Cerita Orang Banjarmasin di Tomalou, Tidore

Editor: Irfan Ahmad author photo
Makam Leluhur Al-Banjar di Tomalou, Tidore. Foto: Koleksi Maluku Utara Tempo Doleloe.
Tomalou merupakan salah satu kelurahan di wilayah Kota Tidore Kepulauan. Dahulu, orang Tomalou dalam struktur kesultanan Tidore bertugas sebagai pemasok ikan untuk kebutuhan sultan dan keluarga sultan. Struktur pembagian kerja ini diakui oleh masyarakat Tomalou yang berorientasi hidup sebagai nelayan. Inilah kenapa orang Tomalou dikenal sebagai pelaut ulung dan profesional berabad-abad lamanya. Baca juga: https://www.cengkeh.co/2020/01/sejarah-kampung-nelayan-tomalou.html

Tinggal di pesisir pantai dan berprofesi sebagai nelayan (dahulu) sehingga orang Tomalou pada umumnya lebih bersifat terbuka menerima “para pendatang”. Sebagai nelayan dan sering berpergian ke pulau-pulau lainnya untuk berburu ikan, menyebabkan kampung Tomalou, secara struktur dihuni oleh masyarakat yang heterogen yaitu beragam suku, etnis, agama dan budaya. Karena struktur masyarakat pesisir sangat plural, sehingga mampu membentuk sistem dan nilai budaya yang merupakan akulturasi budaya dari masing-masing komponen yang membentuk struktur masyarakatnya. Itulah kenapa orang dari Banjarmasin dan Banda juga berada di Tomalou. Baca juga: https://www.cengkeh.co/2020/01/toponim-tomalou.html

Kedatangan Orang Banjarmasin di Tomalou
Kisah tentang kedatangan orang Banjarmasin di Tomalou diakui oleh orang Tomaou. Dalam tradisi tutur dikisahkan bahwa “suatu saat ketika orang Tomalou pulang mangael ikan. Terlihat dari jauh sebuah perahu yang datang berlayar menuju pantai Tomalou. Dari atas perahu itu, dilihatnya beberapa orang turun. Karena belum mengetahui maksud dan tujuan kedatangan orang-orang itu, orang-orang asli ini kemudian mengintip dari balik semak-semak untuk mengawasi dan mencari tahu maksud kedatangan mereka. Pada tanah tempat di mana mereka mengintip orang baru tersebut, kini dikenal dengan tanah falilah atau tanah hoba, yang bermakna “tanah tempat mengintip” (Andi Sumar Karman, 2013:95).

Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa orang yang baru datang ke kampung tersebut diketahui sebagai penyebar agama Islam yang hendak memperkenalkan dan menyiarkan agama Islam untuk pertama kalinya di Tomalou pada khususnya, dan di wilayah Tidore pada umumnya. Para penyiar agama Islam ini konon berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jejak kedatangan penyiar agama Islam pertama ini dapat dijumpai pada garis keturunan orang Tomalou saat ini yang termasuk dalam marga Albanjar (Al-Banjari), asal kata dari “Banjarmasin”. Mereka juga sempat mendirikan masjid di Tomalou yang sampai saat ini dikenal sebagai masjid tua. Penduduk Tomalou dari marga Al-Banjar saat ini dipercaya sebagai keturunan dari para penyiar Islam tersebut” (Ibid).

Cerita di atas tidak mengisahkan tentang kehebatan nelayan Tomalou, melainkan pada ajaran agama Islam. Pertanyaanya mengapa harus di Tomalou? Oleh Tauhid Usman (2010;85-86) “Masyarakat Tidore di Tomalou mulai mengenal agama Islam sejak kedatangan seorang Syech yang berasal dari Banjarmasin yakni Syech Al-Mukarram Al-Banjari, yang dikenal saat ini dengan nama Al-Banjar. Menurut salah satu warga yang juga turunan Albanjari menjelaskan bahwa Kelurahan Tomalou pada abad ke-17 belum ada yang memeluk agama Islam. Sehingga kedatangan Syech Almukkaram Al-Banjari mengajak warga yang belum menganut agama Islam dengan santun serta menggunakan media “Taji Besi” sebagai daya tarik yang kuat bagi masyarakat Tidore yang bermukim di Tomalou”. 

