 2006).

Di benteng ini pula, pusat pemerintahan tertinggi VOC pertama kali beroperasi atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ketika Jenderal tersebut adalah Pieter Both (1610-1614), Gerard Reynst (1614-1615) dan Dr. Laurens Real (1616-1619). Setelah memerintahnya Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, ia memindahkan pusat pemerinthanan VOC ke Batavia (Jakarta) pada 1619.

Pada dinding timur bagian dalam benteng terdapat 2 (dua) buah prasasti berbahasa Latin yang berbunyi:
Prasasti sebelah utara:
Si pelis bger opem, medicus, medicina, domosque
Praesio ƒuni miƒeris nectamen inde falus
Est ƒua ƒaus medus Ul ƒiol
Benidida potentes
ƒnploranda prijs gralia
Fot Dei
Imitante VI.R

Jika tiba saatnya, semua orang akan hidup dalam damai,
terpelihara, sehat, tempat tinggal yang menyenangkan. Semua
potensi keberuntungan itu hanya ada dan terjadi karena Rahmat
terberi dari Allah
Salinan VI.R

Prasasti sebelah selatan :
Pramaca si cupis erunt
Medicamina nulla
Hictibi, nec medicūs, quivalei
Absqúe DEO
Ast aderúnt medicus subito et
Medicamina, Mágnūm.
Si prima pura mente precare DEUM
H.M.

Kehancuran terjadi jika orang hidup secara tidak sehat,
tidak ada kedamaian, tidak teratur, menjauh dari Allah.
Hal ini semua akan mendatangkan murka yang besar bagi Allah

H.M.
Lonceng Gerbang dan Prasasti yang terdapat pada dinding Fort Oranje
Benteng ini mampu menunjukkan kemampuan pertahanannya terhadap serangan Spanyol, ketika menyeberang secara diam-diam pada malam hari dari benteng Nostra Senora del Rosario (benteng Kastela) dengan pasukan sebanyak 200 serdadu tiba di benteng Oranje. Dalam pertempuran pasukan Spanyol dipukul mundur oleh Belanda dalam pertempuran seru satu lawan satu. Belanda dengan empat puluh orang prajuritnya yang dibantu oleh sekitar seratus pasukan Ternate mampu mempertahankan benteng. Perang di benteng Oranje tahun 1608 ternyata merupakan pertempuran serius antara Belanda dan Spanyol di Ternate (Irfan 2014:209). 


Secara periodik benteng pertahanan ini selalu diperbesar. Pada tahun 1627 benteng Oranje mampu menampung 50 buah rumah di pelataran bagian dalam benteng. Tahun 1634 Oranje diperkuat dengan membangun sebuah parit yang mengelilingi benteng. Perbaikan benteng dilanjutkan pada tahun 1757 dengan dibangun sebuah pintu air, gardu penjaga, gudang amunisi, dan barak di bastion Zee Bolwerk. Tahun 1791, komisi militer Negara melakukan peninjauan terhadap struktur benteng di kepulauan Maluku. Dari peninjauan tersebut didapati beberapa benteng yang rusak sehingga diusulkan untuk dilakukan perbaikan. Benteng Oranje akhirnya terpilih menjadi salah satu benteng yang diusulkan. Oleh Insinyur C.F. Reimer membuat dua desain perencanaan benteng Oranje, namun hasil desainnya tidak pernah terealisasi.
Denah Fort Oranje dan fungsi bangunan.
Benteng Oranje dikenal dengan pertahanan yang kokoh oleh musuh. Posisi yang sangat strategis, banyaknya serdadu dan fasilitas perang yang memadai. Oleh Valentijn (1724), menyebutkan bahwa di dalam benteng Oranje terdapat 38 mariam, 40 serdadu Belanda, dan 100 orang serdadu dari Pampang, Manila (Francois, 1724:11). Selain itu didalam benteng Oranje ini, juga terdapat jenis amunisi dan makanan diantaranya:  

1)   17.735 pon mesiu 
2)   8.390 peluru Mariam dengan ukuran 7000 pon
3)   278 senjata laras panjang
4)   112 buah senjata laras panjang yang mengalami rusak ringan
5)   68 buah senjata ralar panjang yang tidak dapat diperbaiki
6)   24 buah senjata api genggaman (laras pendek)
7)   92 buah helmet
8)   3000 pon timah
9)   66 pucuk tombak
10)  11 buah kapak
11)  21 kelewang
12)  14 baju pelindung 173 pedang
13)  47 ton daging dan lemak
14)  6 peti anggur Spanjol
15)  9 peti arak
16)  120 karung tepung
17)  3 ton mentega
18)  14 ton minyak goring
19)  4 peti cuka
20)  5 karung garam 
21)  250 ekor sapi (Ujon, dkk,2014:14-15).

Benteng ini juga pernah terdapat orang Mestizos yaitu nama yang diberikan  oleh orang Melayu untuk orang Kristen keturunan Portugis, yang berbicara menggunakan bahasa Melayu. Setelah keberadaan VOC di Ternate,  sebagian besar orang Mastizos  beralih ke agama Kristen Protestan yang dibawakan oleh orang Belanda dan membuat pemukiman Fala Sarani (kampung Nasrani) atau dikenal dengan kampung Eropa yang berdampingan dengan kampung Santiong. Di Benteng ini jugalah pertama kali perayaan Natal, Tahun Baru,  Festa  (pesta)  music, dangsa, dan memperkenalkan budaya mengkonsumsi minuman beralkohol (Wallace, 1871:21; Andaya, 1993: 133).


Di Oranje ini lah rumah sakit pertama kali di Nusantara yang dibuangun untuk melayani para orang Belanda, dan bangsawan Ternate. Rumah sakit tersebut dibangun tahun 1711 (Peter ,1993: 85-90). Namun seiring waktu berjalan, kejayaan benteng Oranje berakhir dan jatuh ke tangan Ingrris pada 21 Juni 1801(Schutte, 1994: 173). Ketika Sultan Pelembang Machmud Badarudin II (Raden Hasan) diasingkan ke Ternate oleh Belanda, pada bulan Juli 1821. Juga menempati salah satu penjara hingga beliau wafat pada 26 Nopember 1852 dan dikebumikan di Ternate.

Share:
Komentar

Terkini