Orang Taliabu

Editor: Irfan Ahmad author photo
Rumah orang Mange di Taliabu.
Penyebutan TaliaboëTaljabo atau Taliabu awalnya dipakai atau digunakan untuk menunjukan wilayah/geografis suatu kepulauan yang saat itu dihuni oleh sekelompok orang yang telah memeluk agama Islam. Mereka hidup di pesisir-pantai atas ajakan atau menjadi kaula sultan Ternatehal tersebut unutuk membuktikan bahwa wilayah tersebut telah dikuasai oleh kesultanan Ternate. 

Sekalipun pulau Taliabu takluk pada Kerajaan Ternate saat berkuasanya Raja Malomatsyaya, 1350-1357 (Syahril, 2004: 40). Nampaknya, kata Taliabu pertama kali ditemuakan dalam naskah Valentjn (1724), ketika Laporan Perjalanan Dinas Vereenigde Oost-Indische  Compagnie (VOCyang dilakukan oleh Prins Callamatta pada bulan Desember 1655 dengan mengunakan kapal Cajeli yang sempat menyingahi pulau Taliabu dan melaporkan bahwa di pesisir-pantai terdapat orang-orang Ambon dan Sula.
Toela-Eilanden Tahun 1941 (Hulstijn, 1918).
Bila laporan perjalanan Prins benar, mungkin saja ada kekeliruan dalam laporan Prins terkait dengan keberadaan orang Ambon di pesisir-pantai Taliabu. Karena pesisir-pantai  pulau Sula-Sanana, Magoli, Taliabu, dan pulau-pulau sekitar (Kepulauan Sula) awalnya dihuni oleh orang Sula, Buru, dan Seram. Ketiga sukubangsa tersebut memiliki bahasa yang mirip dengan dialek Ambon. Keberadaan orang Buru dan Seramdi Taliabu karena secara geografis kedua pulau tersebut lebih dekat dengan Kepulauan Sula. Jarak antara pulau Buru bagian timur dan Kepuluan Sula ± 60 mil.

Sejak Taliabu berada dalam taklukan Kesultanan Ternate, secara administrasi masuk dalam Karesidenan Ternate yang dibentuk berdasarkan 3 (tiga) wilayah kesultanan di Maluku, yaitu Ternate, Tidore, dan Bacan sejak abad ke XVII (de Clercq, 1890).


Pulau Taliabu merupakan salah satu wilayah penting  untuk  Karesidenan  Ternate,  cakupan  wilayah kepulauan yang membentang  luas dianggap  baik karena  pada  abad XIX wilayah tersebut merupakan sumber tenaga kerja dan pemasukan pajak bagi kesultanan Ternate yang cukup memadaiHasil alam yang berlimpah menyebabkan banyak orang Botun, Mandar, Bajo, dan beberapa sukubangsa yang mendiami wilayah Sulawesi  memilih wilayah Taliabu sebagai sasaran para nelayan karena wilayah ini selain mudah dijangkau, juga memiliki hasil hutan  dan laut yang berlimpah (Umar, 2009: 76).

Belum diketahui secara pasti apa arti dan asal usul penamaan Taliabu. Minimnya sumber sejarah yang diperoleh sehingga menyulitkan untuk diketahui. Namun, mitologi yang berkembang dalam masyarakat tentang penamaan Taliabu diperoleh melalui oral history. Dikisahkan bahwa nama Taliabu diambil dari kata Tali Dim Mbo (bahasa Kadai) artinya “ingat masa lalu”. 

Dikisahkan bahwa, pada zaman dahulu diadakan suatu acara “pesta” di Taliabu Selatan bertempat di Kawalu. Setelah acara selesai, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki pamit pulang terlebih dahulu. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang lelaki yang menggenggam sebuah belati. Lelaki yang diduga “orang gunung” kemudian memberikan sarung pisau kelapa ibu dan isi belati diberikan kepada anaknya. Selain itu, lelaki tersebut juga memberikan sebuah kelapa yang telah dibelah menjadi dua bagian, satu bagian (sebelah) diberikan kepada ibunya dan sebagian lagi diberikan kepada anak dengan harapan kelapa tersebut kelak bisa menjadi bekal untuk di makan. Setelah selesai memberikan, tiba-tiba suami atau ayah dari anak itu dibunuh oleh “orang gunung”. Melihat kejadian itu sang ibu dan anak berlari untuk menyelamatkan diri dan terpisah hingga tidak bertemu lagi. Diyakini sang ibu pergi ke wilayah Buton dan sang anak ke pulau Ternate dan menjadi penguasa (Kolano). Oleh karena itu, kata Tali Dim Mbo yang artinya “ingat masa lalu” adalah mengingat ikatan keluarga sebelum peristiwa yang dialami sang ayah dan dimakamkan di pulau Taliabu walaupun sang ibu telah berada di Buton dan sang anak berada di Ternate yang dipisahkan oleh lautan, harapan besar ikatan persaudaraan antara Taliabu, Ternate, dan Buton selalu terjalin dengan baik (Kristofel Kabanulu, 2016). 

Selain cerita di atas, adapula versi lain juga yang mengatakan bahwa cerita asalmu-asal nama Taliabu  merupakan gabungan kata tali dan bu. Jika bu dimaknai sebagai Buton, maka penggabungan kedua kata ini menjadi pertalian antara orang lokal dengan orang Buton. 

Orang lokal sering dimaknai sebagai orang Ternate karena wilayah tersebut merupakan bagian dari taklukan kesultanan Ternate. Sehingga kata “ta” dimaknai sebagai Tarnate (Ternate), maka Taliabu sering dimaknai sebagai “Pertalian anatara Kesultanan  Ternate dan Kesultanan Buton”. Hubungan antara orang Taliabu dan Buton sudah terjalin sejak lama.

Orang Buton meyakini bahwa dahulu seorang ratu Buton pertama, bernama Wa Ka Ka, merupakan orang kepercayaan Sultan Ternate, yang ditugaskan  oleh sultan ke Taliabu. Utusan ini pergi ke Taliabu bersama seorang saudara perempuannya. Setelah menetap beberapa lama di Pulau Taliabu, ia menyarankan adik perempuannya untuk merantau. Ia lalu pergi menuju ke suatu daerah yang terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Dalam perkembangannya, daerah itu selanjutnya dikenal sebagai Buton. Sang adik menjadi raja pertama di sana. Keduanya  saling berjanji agar kedepan masyarakat Taliabu dan Buton tetap menjalin hubungan yang baik dan tidak saling menyakiti satu sama lain (Rainannur, 2015: 36). 
Kampoeng Kaffa di Taliabu pada 1917.
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan pulau Taliabu dihuni oleh penduduk pribumi Maluku (utara) sejak kapan. Kepulauan Taliabu dalam loparan Pemerintah Kolonial Belandatelah dihuni oleh orang Sula, Buru, Seram, dan para nelayan yang berasal dari Tidore, Buton, Bajo, dan Mandar di pesisir-pantai. Sementara orang Alfur yang terdiri dari orang orang àdai’s, Mànge’s, dan Sëbojo’s (Kadai, Mange, dan Seboyo), M’bono, Samada, Talo, Biha, dan orang Noesa Sehu mendiami pedalaman Taliabu (Hulstijn: 1918). Sekalipun sebagain dari orang Kadai dan Seboyo terdapat di pesisir pantai. Pada saat sensus penduduk di Taliabu, tercatat 8 (delapan) distric, dan 34 (tiga puluh empat) kampung yang di awasi oleh Salahkan utusan dari Kesultanan Ternate (Boekhandel Visser1918).


Share:
Komentar

Terkini