Selamat Jalan Ko Syam

Editor: Irfan Ahmad author photo

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Begitulah bunyi dari salah satu ayat Al-Qur’an. Sebagaimana makna dari ayat tersebut, Drs. H. Syamsir Andili (Ko Syam) juga tidak lepas dari aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT dari agama yang ia anut. 

Sosok Almarhum Syamsir Andili memiliki andil cukup besar dalam membangun Kota Ternate dan memiliki dedikasi membangun daerah ini, sehingga kota ini dikenal sebagai kota sejarah dan budaya. Jum’at, 24 Januari 2020 setelah shalat subuh, tepat pukul 05.30 WIT, mantan Wali Kota Ternate, Drs. H. Syamsir Andili, menghembuskan napas terakhir di kediamannya di Lingkungan Maliaro, Ternate Tengah. Kota Ternate, Maluku Utara. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Sebagai masyarakat Kota Terante yang mengenal beliau, tentunya merasa sangat kehilangan atas kepergian Ko Syam. Sebagai Wali Kota Ternate yang pertama, Syamsir Andili memiliki peran besar dalam memajukan kota ini. Tidak salah memang jika masyarakat kota Ternate masih banyak yang merindukan sosok pemimpin yang merakyat ini. Di bawah kepemimpinan Syamsir Andili, sangat nampak kota Ternate bangkit mengeliat, mengambil kembali tempatnya dalam sejarah Moderen Republik Indonesia sebagai pusat politik dan ekonomi, khususnya di Maluku Utara.

Mengenal Syamsir Andili
Syamsir Andili lahir di Ternate pada tanggal 8 November 1951 dari pasangan Andili Saleh dan Maimunah Maya. Ayahnya berasal dari Gorontalo dan sempat menjadi kepala kampung Kalumpang (Leter A2), sementara ibunya berasal dari Torano, Ternate. Ko Syam, menikahi Geniawaty dan dikaruniahi tiga orang anak, yaitu Muhammad Taufan Andili, Muhammad Mahrani Andili, dan  Muhammad Hurairah Andili.

Syamsir Andili dan Keluarga Tercinta. 
Sejak kecil, Syamsir dikenal sebagai sosok anak yang cerdas, tekun dan pekerja keras. Ini dibuktikan ketika melanjutkan studi strata satu (S1) di jurusan ekonomi, Universitas Sam Ratulangi, Manado, ia aktif dan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado (1970-1975). Selain aktif berorganisasi sewaktu kuliah, ia juga mengikuti magang di perusahan perdagangan dan kontraktor. Sejak itulah, Syamsir muda terobsesi menjadi pengusaha dan politisi. 

Setelah menyelesaikan studi pada tahun 1976. Ia kembali ke Ternate dan memulai membangun karir dari pegawai sukarela di Kantor Bupati KDH Maluku Utara. Tahun 1978 berkat kegigihan dan usaha keras, maka status Pegawai Negeri Sipil (PNS) diraih oleh Syamsir. Berkat kerja keras dan disiplin, ia—pun pernah menjabat sebagai camat Ternate. 

Fachry Ammari dan Syamsir Andili bercengkerama di Pantai Sidangoli, 1983.
Selain aktif menjadi PNS, Syamsir Muda aktif diberbagai organisasi kepemudaan antara lain Koordinator Komite Nasional Pemuda Indonesi (KNPI) Cabang Ternate (1977-1979). Selain aktif berpolitik, bersama beberapa kader Muda Partai Golongan Karya (GOLKAR), ia kemudian mendeklarasikan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Maluku Utara. Pada 1979-1987 dipercayai menduduki Jabatan Dewan Pimpinan Cabang Sentral Organisasi Karyawan Swadiri (DEPICAB-SOKS) Maluku Utara dan dua periode menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah KNPI Maluku Utara (1979-1982 dan 1982-1985), sekaligus menjadi Dewan Penasehat DPD AMPI Maluku Utara pada periode 1979-1988.

