Sekilas Tentang Kampoeng Cina di Ternate

Editor: Irfan Ahmad author photo
Kampoeng Cina di Ternate abad XIX. 
Kedatangan orang  Cina di Ternate
Memperbincangkan eksistensi orang China (Cina) di Nusantara (Indonesia), memang sangat menarik.  Salah satunya adalah etnis Cina di Ternate. Selain di Ternate, prang Cina juga tersebar dibebepa tempat diantaranya wilayah Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Semarang, Kalimantan, Aceh, dan Manado.

Pentingnya cengkeh membuat banyak para pedagang Cina menggunakan jung untuk datang membeli cengkeh dari Maluku dan memperdagangkannya di tempat-tempat lain. Orang Cina dikenal sebagai saudagar yang ulung dan tangguh. Ini dilakukan karena saat itu, harga cengkeh sangat mahal dan menjadi kebutuhan dan mengunyah cengkeh bagi orang Cina bila bertemu dengan raja. Selain itu, bentuk perkapal yang orang Cina telah maju dan berkat orang Melayu, saudagar  Cina lebih awal mengetahui jalur menuju kepulauan rempah-rempah (Ternate, Tidore, Moti, Makeang) ketimbang bangsa lain.

Dalam catatan sejarah, orang Cina melakukan kontak pertama kali dengan orang Maluku di masa Dinas T’ang, 618-906 (Paramita, 2008). Oleh karena itu, penyebutan Maluku dari saudagar Cina sangat bervariasi dari periode ke periode, diantaranya; Ma-li-ku, (618-906), Mi-li-ki (1300-1368), Wonugu (1225), (1304), Wenlugu, Dinxiang, Mawu zhou, (1339), dan Wenlaogu. Itulah kenapa penyebutan Maluku dan jalan menuju kepulauan rempah-rempah sangat dirahasiakan oleh para saudagar pada waktu itu. Ini terkait erat dengan harga cengkeh pada waktu itu (A. R. Hamid, 2013); Baca juga: https://www.cengkeh.co/2020/01/orang-china-di-moloku.html

Meskipun orang Cina telah melakukan kontak dagang saat itu. Mereka tidak langsung membuat pemukiman Cina, mereka hanya menempati gubuk sewahan di sekitar pelabuhan Talangame. Ini dilakukan untuk menunggu arah angin untuk berlayar kembali ke wilayah asal mereka dan pelabuhan-pelabuhan yang dianggap penting untuk melakukan transaksi cengkeh dengan saudagar lain yang membutuhkannya. 

Awalnya orang Cina yang datang ke Ternate hanya kepentingan berdagang. Setelah aktivitas jual-beli dilakukan, mereka kembali berlayar meninggalkan Ternate. Barulah di abad XVI sebagain orang Cina menetap di Ternate. Akan tetapi, pada saat itu belum terdapat perkampungan secara parmanen. Hal tersebut diakibatkan adanya “pemberontakan Cina” di Batavia pada 1740. Setelah peristiwa tersebut, sebagian besar orang-orang Cina di cekal dalam urusan dagang oleh pihak Verenigde  Oost  Indische  Compagnie (VOC)  dan berimbas sampai di Ternate. Dengan demikian, jumlah atau data orang Cina di Ternate pada abad XVII sangat sulit dikatahui jumlah mereka, selain hidup masih menyebar di sekitar Pelabuhan Talangame, Bastiong, sekitar benteng Oranje. Meskipun hidup tersebar di Ternate, orang Cina muda ditemukan di sekitar benteng oranje untuk melakukan transaksi jual-beli.
Sebaran pemukiman di seminar benteng Oranje. Gambar: de Graaf, 1743.
Terbentuknya Kampoeng Cina
Sejarah Kota Kolonial di Ternate atau disebut sebagai Kota Baru (penyebutan Kota Baru, karena ada Kota Lama yang di Sumpalo), yang berpusat di benteng Oranje, tidak terlepas dengan keberadaan orang Melayu, Cina, Arab, Makassar, dan Palembang. 

