Orang Cina di Ternate

Editor: Irfan Ahmad author photo
Orang China (Cina) dalam sejarah Nusantara (Indonesia) acap kali kita dengan sebagai pedagang yang memeran penting perekonomian Indonesia, bahkan saat ini banyak kita jumpai di berbagai dunia perdagangan dan usaha perbankkan. Tidaklah mengherankan kalau saat ini orang-orang Cina hampir menguasai tulang punggung kehidupan Indonesia. Jika 2.000 tahun yang lalu Roma adalah kekuatan yang paling dominan di Barat, maka Cina adalah salah satu bangsa yang tidak terbantahkan kekuatannya di bagian Timur. (Cribb & Kahin,  2012).
Rute pelayaran orang China ke Moloku pada Abad XIV
Selain ketangguhannya dalam bidang politik, ekonomi, teknologi, industri, dagang, kebudayaan, literatur dan hampir di segala bidang. Sejarah kelautan Cina berkubang dalam teka-teki serta rasa ingin tahu, dalam waktu singkat Cina membuat beberapa kapal besar yang pernah berlayar mengarungi kelautan dunia-bidang yang mempunyai pengaruh langsung dalam perkembangan politik di Asia Tenggara. 

Meskipun pelayaran yang dilakukan oleh orang Cina memakan waktu dan resiko yang sangat besar, akan tetapi hal ini dikaukan berkesinambungan hingga berakhirnya milenium. Hal inilah yang membuat pengetahuan tentang buah cengkih yang di kirim dari Moloku (Saat ini Maluku Utara) nun jauh di sana, telah diketahui oleh bangsa Cina. 


Dalam catatan sejarah jauh sebelum keberadaan bangsa asing (Arab, Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) tiba di Dunia Moloku telah tiba lebih awal orang Cina untuk melakukan perdagangan dan mencari keberadaan buah cengkih. Orang Cina menyebut buah cengkeh sangat bervariasi diantaranya;  cheng hui, chi-she hsiang (lidah ayam), ting hsiang (benda mirip jarum), Ting hsiang, chian che ghianche atau chanque (Donkin, 2003).  Pada saat itu orang Cina melakukan proses perdagangan dengan cara barter dengan orang Maluku yaitu dengan cara menukarkan buah cengkih dengan piring, mangkuh dan kain sutra buatan Cina. Selain istila barter orang Cina juga mengenalkan istilah fang untuk transaksi jual-beli (membayar) dan gina sebagai tempat menaruh barang untuk di balter pada waktu itu. (liat juga, Galvao’s, 1544).
Ranting cengkeh bersama buah yang telah matang. Sumber: Burnet, 2011. 
Dari sumber Cina, India, dan Romawi kita mengetahui bahwa sejak paruh kedua millennium pertama sebelum masehi cengkih diperdagangkan di ‘pasar dunia’. Kemudian pada abad ke III SM cengkih telah dikenal di Cina. Juga dalam epos India Ramayana, yang tertanggal sekitar tahun 200 SM, cengkih disebutkan dan dalam sebuah sumber India dari abad I SM diberitakan cengkih dibuat sebagai pengobatan. Pada tahun 70 M, Plinius menyebutkan cengkih dan sejak saat itu ada pemberitaan yang terus menerus di dalam sumber Cina, Arab, dan Eropa. (Fraassen, 1987). Perdagangan rempah-rempah tercatat sejak abad ke VII  atau 618-906 Masehi pada  periode Dinasti T’ang di Cina bahkan  sebelum  era  Kristus.  Perdagangan  ini  dengan  sendirinya  membuka  jalur perjalanan  ke  Maluku. Periode  Dinasti  T’ang  adalah periode dimana Cina membuka diri untuk perdagangan global dan mengembangkan doktrin Tiongkok/Zhong-Guo atau  kekaisaran  tengah,  Cina  adalah  sentral  peradaban  dunia. (Syaiful Bahri Ruray, 2010).


