Magellan City Tour

Editor: Irfan Ahmad author photo
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Tidore Kepulauan, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, menggelar rapat untuk mendiskusikan Ekspedisi Magellan. Kuat keinginan Pemkot Tidore Kepulauan untuk menjadi tuan rumah peringatan momen bersejarah itu. Tidore adalah salah satu kesultanan yang pernah berjaya di Maluku Utara (Malocu). Tidak hanya keheroikan Kerajaan Tidore masa lalu, kisah-kisah Tidore juga dilantunkan dengan irama tentang kesantunan masyarakatnya, kebudayaan, dan kekayaan alam nan melimpah. 
Suasana rapat berama Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan dan Staf Ahli Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun Ternate, 2017. 

Camoes (1572) menulis:“Lihatlah pulau-pulau itu, terhampar di laut timur, Tidore dan Ternate, kau akan melihat pohon cengkih yang dibeli dengan darah bangsa Portugis.” Keramahan dan kesantunan masyarakat pulau ini masih terasa ketika kami yang mewakili Fakultas Ilmu Budaya Unkhair diundang dalam pertemuan oleh Dinas Pariwisata Tidore Kepulauan. Agenda utamanya adalah mendiskusikan ekspedisi Magellan, suatu agenda besar yang direncanakan akan melibatkan 17 negara untuk datang ke pulau Tidore nantinya. 

Sudah menjadi tradisi lama, bahwa para pelancong modern yang tertarik menjelajari kawasan Timur Indonesia. Bukti tentang hal ini dapat dijumpai dalam berbagai catatan dan sumber-sumber sejarah. Dari sana pula diketahui bahwa selama hampir 500 tahun bangsa Eropa telah menyinggahi daerah ini dengan romantisme seputar kepulauan rempah-rempah. Menyadari semua itu, didorong semangat dan keinginan yang kuat, Pemerintah Kota Tidore hendak melakukan kajian ilmiah sejarah lokal dan ragamnya budaya Tidore. Rencana itu patut diberikan apresiasi. 

Membaca kembali sejarah Maluku, kita pada betapa penting negeri ini di masa lalu. Wilayah yang misterius dan diminati berbagai kalangan bangsawan di Arab, Cina, Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda, dikunjungi para pelancong untuk melakukan barter dan jual beli rempah-rempah (cengkih) dengan penduduk pribumi. Kemisteriusan kepulauan rempah-rempah yang berada paling jauh ke timur ini, membuat berbagai bangsawan di Portugis dan Spanyol berspekulasi dengan “Dunia Timur”. Maluku yang ditumbuhi pohon cengkih awalnya hanya terdapat di beberapa pulau kecil. Lokasinya sangat terisolasi. Ia sulit dijangkau oleh mereka yang melakukan ekspedisi waktu itu. Sebab kemisteriusan ini pula, membuat para pakar kosmografi sibuk berspekulasi. Berbagai laporan dan rumor yang muncul mengisahkan tentang jarak tempuh ke timur menuju kepulauan rempah-rempah. Tentu saja dengan nada spekulatif.

Magellan dan Kesultanan Tidore
Pentingnya pencarian kepulauan rempah-rempah mempengaruhi Perjanjian Tordesillas (1494), oleh Paus Alexsander VI membagi dunia menjadi dua bagian. Bagian barat untuk Spanyol dan bagian timur untuk Portugal. Dalam pembagian itu, Maluku yang semula adalah wilayah Portugal, tetapi Spanyol berhasil mengatasi permasalahan itu dengan mengubah peta laut dan memposisikan Maluku lebih pada wilayah barat dan mengklaim wilayah Spanyol (Bartels,  2017: 543). 


Orang Eropa memiliki mitologi bahwa di suatu tempat terdapat “dunia patristic” yang diperkuat dengan teori mengenai bumi yang datar, Yerusalem berada di pusat dan surga dunia bertempat di Timur. Abad pertengahan dan masa renaisans, beberapa orang Eropa yang tergiur mengenai wilayah “Timur” melakukan perjalanan panjang untuk menemukan kepulauan rempah-rempah. Seperti Columbus yang diutus mencari rute barat kemudian sampai di benua Amerika, sementara Ferdinand Mangellan yakin dapat mencapai timur dengan pelayarannya dari barat. 
 
Rute Ekspedisi Magellan
Magellan lahir di Sabrosa, Portugal Utara, 1480. Mangellan tergolong sebagai navigasi yang paling berani sepanjang masa, pelayan Magellan merupakan tonggak sejarah dunia yang agung dan telah kekal dalam sejarah dunia. Ia adalah orang pertama yang mencapai Maluku pada 1512 (Andaya, 1993). Setelah kembali ke Portugal (Portugis), Magellan merasa kecewa dengan Raja Manuel. Semua usaha untuk mencari dukungan bagi rencananya berakhir dengan kegagalan. Mungkin karena merasa tersinggung dengan tidak mendapatkan dana untuk ekspedisi selanjutnya untuk kembali lagi ke pulau rempah-rempah. Terbebas dari jeratan intrik politik Portugis, Magellan pun menuju Spanyol. Ia tidak mengindahkan protes keras dari Kerajaan Portugis. Selanjutnya,  ia malah mendapatkan dukungan dari Kerajaan Spanyol untuk ekspedisi kedua kali yang akan dilakukannya demi kembali ke kepuluan rempah-rempah (Turner, 2005: 34).