Pemukiman orang Cina di Ternate meskipun telah lama berkembang, baru diakui sejak abad XVII, pengakuan ini terkait dengan penarikan pajak yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan mulai menata pemukiman mereka, setelah pengakuan tentang orang Cina sebagai warga gubernemen.  Akan tetapi, menurut de Clercq (1890;19) pemukiman secara parmanen orang Cina baru terbentuk pada 1850 di bagian selatan benteng Oranje. Orang Cina yang hidup di Ternate punya relasi dengan para sultan, keluarga sultan, dan bangsawan Ternate. Mereka memiliki tanah yang cukup banyak. Oleh Wallace, (1870:8) di bagian selatan benteng Oranje, terdapat kampung Cina yang berbatasan dengan kampung Palembang, arah barat berbatasan dengan kampung Mestizos, Eropa atau dikenal dengan kampung Sarani. 
Klenteng di Ternate Abad XIX, Gambar: Koleksi Ahmaddeny Tuela.
Setelah terbentuknya pemukiman. Orang Cina mulai berdatangan ke Ternate dengan jumlah yang besar dan terjadi sebanyak dua kali. Pertama, pada 1822 bersamaan dengan orang Arab dan Sultan Palembang, Mahmud Badaruddin yang menjalani hukuman pengasingannya di Ternate (Adnan Amal, 2010:221). Dalam rombongan orang Cina saat itu, terdapat 5 (lima) marga Cina yang masih bertahan hingga saat ini. Marga tersebut adalah 1) Tjan Hoat Seng; 2) Tjan Tjok Seng; 3) Tjan Eng Hong; 4) Tjan Ban Seng; dan 5) Tjan Tjai Lo (Irza, 1990: 33). 

Kedua, pada  1854, setelah pelabuhan Ternate dibuka untuk perdagangan bebas mengunakan kapal uap (Fraassen, 1987), orang-orang Cina dan Arab banyak yang berdatangan untuk melakukan aktivitas dagang dan menetap di Ternate maupun di wilayah  Krasidenan Ternate, pulau Halmahera dan sekitarnya. Sebagian besar orang-orang Cina yang datang ke Ternate tanpa membawa istri mereka dan sebagian belum beristri. Seiring waktu berjalan orang-orang Cina yang hidup di Ternate menikahi penduduk pribumi dan ada yang memeluk agama Islam seperti marga Tjan Hoat Seng (Irza,1990: 33).

Pada 1870 Sultan Ternate memberikan kontrak secara sah kepada orang Cina untuk berdagang di Ternate, sultan—pun memberikan dan mengangkat seorang Jogugu Kesultanan Ternate dari etnis Cina atas nama Loem Seng. Pemberian gelar ini dengan pertimbangan bahwa orang Cina tidak berada di Ternate saja melainkan tersebar diberbagai penjuru Maluku. Sehingga dengan demikian gelar ini bisa mengikat orang Cina pada waktu itu dengan Kesultanan Ternate secara politis dan ekonomi. Bahkan orang-orang Cina yang bermarga Tjan berintegrasi sebagai bagian dari Soa Melayu Cim yang terdapat di kampung Makasar. Selain itu orang Cina juga menjadi bagian dari Soa Lima Tahu, dari marga Liem Seng (Irza, 1990: 34).
Masjid Lae Cim di Ternate, Gambar: Koleksi Ahmaddeny Tuela.
Setelah sultan Ternate menyesahkan kontrak dengan para saudagar Cina untuk mendiami pulau Ternate dan sekitarnya, jumlah orang Cina terus meningkat. Bahkan Pemerimtah Kolonial Belanda memisahkan orang Cina Islam dan Cina Konghucu. Pertama, orang Cina yang beragama Islam, mereka menempati kampung Makasar di sekitar Masjid Lae Cim (saat ini Masjid An-Nur). Sementara, orang Cina yang yang menganut agama Konghucu dan mempertahankan tradisi perayaan Imlek. Mereka mereka menamakan pemukiman mereka dengan sebutan kampung Cina di sekitar klenteng mereka (Clerq, 1890: 12-13) yang dibangun pada 1657. 