Dapat dikatakan perkenalan suku bangsa yang berada di Nusantara dengan manca negara  berawal  dari  pulau-pulau  penghasil  rempah-rempah yang dinamakan Maluku. Perdagangan rempah-rempah tercatat sejak abad ke VII  atau 618-906 Masehi pada  periode Dinasti T’ang di Cina bahkan  sebelum  era  Kristus.  Perdagangan  ini  dengan  sendirinya  membuka  jalur perjalanan  ke  Maluku. Melalui ahli-ahli geografi Cina pada masa Dinas T’ang (618-906) diketahui bahwa negeri penghasil rempah-rempah ternyata adalah Mi-li-ki, (juga disebutkan Ma-li-ku) dikenal sebagai negeri yang kaya. (P. Abdurrachman, 2008). Pada  Era Dinas T’ang, Maluku pun  menjadi titik sentral perdagangan dan mulai didatangi oleh para pelaut Cina, Arab, Melayu dan  Jawa.  Karena  dari  kepulauan  inilah  cengkih  dan  pala  berasal.
Kepulauan Rempah-Rempah (Ternate, Tidore, Moti dan Makeang) dahulu disebut sebagai Moloku Kie Raha atau
Maluku Empat Pulau.
Letak atau pulau penghasil rempah-rempah (cenkih) menjadi sangat rahasia dan semua pedagang dari berbagai bangsa saat itu berlomba untuk menemukan pulau Maluku. Oleh karena itu, selain penamaan buah cengkih yang sangat bervariasi juga dijumpaui untuk penyebutan Malaku bagi orang Cina. Penamaan ini suda tentu keberadaan atau kedatangan orang Cina ke Maluku terdapat dalam beberapa gelombang. Nama Maluku, oleh pedagang Cina sebagai disebut Mi-li-ki atau Ma-li-ku pada periode Dinasti T’ang (618-906). Masa Pemerintahan Dinasti Yuan (1300-1368) melalui beberapa sumber Cina, penyebutan “Mi-li-ki” disebutkan dengan sejumlah istilah. Oleh, Zhufan zhi (1225), Maluku disebut “Wonugu”. Pada kitab Dade Nanhai zhi (1304) Maluku diistilahkan “Wenlugu”, pada periode Yuan (Yiyu zhi, abad ke XIV) menyebut Maluku sebagai “Dinxiang” artinya “negeri cangkeh”. Oleh Wenxian Tongkao (1339) Maluku disebut “Mawu zhou”. Sedangkan Daoyi zhileu (1350) Maluku disebut “Wenlaogu”. Sementara untuk pulau Tidore orang Cina menyebut Yixi atau Yiqi (Abd Rahman Hamid,  2013). Makeang  yaitu Wai-kiong, Bacan yaitu Bat-Chin, Jailolo yaitu Xgi-Lolo (Irfan, 2012) dan Sahu adalah Sa-hu (Irza A. Djafaar, 1990). Bahkan kedatangan orang Cina di Ternate dengan rombongan yang cukup banyak bersamaan dengan Sultan Badarudin (Palembang) inilah yang banyak menikahi orang pribumi Ternate dan membentuk pemukiman Kampung Makasar. Kampung Makasar adalah penamaan oleh orang Cina yang memeluk agama Islam dan terdapat sebuah Masjid yang bernama Lae Cim (Saat ini Masjid An-Nur). 
Sigi Lae Cim atau Masjid An-Nur yang saat ini burada di Kampung Makasar Timur.
Sementara orang Cina yang tidak menganut agama Islam dan mempertahankan tradisi perayaan Imlek membuat pemukiman yang dinamai kampung Cina dan sebuah tempat sembahyang (Klenteng). Kampung Cina berdampingan dengan benteng Oranje hingga ke Selatan berbatasan dengan kampung Palembang, dan arah Barat berbatasan dengan kampung Mestizos (kampung Sarani). Oleh de Clerq, pada abad ke XVIII perayaan Imlek dilakukan sangat meriah bila tiba waktunya, kampung Cina akan dibersihkan dan ditata dengan pernak-pernik Cina, dan bila malam tiba mereka akan melakukan festa (pesta) dan seringkali terdapat orang Mestizos yang merayakan dan menikmati minuman beralkohol. (de Clerq, 1890)

Nama-nama pulau yang telah namakan oleh orang Cina hilang seketika ketika Orang Arab mendiami Maluku. Orang-orang Arab pun menamakan pulau Maluku dengan sebutan “Mulluk” jamak dari bahasa Arab “Malik” yang berarti Raja. (Zahri, 1997). Dan menamakan deretan pulau-pulau di Maluku sebagai julukan Jazirah Al-Mamluk, yaitu kepulauan raja-raja, menunjuk pada empat kerajaan di zaman bahari yang sangat berpengaruh secara politis dan ketatanegaraan. (de Graaf, 1971). Dari apa yang telah ditulis Nagarakertagama oleh Mpu Prapanca, seorang jurutulis Majapahit yang hidup pada masa Pemerintahan Hayam Wuruk (1365 M), nama Maluku muncul dan menggunakan ejaan “Maloko” dimana ketika nama Maluku selalu dihubungkan dengan kata Arab. Oleh Fraassen, nama Maluku yang dicatat dalam Nagarakertagama sebagai "Maloko", diduga bahwa penulis Nagarakartagama telah mengadopsi nama itu dari para pedagang Arab yang melakukan kegiatan perniagaan di Nusantara kala itu. Hal yang sama juga terdapat pada orang Eropa dimana penyebutan untuk Maluku terdapat sebanyak 20 nama yang sangat bervariasi. 


Share:
Komentar

Terkini