Rumphius: Ilmuan Ambon Kelahiran Jerman

Editor: Irfan Ahmad author photo
Peta Kota Kolonial, Ambon Tahun 1650. Sumber: de Graaf, H.J. Gesehiedenis van Ambon en de Zuid Molukken.
Bertepatan dengan Hari Kota Sedunia pada 31 Oktober 2019, UNESCO menetapkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia. Selain kota musik, Ambon juga dikenal dengan sejarah, budaya, dan keanekaragaman hayati yang begitu kaya dengan keunikannya. Hal itulah yang mengilhami Georg Eberhard Rumphius untuk meneliti dan menulis. Rumphius seorang naturalis yang terbaik di masanya yang dijuluki sebagai “Ilmuan Buta Dari Ambon Yang Dapat Melihat”.

Rumphius mendokumentasikan berbagai hal penting di Ambon, Maluku. Penjelajahan ilmiahnya selama 1657-1702 (± 45 tahun) diabadikan dalam berbagai karyanya. Rumphius adalah seorang naturalis yang mewariskan catatan penting tentang Ambon. Berkat catatan/penelitian itulah, ia dikenal dan dihormati oleh ilmuan Eropa, waktu itu karena telah menyumbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dari wilayah Hindia Belanda atau dikenal dengan “Timur Jauh”. Mereka telah menghasilkan karya-karya besar dengan keterbatasan mereka. 

Banyak sekali kisah inspiratif dan kekaguman Rumphius tentang kekayaan alam Ambon dan sekitaranya yang tertuang dalam karyanya. Penelitian tentang flora dan fauna di Ambon. Dalam ilmu alam, Rumphius menghasilkan tiga kerja besar: Amboinsch Kruidboek, Amboinsch Rariteitkamer, dan Amboinsch Dierboek. Kruidboek atau “Herbarium Amboinense“ dinilai sebagai karya terbesar Rumphius yang dikoleksi diberbagai perpustakaan ternama di dunia. 
Karya Rumphius yang menjadi dikoleksi di perpustakaan ternama.
Kisah Rumphius memiliki kemiripan dengan kisah Alfred Russel Wallace di Ternate. Keduanya adalah orang Eropa yang tidak menyerah, keduanya memiliki ketertarikan tentang alam Nusantara. Oleh sebagian orang mengemukakan bahwa “Wallace adalah orang Ternate kelahiran Inggis” berkat teorinya yang dicetuskan di Ternate dan Ternate menjadi sentral penelitian sewaktu di Maluku. Maka tidak salah ketika Rumpius dengan berbagai karyanya di Ambon, ia kemudian dijuluki dengan sebutan “Ilmuan Ambon Kelahiran Jerman”. Bahkan kecintaannya terhadap Ambon, sekalipun dalam kondisi sakit, ia rela bekerja keras untuk meneliti dan terus menulis dan melahirkan karya-karya terbaik dan masih digunakan sampai saat ini.


Rumpf (Rumphius)
Georg Eberhard Rumphius, lahir di Watteraukreis, Hessen pada tanggal 1 November 1672. Rumphius adalah putra tertua dari Agustus Rumpf, seorang insinyur di Hanau, dan Anna Elisabeth Keller. Ia dibaptiskan Georg Eberhard Rumpf di Wolfersheim, tempat ia dibesarkan. Dia pergi ke Gimnasium di Hanau. Meskipun lahir dan besar di Jerman, ia berbicara dan menulis dalam bahasa Belanda sejak kecil yang diajari oleh ibunya. Selain bahasa Belanda, Rumphius kecil juga pandai berbahasa Latin dan menghitung yang diajarkan oleh ayahnya. Akan tetapi, sejak kecil Rumphius lebih tertarik dengan ilmu biologi, kimia dan ilmu kedokteran. 

Setelah dewasa, Rumphius memiliki keinginan untuk mencari pengalaman baru di luar wilayah Eropa. Ia kemudian mendaftarkan diri sebagai tentara pada “West Indische Companie” dan ditugaskan ke Brasilia dan sempat tertahan di Portugal dengan waktu yang cukup lama karena kondisi politik. Tahun 1649, Rumphius kembali lagi ke Jerman dimana ia kemudian mempelajari ilmu pengobatan dan meraih gelar dokter. 

Mendengar cerita tentang Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah. Rumphius terpesona dengan dan mendaftarkan diri sebagai Adelborst (Dinas Ketentaraan Belanda) di Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dengan nama julukan “Jurieaen Rumph van Hannau” dengan rute pelayaran menuju Hindia Belanda pada 1652 dan baru terwujud pada 1653 bersamaan dengan pengiriman Tentara VOC ke Ambon. 