Sekian lama melayani masyarakat, akhirnya samsir mendapat kepercayaan dua periode sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku, Ambon pada periode 1987-1992 dan periode 1992-1997.

Jujur, kerja keras serta pribadi yang santun, Syamsir Andili kemudian dipercayakan menjadi Wali Kota Administratif Ternate (1996-1999). Kemudian, PJ. Wali Kota Madya KDH. TK. II Ternate (1999-2000). Syamsir Andili dipercayakan kembali menjabat sebagai Wali Kota Ternate bersama Drs. Iskandar M. Djae (2000-2005). Kerja cepat dan agresif membangun kota Ternate, Samsir Andili dipercayakan menjabat satu periode berikutnya bersama Drs. H. Amas Dinsie, sebagai Wakil Wali Kota Ternate (2005-2010).

Syamsir Andili, Wali Kota Administratif Ternate 1996-1999

Selama 3 tahun berturut-turut memimpin Kota Ternate, menjadikan pribadi yang matang dan segudang pengalaman. Ini terbukti ketika Syamsir Andili dipercayakan duduk sebagai Dewan Pengurus Indonesia (APEKSI). Sebuah wadah yang mempersatukan kota-kota di seluruh Indonesia, agar memiliki sebuah jejaring dalam memperjuangkan agenda bersama. 
Syamsir Andili, Wali Kota Ternate Periode 2000-2010.
Syamsir adalah Wali Kota di Indonesia yang mendapatkan kesempatan di bawah kepemimpinan 5 presiden, yaitu Presiden Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sehingga dalam pertemuan Waki Kota se-Indonesia sering ia disapa sebagai wali kota 5 presiden. 

Masjid Al Munawwar
Tidak banyak yang tahu, bahwa kepemimpinan Syamsir Andili diam-diam belajar sejarah kehidupan dan kepemimpinan Rasulullah SAW yang berhasil membangun kehidupan madani. Sejak menjabat sebagai Wali Kota, Ko Syam selelu berpikir bahwa Ternate yang mewakili Negeri Kie Raha, harus memiliki masjid yang indah, megah dan harus menjadi icon untuk Kota Ternate. Beliau terobsesi keteki membaca sejarah Nabi Muhammad ketika berhijrah ke Madimah, dan langkah pertama yang dilakukan adalah membangun masjid Quba.

Niat baik mebangun masjid ini bermula ketika Ko Syam melaksanakan haji pada tahun 2002. Bersama istri tercinta dan KH. Rusly Amin berjalan disepanjang pantai Laut Merah. Laut yang menjadi saksi ketika nabiyullah Musa a.s, membelahnya dengan tongkat untuk melarikan diri dari Fir’aun. Ketika sedang asik bercerita sambil berjalan, pandangan ko Syam tertuju di sebuah bangunan Masjid Abdullrahman yang megah dan sebagian bagunannya berada di laut. Sejak melihat masjid tersebut, Ko Syam—pun mengatakan kepada istri dan KH. Rusly bahwa saya akan membangun masjid di Ternate di atas air, lebih besar dari masjid kebanggaan warga Jeddah, dan menamakan Masjid Al Munawwar.

Pembangunan Masjid Raya Al Munawwar Kota Ternate

Dalam karya Alwi Sagaf Alhadar, Jalan Cibta ke Tanah Suci. Masjid Abdullrahman menjadi sumber inspirasi bagi pendirian Masjid Al Munawwar Kota Ternate. Ternate mirip dengan Jeddah, sama-sama water front city

Niat baik untuk membangun masjid, tidak berjalan mulus waktu itu. Ketika dalam proses pembangunan, Ko Syam, sering dikritik “mengapa membangun masjid di pusat perdagangan?”. Lagi-lagi, beliau mengutip referensi bahwa di Makkah dan Madinah, Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi berada di pusat perdagangan serta dikelilingi mall dan hotel berbintang. Menurut Ko Syam, pedagang adalah bagian dari tradisi agama Islam. Oleh karena itu, kita jangan kaku dan masjid sebagai tempat berkontemplasi, tempat merasakan keagunan Tuhan, sekaligus tempat untuk mendamaikan hati.