Oleh Wallace (l870;16) kehidupan orang Cina di Ternate tergolong cukup mapan, semua rumah terbuat dari batu yang disusun kemudian direkatkan mengunakan kalero, sebagai perekat, sementara atap disusun sangat rapat mengunakan katu (daun rumbia). Karena mengunakan batu, sebagian rumah mereka hancur ketika terjadi tana goyang (gempa bumi).

Pada periode tersebut, di kampung Cina terdapat jalan utama dengan sejumlah jalur (jalan kecil) untuk saling terhubung. Kampung tersebut memiliki jumlah penduduk sebanyak 500 (lima ratus) jiwa orang Cina. Selain gelar Jogugu, yang telah diberikan oleh sultan,  orang Cina yang loyal terhadap sultan, juga mendapatkan  2 (dua) gelar kehormatan memberikangelar kehormatan, yaitu seorang Kapiten dan seorang Letnan untuk membantu jalannya roda pemerintahan (Clerq, 1890;13). Meskipun orang Cina mendapat “tempat” yang berigu bebarti di kesultanan, tampaknya mereka hanya berkepantingan untuk berdagang semata.
Kampoeng Cina yang berbatasan dengan Kampoeng Palembang.
Gambar: Koleksi Ahmaddeny Tuela.

Sampai pada paruh kedua abad XX tidak ada lagi penduduk Cina yang menjadi warga Sultan. Tetapi ada beberapa orang Cina yang dinyatakan sebagai warga Ternate, sehingga ada beberapa orang Ternate yang memiliki keterkaitan genealogis dengan keturunan Cina. Pada umumnya masyarakat Cina dan Ternate hanya menjaga hubungang menganai perdagangan belaka. Bahkan masyarakat Cina menyediakan pinjaman pada sultan dan warganya, dan membeli tanah milik pangeran atau dano yang membutuhkan modal besar (Fraassen,1987).

Seperti Nya Eng dan Nya Kem kedua wanita ini mememiliki harta yang berlimpah.  Setelah mereka berdua memeluk agama Islam. Mereka yang luas mereka mengawakafkan tanah sebesar ± 25 hektar untuk dibuat pekuburan Islam dan Masjid Lae Cim. Lae artinya datang, dan Cim artinya orang yang dituakan atau dihormati. Maka Masjid Lae Cim dapat juga diartikan bahwa Masjid yang didatangkan (pemberian) dari kedua orang Cina tersebut (belakangan masjid tersebut diberi nama Masjid An-Nur). Keturunan dari kedua marga Nya Eng dan Nya Kem sampai saat ini masih kita temui di Ternate seperti marga Bay, Boe, Toe yang mendiami kampung Makasar, bagian utara benteng oranje (Irza, 1990).
Akta hibah tanah Oleh Nya Eng dan Nya Kem. 
Tujuan pembangunan ini karena cepatnya arus pendatang dari mancanegara di wilayah ini, maka diaturlah pemukiman penduduk itu sesuai keahlian dan asal-usul mereka, sehingga di kawasan ini tumbuh perkampungan masyarakat mancanegara. Etnis Cina sendiri selanjtunya membangunan pemukiman, di bagian selatan benteng Oranje. Yang unik dari masyarakat Cina Ternate adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan Ternate. Bahkan dalam percakapan sehari-hari orang Ternate dalam percakapan sehari-hari, misalnya  pangilan encik, ci, ko, gina, dan fang.

Selain itu, kebudayaan orang Cina bisa terlihat pada terlihat dari bangunan Masjid Sultan, Kadato Ternate, budaya hela kereta, pengunaan gong, cupa, pengunaan porselen sebagai prabot rumah, bahkan orang Cina telah memainkan peran penting sejak abad XVI. Mereka dipercayai oleh sultan Ternate untuk memegang jabatan sahbandar atau ‘juru bicara kerajaan’ (Meilink,1962: 7).  Memasuki abad XX boleh dikatakan perdagangan sebagian besar berada di tangan orang Cina. Mereka mengimpor beras, minyak, kain, keramik, dari ibukota ke pulau-pulau yang berada di Maluku Utara. Bahkan pertokoan milik orang Cina yang tadinya hanya terdapat di Ternate juga telah menjamur di berbagai wilayah. 




Share:
Komentar

Terkini