Berprilaku santun dan rendah hati oleh rombongan Al-Banjari di Tomalou, akhirnya mereka diterima dan cepat berbaur dengan penduduk setempat. Seperti yang dituturkan oleh Udin Wahid Albanjar, salah seorang keturunan Syech Al-Banjari bahwa “Syech Almukarram Al-Banjari dikenal sebagai seorang Syech yang memiliki ilmu agama yang paling tinggi, ini karena ia mampu untuk menunjukkan syariat-syariat Islam sesuai dengan tuntutan ajaran agama, seperti mengucapkan salam saat bertemu dengan setiap warga. Selain itu, Syech Almukaram Al-Banjari juga mampu membacakan ayat suci Al Qur’an dengan suara yang merdu sehingga menarik simpatik bagi masyarakat untuk mengikuti ajaran Islam. Syech Al-Banjari juga dikenal sebagai seorang imam mesjid yang baik menurut penilaian penduduk Tomalou” (Ibid). 

Untuk menarik perhatian masyarakat, salah satu strategi yang dipakai adalah dengan media tarian dabus. Al-Banjari menggunakan Dabus sebagai media dalam menyiarkan Islam bagi penduduk Tidore di Tomalou. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Syech Al-Banjari untuk memperkenalkan permainan Dabus atau yang lebih akrab di sebut Taji Besi oleh penduduk Tidore. Bacaan doa-doa ayat suci Al Qur’an serta menggunakan besi runcing, kemudian di tusuk ke dada, namun tidak pernah menembus dada. Media ini punya daya tarik tersendiri, apalagi pada saat itu kekebalan tubuh anggap sebagai pertahan diri yang cukup efektif terutama jika terjadi peperangan melawan Belanda.

Ritual Dabus atau yang lebih akrab disebut Taji Besi dikalangan masyarakat Tidore, merupakan kebudayaan Islam yang masuk bersamaan dengan Agama Islam dan ini merupakan media yang digunakan para mubalig dalam menyiarkan Islam di Tidore. Dalam pelaksanaan ritual Taji Besi, konteks yang tidak dipisahkan dari pelaksanaannya adalah ilmu tarekat. Sementara, filosofi dari tradisi Dabus pada masyarakat Tidore adalah kepasrahan kepada Sang Pencipta (Allah swt.) menyebabkan mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi bahaya seperti dilambanmgkan benda-benda tajam dan panas yang digunakan dalam tradisi. 

Langkah lebih lanjut yang dilakukan oleh Al-Banjari yakni dengan melakukan perkawinan dengan wanita setempat. Dalam strategi ini, Al-Banjari memilih marga yang berpengaruh secara struktur sosial terutama populasi yang banyak diantara semua marga. Wanita yang dipilih oleh Al-Banjari yakni wanita yang berasal dari marga Sero-sero yang bernama Halima. Perkawinan yang terjadi dengan wanita dari marga Sero-Sero ini membawa perobahan sosial bagi marga-marga lainnya. Islam pada akhirnya diterima secara massal dan prosesi untuk menggiring masyarakat menuju pemeluk Islam yang kafah berjalan dengan baik. 

Dalam perkawinannya ini juga dituturkan bahwa setelah menikah, Syech Al-Banjari meninggalkan Isterinya yang telah mengandung selama tiga bulan, ini dilakukan karena Syech Al- Banjari hendak kembali ke Kalimantan. Ketika Al-Banjari berangkat ia memberikan amanah kepada isterinya bahwa jika ia berangkat maka isterinya harus segera ke bukit yang tinggi untuk bisa melihat kepergiannya, karenanya istrinyapun turut mengikuti apa yang di sampaikan oleh Syech Al Banjari. Bukit dimana istri Al-Banjari berdiri hingga kini tetap diabadikan dengan nama bukit Salilah yang artinya melihat. Selain itu amanah yang disampaikan oleh Syech Al-Banjari bahwa ketika anak itu dilahirkan ke dunia, maka akan dikirimi kitab suci Al Qur’an dan nantinya disaat kitab suci ini dibuka pada suatu ketika maka ia akan menjadi seorang anak yang pandai mengaji (Tauhid, 2010;89).

Wujud dalam kemampuan membaca ayat-ayat suci Al- Qur’an dari keturunan Syech Al Banjari sampai saat ini masih tetap terjaga secara baik. Tradisi membaca Al-Qur’an diwariskan secara turun temurun. Kehadiran Syech Al-Banjari dan melakukan perkawinan dengan salah seorang wanita Tidore di Tomalou, maka terciptalah marga baru di Tomalou dengan nama marga Albanjar yang keturunannya hingga dewasa cukup populatif dan terposisikan sebagai marga penting dikelurahan Tomalou. 

Islam di Tidore
Bila benar Syech Almukarram Albanjari seperti yang diuraikan di atas. Mungkin ada kekeliruan dalam menarasikan tradisi tutur/lisan. Karena saat itu, masyarakat Tidore telah menganut agama Islam sejak Sultan Syahjat  Muhammad  Nakil duduk di tapuk kepemimpinan di Tidore pada 12  Rabiulawal  tahun  502  Hijriyah (Irfan, 2019;2-24). Dengan tampilnya  Syahjat  Muhammad  Nakil, ia mulai memposisikan Islam  pada  posisi  teratas,  walaupun  syariat-syariat Islam  juga belum  dapat  dijalankan  secara  utuh  dan  baik karena persoalan politik masa lalu yang begitu ruwet antara Tidore dan Ternate. Meskipun demikian agama Islam saat itu telah mengakar di dua kerajaan tersebut.