Masjid yang dibangun di tapak Tiga, berdekatan dengan Boulevard adalah pengejewentahan dari keinginan itu. Di atas kemilaunya air pantai yang tertimpa sinar matahari saat pagi dan siang menyapa, begitu juga ketika malam datang yang membuat air semakin tenang. Bukankah itu adlah bagian dari Surga Dunia? Itulah kenapa Ko Syam, bertekat untuk membangun masjid tersebut.

Oleh Alwi Sagaf salah satu wartawan senior, memberikan keterangan bahwa “Gagalnya pelaksanaan reklamasi pantai dari kelurahan Gamalama hingga Dodoku Ali, Kelurahan Soasio oleh Pemda Kabupaten Maluku Utara. Akibat ketidakseriusan investor dari Jakarta pada 1997, memantik Walikota Administratif Ternate, Syamsir Andili untuk mendirikan masjid raya di kelurahan Santiong (antara kuburan Islam dan kuburan Cina). 

Namun niat suci ini lagi-lagi terbentur dengan status dan luas tanah yang serba terbatas di tengah kota. Barulah pasca reformasi yang berujung pada era otonomi daerah serta seiring dengan perubahan status menjadi Ternate menjadi Kotamadya. Maka niat itu pelan tapi pasti mendapat titik temunya. Sebab daerah sudah bisa kelolah dana pembangunan secara mandiri. Pada paruh periode pertama kepemimpinan Ko Syam, tepatnya pada tahun 2003. Beliau berhasil menggalang beberapa pengusaha lokal untuk lakukan pekerjaan "menutup pantai" yang sempat terbengkalai beberapa tahun lamanya.

Masjid Raya Al Munawwar Kota Ternate
Saat itulah area tapak satu ditentukan lokasi pembangunan masjid raya. Pada pilkada berikutnya, Syamsir terpilih kembali menjadi Walikota Ternate. Alhamdulillah, jelang akhir kepemimpinannya di periode kedua, berdirilah sebuah masjid yang besar nan megah, kebanggaan umat Islam di bibir pantai Kota Ternate”.

Kini masyarakat Ternate dan umumnya Maluku Utara tidak perlu cemas, jika tiba pada bulan Ramadan, shalat Idul Fitri dan shalat Kurban karena Masjid Al Munawwar dapat menampung sekian ribu jemah yang akan melakukan shalat. Bahkan pada saat peresmian Masjid Al Munawwar, Ko Syam sebagai Wali Kota saat itu, menyampaikan bahwa Masjid Al Munawwar atau Masjid Raya Kota Ternate bukan milik Pemerintah Kota, tetapi milik masyarakat Kota Ternate. Milik kita semua, jangan sampai ada nista yang mengetorinya. Allah SWT, jadikan masjid ini sebagai tempat hamba-hambamu di kota Ternate mengabdi dan menyulam hidup mereka, damaikan hati mereka, bimbing nurani mereka dengan memberikan petunjuk-Mu. Pada akhir kata, beliau juga menyampaikan, Selamat Beribadah, Mi’rajkan diri saudara-saudara sekalian di masjid ini, karena shalat yang kita dirikan adalah mi’rajnya orang-orang mukmin. 


Sumber:
Selain mendapakan informasi dari Alwi Sagaf Alhadar. Tulisan sinkat ini di kutip dari karya Syamsir Andili, Melayani Dengan Rasa. Jakarta: Pustaka Sawerigading, 2010; Alwi Sagaf Alhadar, “Antara Makkah dan Jeddah” dalam Abubakar Abdullah, ed.,Jalan Cinta ke Tanah Suci. Yogyakarta: Naufan Pustaka, 2017.



Share:
Komentar

Terkini