Tiba di Ambon
Pada hari Natal kedua tahun 1652, ia berlayar menuju Timur Jauh dan memakan waktu berbulan-bulan lamanya berada di lautan. Setelah sekian lama berlayar, awal tahun 1653 kapal yang ditumpangi Rumphius tiba di Batavia. Di tahun yang sama, terjadi peperangan yang dasyat di Ambon. Pasukan VOC yang dipimpin oleh Arnold De Vlaming van Oudshoorn, melihat kondisi tentara Belanda yang semakin lemah, De Vlaming, kemudian pergi ke Batavia mengambil tambahan pasukan. Pasukan yang didatangkan dari Batavia ke Ambon inilah terdapat “Jurieaen Rumph van Hannau” atau dikenal dengan Rumphius.

Dibekali dengan pengetahuan yang ia peroleh semasa studi,  Rumphius sangat dikenal oleh pejabat VOC, saat itu. Tidak lama bertugas di Ambon, pangkatnya naik menjadi Vaandrig dan menduduki peringkat ketiga kepemimpinan di benteng Ambon. 

Pada 1657, ia menjabat sebagai Fabrycq yaitu  kepala insinyur. Tidak lama menjabat, ia kemudian berpikir untuk mengakhiri karirnya dalam Dinas Ketentaraan Belanda dan berkeinginan menulis/peneliti di Pulau Ambon. Permohonan untuk menjadi warga sipil disetujui oleh Gubernur Hustaart dan Rumphius diangkat sebagai Onderkoopman di Larike. Ini merupakan suatu jabatan yang sangat cepat karena Rumphius yang baru berusia 25 tahun.

Selama bertugas di Larike, Rumphius mempelajari aneka tumbuhan, hewan dan mineral (batu-batuan). Disamping tugasnya sebagai Onderkoopman, ia mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk memenuhi ambisinya menulis sebuah buku tentang alam. Teman-temannya dari Belanda maupun dari Jerman mengirim peralatan dan buku-buku yang di butuhkannya. 

Dalam tenggang waktu 3 tahun saja pangkatnya dari Onderkoopman naik   menjadi  Koopman  atas  daerah pesisir Hitu.  Kerja keras dan  dibekali dengan pengetahuan, ia dapat membaca dan menulis huruf Arab, maka posisinya sangat menentukan dalam skala politik, saat itu dengan para bangsawan dari Ambon.

Rumphius kemudian menikahi seorang wanita dari Ambon bernama Suzanna. Kecintaannya terhadap istrinya, Rumphius kemudian memberi nama salah satu speasis anggrek mengunakan nama istrinya yaitu “Flos Suzanna”. Rekan-rekannya dari Belanda yang datang ke Ambon berusaha menjalankan dagang dan mengmpulkan harta benda, Rumphius malah bertualang di hutan dan pantai untuk mencari dan mengumpulkan sampel binatang dan tumbuhan. Ia sudah mulai dengan penulisan buku-bukunya yang di kemudian hari amat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan. 

Bekerja dalam kondisi cahaya dan cuaca yang panas secara terus-menerus membuat kesehatan mata Rumphius terganggu. Maka pada tanggal 9 Mei 1670 Gubernur Ambon membuat laporan bahwa Koopman Rumphius telah menjadi buta. Ia harus meninggalkan posnya di Hila dan bersama keluarganya pindah ke Kota Ambon. Walaupun sudah buta, Rumphius masih tetap menjadi anggota Dewan Politik (Politieke Raad) seksi perkawinaan.

Selang beberapa waktu di Ambon, Rumphius kemudian melanjutkan penelitiannya dan selesai karena daya ingatnya yang cemerlang. Maka Rumphius melatih putranya yang sulung yakni Paulus Agustinus untuk menggambar. Kecerdasan Rumphius juga ditularkan kepada anaknya.

Pada tanggal 17 Februari 1674 bertepatan dengan Tahun Baru Cina. Rumphius sedang berjalan-jalan di kota. Isri dan anak perempuannya sedang pergi menonton pertunjukkan di rumah salah seorang warga Cina. Tiba-tiba bumi bergetar rumah-rumah runtuh ke bumi. Gempa bumi yang dahsyat sterjadi di Ambon. Istri dan anaknya yang perempuan tewas di bawah puing-puing tembok rumah yang runtuh. Rumphius sempat patah semangat untuk hidup lagi. Namun ia bangkit dan menyelesaikan penelitiannya.  Hatinya sedikit terobati ketika ia menikahi Isabelle Ras, Janda Kapten Wittekam. Tetapi Isabelle meninggal lagi pada tahun 1698.

Sementara itu pekerjaan ilmiahnya sudah terkenal sampai ke Eropa. Para ilmuan dari Eropa menulis surat kepadanya untuk mendiskusikan berbagai masalah yang mereka teliti. Pada tahun 1680 teman-temannya di Jerman mengangkatnya sebagai anggota Academica Naturae Coriosorum (Pencinta Alam) di Wina dan di situ Rumphius dijuluki “Indische Plinus” menurut peneliti botani asal Romawi yang terkenal dan tewas pada saat meletusnya merapi Pompeji pada 1678. 