Sebuah buku yang berjudul “Perche Sono Diventati Famosi: Magellan”, menjelaskan bahwa Magellan hijrah ke Spanyol dan menghadap Raja Carlos I. Setelah menyatakan maksudnya kepada raja, ia akhirnya mendapatkan sokongan untuk mewujudkan impiannya tsb, yang semula dilatari oleh kekecewaannya kepada Portugal. Sokongan itu ditunjukkan Raja Carlos dengan mempertaruhkan uang senilai L. 4. 800,- untuk ekspedisi yang direncakan Magellan. Sejumlah dana yang cukup besar itu, seperti diungkap Hanna (1996: 17) konon  sanggup membeli kapal, memperbaiki, melengkapi, mempersenjatai sebuah armada yang terdiri dari lima kapal serta perlengkapan hidup selama perjalanan maupun muatan dagangan pada masa itu. Sebanyak 280 awak kapal yang menumpangi kapal San Antonio, Santiago, Trinidad, Victoria, dan Concepcion, Magellan berangkat dari Seville dengan lima kapal pada 10 Agustus 1519. 

Dalam pelayaran panjang untuk kembali menemukan wilayah di mana cengkih itu berasal, berentetan peristiwa mencekam dialami. Dari lima kapal yang diberangkatkan, hanya tersisa tiga kapal yang masing-masing dinahkodai oleh Luis de Mendoza, Juan de Cartagena, dan Gaspar de Quesada. Dari ketiga kapal itu, tersisa sebanyak 108 orang awak. Dalam perjalanan selanjutnya, mereka kembali meninggalkan (membakar) satu kapal. Mereka tidak berani menjalankan tiga kapal sebab lautan kian ganas dan angin bertiup semakin kencang (Galvao, 1544:203).

Setelah melampaui banyak hambatan dan rintangan sepanjang pelayaran, akhirnya mereka mencapai kepulauan Maluku pada hari Jumat, 8 November 1521. Beberapa jam sebelum matahari terbenam, awak kapal membuang sahu  yang berjarak 200 braza (1 braza = 5, 48 kaki) di tanjung Marecu (saat ini kampung Rum), pulau Tidore.  Keesokan harinya Sultan Almansur, menggunakan sebuah perahu mendatangi kapal itu. Dikisahkan, sultan menggunakan jubah kuning buatan Turki ketika itu. Bersama anak lelakinya, sultan menaiki kapal. Ia membawa sebuah tongkat kerajaan, dua orang pembawa guci emas (tempat air sultan) dan dua orang membawakan tempat sirih-pinang. Sesampainya di kapal, sultan berkata, “saya telah bermimpi akan datang beberapa kapal di Malucho dari tempat yang jauh, dan untuk mendapat kepastian itu, saya telah menatap ke bulan dan melihat-kapal-kapal itu datang.” Setelah orang Eropa yang berada di atas kapal mencium tangan sultan sebagai bentuk penghormatan, sultan berseru: “Saya bersama rakyat Tidore menyambut baik kedatangan tuan-tuan, dan sejak saat ini pula Tidore dinamakan Castiglia (Hanna, 1996; 18-19).

Selama berada di Pulau Tidore, orang Spanyol mengumpulkan cengkih dari hasil pembelian. Mereka kembali melakukan perjalanan pada tanggal 22 Desember 1521 menuju Spanyol dengan menggunakan kapal Victoria. Di atas kapal terdapat sejumlah 17 awak. Dalam melakukan perjalanan yang panjang, tibalah kapal Spanyol pertama kalinya yang mengangkut cengkih dari Tidore. Kapal mereka tiba di pelabuhan San Lucar de Barrameda pada tanggal 6 September 1522. Muatan cengkih dari Tidore itu dihargai dengan harga f. 5.100 dengan keuntungan yang sangat besar dari harapan yang sudah lama dilupakan pemilik modal karena menganggap ekspedisi Magellan gagal (Hanna, 1996: 25) dalam upayanya mengelilingi dunia dan membuktikan bahwa dunia ini bulat. Di kalangan sejarawan Eropa sendiri, ekspedisi Magellan masih kontroversial. Ada yang masih meragukan tentang sampai tidaknya Magellan ke Pulau Tidore dalam ekspedisinya itu. 

Magellan City Tour
Kesultanan Tidore memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang melimpah. Tidak hanya di tingkat lokal, melainkan merambah hingga tingkat global. Gelaran peringatan Ekspedisi Magellan merupakan ‘event’ yang melibatkan 17 negara, semuanya merupakan negara-negara yang pernah disinggahi Magellan selama ekspedisi.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tidore Kepulauan, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, menyatakan diri akan terlibat langsung dalam ‘event’ bergengsi bertaraf internasional itu. Konsep-konsep didiskusikan. Gagasan-gagasan, baik teknis maupun substansi, dimatangkan. Para stakeholders dirangkul, diajak bertukar pandangan dan wawasan.

Jika “Magellan City Tour” benar-benar bisa diwujudkan, pemerintah dan masyarakat Kota Tidore Kepulauan boleh berharap banyak. Dampak ikutan, terutama di bidang pariwisata, semoga bisa dituai. Kita tahu, potensi wisata sejarah, budaya, dan alam daerah ini melimpah. Paling akhir, tentu saja diharapkan dampak ekonomi bagi masyarakat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan mereka.


Rencana Pemkot Tidore Kepulauan ini sesungguhnya tidak benar-benar baru. Sebelumnya, sudah pernah ada tim yang dibentuk untuk menelusuri sejarah ekspedisi Magellan ke Tidore. Sayangnya, tim itu tidak menyumbangkan banyak data terkait tugas yang diembannya. Kali ini, Pemkot tampaknya benar-benar serius. Setidaknya begitu kesan saya sebagai ‘stakeholder’ dari unsur perguruan tinggi. Secara akademik, kami tentu sangat mendukung rencana kegiatan itu. 


Share:
Komentar

Terkini