Bahkan jauh sebelum Sultan Syahjat  Muhammad  Nakil naik takhta. M.S.Putuhena (1970 : 264) “Berdasarkan tradisi lisan setempat bahwa pada akhir abad ke-2 Hijriah telah tiba di Maluku Utara empat orang syeh dari Irak (Persia). Kedatangan mereka dikaitkan dengan pergolakan politik di Irak yang mengakibatkan golongan Syiah dikejar-kejar oleh penguasa, baik bani Umaiyah maupun bani Abasiyah. Keempat orang yang membawa faham syiah itu lalu pergi menyelamatkan diri menuju ke dunia Timur dan akhirnya tiba di Maluku Utara. Mereka itu adalah Syeh Mansur yang mengajarkan agama Islam Di Ternate dan Halmahera Muka. Selanjutnya disebutkan bahwa setelah meninggal Ia dikuburkan di puncak Gamala Ternate. Kemudian Syeh Yakub mengajarkan agama Islam di Tidore dan Makian, dan setelah meninggal dikuburkan di puncak Kie Besi (gunung besi) di pulau Tidore. Sedangkan syeh Amin dan syeh Umar mengajarkan agama Islam di Halmahera Belakang, Maba, Patani dan sekitarnya. Kedua tokoh ini selanjutnya kembali ke Irak (Baca juga, Usman Talib, Sejarah Masuknya Islam di Maluku. Diterbitkan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2011:20).

Hemat saya, kedatangan Syech Almukkaram Al-Banjari ke Tomalou bukan pada penyebaran agama Islam. Melainkan pengenalan terhadap amalan tarekat dan menjalankan propaganda melawan penjajah Belanda dengan cara berdakwah di wilayah Kesultanan Tidore termasuk di Tomalou.

Marga Albanjari pertama kali digunakan di Kalimantan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812) atau kerap dikenal dengan sebutan Datuk Pelampayan merupakan seorang ulama terkenal dan kharismatik.  Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai ulama Islam bermazhab Syafi’i yang mengarang kitab –kitab Fikih seperti Sabilal Muhtadin yang kemudian dijadikan kitab Fikih rujukan umat Islam di Asia Tenggara. Dia juga pernah mengabdi sebagai mufti atau ketua para ulama di Kerajaan Banjar.

Beliau sangat disegani dan dikenal di Kalimantan. Semasa konflik dengan Belanda ulama-ulama tersebut juga menentang Belanda, meskipun pada akhirnya pihak Kerajaan Banjar tidak mampu mengalahkan Belanda (Choirul Rofiq, 2019;378), sekalipun peperangan juga pernah di pimpin oleh Pangeran Antasari yang terjadi pada 1859. Mungkin saja, faktor inilah sebagian ulama keluar dari Kalimantan untuk mencari dukungan menentang Belanda hingga sampai di Tidore.

Pada periodesai Syech Muhammad Al-Banjari bila disandingkan dengan dinamikan politik di Tidore waktu itu, bertepatan dengan berkuasanya sultan Tidore, Hasanuddin atau Garcia (1708-1728). Semasa kepemimpinan sultan Hasanuddin juga melakukan perlawanan terhadap Belanda yang monopoli perdagangan rempah-rempah. 

Sayangnya peristiwa bersejarah kedatangan Syech Almukkaram Al-Banjari di Tomalou, luput dari penulisan sejarah lokal dan sebagian besar mengandalkan tradisi tutur serta memiliki unsur foso yang menyebabkan tidak semua orang yang mengetahuai dapat bertutur. Bahkan kemungkinan besar dalam “buku tembaga” milik kesultanan Tidore—pun tidak akan ditemuakan karena telah dimakan rayab. Lantas bagaimana dengan lefo keluarga/marga yang dimiliki apakah para peneliti diberikan akses untuk membaca lefo tersebut? Untuk mengetahui soapakah Al-Banjar yang dimaksud, apakah Albanjar ini mungkin di nasabkan ke Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari. Seorang aulia dari Martapura. Atau anak-anak dari Syeikh Al-Banjari yakni, Jamaludin Al-Banjari atau, Abu Na'im Al-Banjari, Abu suud A-Banjari, Manan Al-Banjari atau Syahab Al-Banjari. Wallahu Alam Bishawab.









Share:
Komentar

Terkini