Pada tanggal 11 Januari 1678 sekali lagi Rumphius ditimpa bencana. Sebuah kebakaran memusnahkan sebahagian besar pekerjaannya. Teman-temannya hanya sempat menyelamatkan manuskrip-manuskrip dan dokumen perihal herbarium. Tetapi sampel dan catatan-catatan lain tentang tumbuhan dan binatang serta ratusan gambar musnah dilahap api. 

Pemerintah yang menyadari betapa pentingnya pekerjaan Rumphius ini mengirim seorang juru lukis yang bernama Philips van Eck ke Ambon. Dengan bantuan putra Rumphius Agustinus, mereka mulai pekerjaan merekonstruksi gambar-gambar yang sebagian besar rusak berat. Pada tahun 1690 mereka sudah berhasil menyelesaikan buku pertama dari pada 6 buah buku tentang Herbarium Amboinense, lengkap dengan teks dan ilustrasi dan mengirimkannya ke Batavia. Namun saying sekali Rumphius tidak sempat menyaksikan penerbitan buku-bukunya itu. 

Karena keadaan kesehatan fisik dan mental yang semakin menurun, maka pada tahun 1700 Rumphius di pensiunkan. Namun demikian ia tetap aktif dengan penyelidikannya. Pada tanggal 15 Juni 1702 Rumphius meninggal dunia di Ambon dalam usia 74 tahun. Hampir setengah abad Rumphius menjalani kehidupannya di Ambon. Ia dikuburkan pada tempat yang merupakan pilihannya sendiri semasa hidup. 
Makam Georg Eberhard Rumphius di Ambon


Karya Rumphius
Adapun karya-karya Rumphius yang terkenal adalah  “Waerachtig Verhael van de schrickelijcke Aerdbeving” (ceritera yang sesungguhnya tentang gempa bumi dahsyat). Bukunya di terbitkan di Batavia pada tahun 1675. Ini merupakan salah satu penerbitan pertama yang di cetak di di Batavia.

Buku yang berjudul “Generale land–beschrijvingen van het Ambonsch Gouvernement en wat daaronder begrepen is” (uraian  umum  tentang  daerah  pemerintahan  Amboina  dan apa yang termasuk   didalamnya).  Buku   ini   tidak   pernah   diterbitkan   karena Ds. Valentijn amat tertarik kepada pekerjaan Rumphius itu, sehingga ia menyalingnya secara mentah ke dalam buku jilid II berjudul Oud-en Nieuw-Oostindien. Hak cipta pada saat itu belum ada, sehingga apa yang dilakukan Valentyin itu tidak mendapat sanggahan dari pihak manapun.

Buku Rumphius yang terpenting adalah “Ambonsch Kruydt Boek” atau “Herbarium Amboinense” (rempah-rempah Ambon). Buku ini dapat di katakan sebagai pekerjaannya yang terutama. Penulisan buku ini diawali tidak lama setelah ia menginjakkan kakinya di bumi Maluku dan di selesaikan menjelang akhir hayatnya. Manuskripnya yang terdiri dari 345 bab dan di hiasi dengan 392 buah ilustrasi musnah bersama tenggelamnya kapal menuju Belanda. 

Meskipun karyanya tengelam bersama kapal. Beruntung karena Gubernur Jenderal Camphuys telah membuat sebuah salinan dan salinan tersebut berhasil tiba dengan selamat di Belanda. Buku ini baru terbit pada tahun 1741 dan 1755 dalam edisi berbahasa Belanda dan bahasa Latin. 

Ada juga sebuah buku yang di tulis oleh Rumphius tetap hilang tanpa ada bekasnya. Buku ini berjudul “Amboinsch Dierboek” (buku tentang hewan-hewan di Ambon). Selain itu ada juga sebuah bukunya yang berjudul “Amboinsche Rariteit Kamer” (Ruang benda-benda aneh dari Ambon) yang berisikan suatu uraian tentang kerang-kerangan yang dia temukan di pantai pulau Ambon. Buku ini untuk pertama kalinya diterbitkan oleh seorang temannya di negeri Belanda bernama Dr. d`Acquit. Ia adalah Walikota Delft. Buku ini diterbitkan pada tahun 1705, kemudian dicetak ulang dalam berbagai bahasa dan menjadi “best seller” dan sangat terkenal.

Rumphius adalah seorang ilmuan besar. Ia di hargai dan dihormati bukan saja di Ambon, Belanda dan Jerman, melainkan para ilmuan Eropa. 


Keterangan: Informasi yang terdapat di atas, disadurkan kembali melalui karya,  de Graaf, H.J. Gesehiedenis van Ambon en de Zuid Molukken, Franeker: T.Wefer BV, 1997; Rumphius, G.E. Ambonsche Landbeschrijving; De Ambonsche Historie S.Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1910; dan de Wit, HCD, "Dalam Memori GE Rumphius (1702-1952)". Takson, 1952. 


















Share:
Komentar

Terkini