Kampung Ternate di Negara Tetangga

Editor: Irfan Ahmad author photo
Kampung Ternate yang terdapat di provinsi Cavite, Filipina
Ide untuk menulis tema ini, berawal dari diskusi oleh penulis dengan beberapa orang teman memlalui media social (facebook) yang tidak sengaja membahas tentang “Pesebaran orang Ternate”, beberapa waktu yang lalu. Sehingga dalam tulisan ini, penulis sedikit menyentil keberadaan atau pengunaan nama  Ternate yang sering kita temui dibeberapa wilayah diluar pulau Ternate (nama asal) khususnya nama Ternate yang terdapat di Negara Filipina.

Nama Ternate tidak lagi asing di telingga pembaca pada umumnya di Maluku Utara, bahkan ke manca negara sekalipun. Sudah tentu hal ini tidak terlepas dengan peran Ternate dalam perdagangan beberapa abad yang lalu. Serta sebagai salah satu kerajaan yang memiliki wilayah ekspansi yang begitu luas. Bahkan di masa kejayaan Sultan Baabullah Datu Syah (1570-1583), kerajaan Ternate dikenal sebagai salah satu kerajaan yang menaklukkan 92 pulau (ada yang menyebutkan penguasa 72 pulau), dan secara heroik berhasil mengusir kaum penjajah Portugis keluar dari Maluku (baca juga Valentijn, 1724).

Oleh karena itu, nama Ternate tidak hanya ditemui di Maluku Utara yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah. Akan tetapi, nama Ternate juga merupakan salah satu desa/kampung yang ada di Kec. Alor Barat Laut, kabupaten Alor provinsi Nusa Tenggara Timur, selain itu nama Ternate juga bisa kita temui di Manado yaitu kampung Ternate Baru. Pengunaan nama Ternate di luar pulau Ternate, sudah tentu meliki sejarahnya sendiri dan tidak terlepas dengan masa ke-emasan kerajaan Ternate. Pengunaan nama Ternate juga bisa kita temui disalah satu negara tetangga yaitu Filipina, menariknya nama kampung tersebut dalam catatan sejarah terungkap bahwa nama kampung Ternate adalah berasal dari pulua Ternate yang dikenal sebagai salah satu Kerajaan Islam di Nusantara. 

Nama kampung Ternate yang terdapat di provinsi Cavite-Filipina, asal mula didirikan oleh orang-orang “Mardica” yakni salah satu puak Melayu yang berasal dari pulau Ternate yang dibawa oleh orang Spanyol ke Filipina untuk melawan bajak laut  Limahong dari dari Tiongkok, meskipun ancaman ini tidak terbukti (baca juga bajak laut Limahong). Orang “Mardica atau Mardjiker” adalah masyarakat kristen Portugis yang bermukim disekeliling benteng Portugis maupun benteng Melayu (kemudian orang Belanda menamakan benteng Oranje). Kemudian yang harus ditekankan adalah bahwa kaum “Mardica” atau belakangan dikenal dengan orang Mestizos tidak hanya terkait dengan agama Kristen Katolik (Portugis), tetapi juga pada wilayah, bahasa dan pakaian.

Di pulau Ternate sejak kedatangan orang Eropa  dan tepatnya di awal abad ke-17 telah didapati satu komunitas baru yang dinamakan Kristen pribumi “Mestizos” atau biasa disebut orang “Eropa kulit hitam” yang mencangkup seluruh orang pribumi yang beragama Kristen Katolik dan kebudayaan yang mengikuti pola budaya orang Eropa (Portugis, Spanyol, dan juga disebutkan Belanda). Orang “Mestizos” adalah nama yang diberikan oleh orang Melayu untuk orang kristen Portugis yang berbicara/komunikasi mengunakan bahasa Melayu (bandingakn juga dengan karya, Andaya, 1993; Wallace, 1871). 

Pada umumnya orang-orang “Mestizos” mendiami/bermukim di sekitar benteng Portugis dan Spayol yang terdapat di Ternate dan Tidore. Ketika benteng Portugis di Ternate dan Tidore jatuh pada Belanda pada tahun 1605, Belanda mengirimkan orang-orang “Mestizos”/Kristen pribumi bersama dengan orang Portugis menuju Manila, dan kembali ke Maluku pada tahun 1606 bersama dengan orang Spanyol. (Fraassen,1987). Sehingga Masyarakat Kristen Spanyol di Ternate dari tahun 1606-1663 hampir seluruhnya adalah berasal dari penduduk pribumi (Maluku). Pada kenyataannya orang Spanyol juga membawa serta orang-orang Pampango atau orang Pampang dimana mereka merupakan masyarakat bebas dari daerah sebelah utara Manila yang telah dibabtis dan merdeka kemudian bermukim di wilayah “Gam-La-Mo”. Masyarakat kristen pribumi pada kategori ini secara keseluruan akan mencangkup  orang “Mestizos, Mardica, Inlandse Cristenen dan orang Pampang. 

Berdasarkan laporan kunjungan Pendeta Gellius Cammiga, Gereja yang ada di Ternate jumlahnya sangat sedikit. Akan tetapi, belakangan masyarakat pribumi (Maluku) pada abad XVII tertarik untuk konversi ke agama Katolik semakin meningkat sehingga ia harus bertanggungjawab terhadap umat tersebut. Mereka yang berada di bawah pengaruh para pastur Katolik saat itu, mendapat perhatian serius dari orang Portugis dan Spanyol. Dalam berbagai hal mereka sering dilibatkan, proses politik, berpakaian, makan dan mengkunsumsi minuman keras yang meniru orang Eropa dan hal tersebut diharuskan untuk mengenalkan pola hidup orang dan terkadang mereka merasa bangga dengan apa yang mereka dapatkan dari agama baru yang mereka anut (Niemeijer, 2002).


Katika kekuasaan Spanyol jatuh, orang-orang kristen pribumi bersama “Mestizon” dan lain-lain yang telah disebutkan di atas, ikut pergi meninggalkan pulau Ternate dan Tidore menuju Manila (Wessels, 1935).  Sementara masyarakat Kristen pribumi yang tidak bepergian dengan orang Spanjol menuju Manila, tampaknya mereka konversi masuk ke agama Islam dan menikahi wanita-wanita Ternate (pribumi). Oleh Fraassen (1987) pada saat orang Spanyol meninggalkan Ternate pada tahun 1663 terdapar sekitar 200 orang kristen pribumi ikut serta menuju Manila. Sejak saat itu masyarakat yang ikutserta pergi menuju Manila, membuat perkampungan baru yang berada di dekat Cavite sebelah selatan pantai Manila yang dinamakan kampung Ternate yang berasal dari kristen pribumi (Maluku) yang kemudian dikenal sebagai Caviteno atau Tarnateno Chavacano. 
Share:
Komentar

Terkini