Sejarah Cengkeh di Maluku (Utara)

Editor: Irfan Ahmad author photo
Ranting cengkeh bersama buah yang telah matang. 

Cerita asalmu-asal cengkeh, cengkih atau cingkeh (Eugenia caryophyllata) pernah dicatat dalam karya Deinum, H. K, De Kruidnaged De Landbouw in de Indische Archipel, Vol II b, 1949. Dalam narasi singkat tersebut, konon pohon cengkeh yang tumbuh liar di (hutan) pulau Ternate, Tidore, Makeang, dan Moti berasal dari Pulua Halmahera.  Buah dari pohon cengkeh yang tumbuh liar itu, dimakan oleh burung taon dan burung dara kemudian menyebarkan benih ke empatizzante pulau tersebut dan tumbuh secara liar. 

Cengkeh merupakan tumbuhan endemik Maluku Utara yang tumbuh sejak ratusan tahun. Bila kita mau mengatakan atau mengklaim bahwa satu tumbuhan sebagai kekayaan flora suatu kawasan, salah satu caranya adalah menemukan nama asli atau nama yang benar-benar lokal tempat tumbuhan itu hidup. Bila bukan endemik pada satu wilayah tertentu, dan tanaman atau khazanah flora tersebut didatangkan dari wilayah lain, nama tumbuhan tersebut hampir dipastikan dipinjam dari bahasa asal tanaman tersebut. Berangkat dari analogi inilah oleh Gufran A. Ibrahim (2019) mencari jejak bahasa atau “jejak linguistik” dengan memeriksa nama cengkeh tersebut dalam bahasa-bahasa lokal. 

Beberapa informasi penting tentang nama cengkeh disampaikanm oleh Gufran, mengunakan sejumlah bahasa lokal memiliki nama asli untuk cengkeh. Orang Ternate menyebut gaumedi/bualawa; orang Tidore menyebut gomode; orang Makeang Timur menyebut odai; orang Makeang Barat menyebut Ada; orang Galela menyebut balawa, orang Patani dan Weda menyebut cengke. Sementara orang Tobaru punya nama tersendiri untuk cengkeh, yaitu buanga

Bahasa Ternate terdapat dua nama, yaitu bualawa yang berarti “buah yang melawan penyakit”. Sedangkan gaumedi, memiliki makna buah yang pedis (gau) dan pahit (medi). Bunga cengkeh memang rasa pedis bercampur sedikt pahit, jadi merupakan ramuan obat-obatan dan bumbu makanan (Abdulrahman, 2002).


Istilah Cengkeh Bagi Orang Cina
Kata  cengkeh, selain ditemukan pada bahasa  Mandarin yaitu xi’jia,  artinya “tumbuhan paku” (Syaiful Bahri Ruray, 2010). Istilah cengkeh juga ditemukan pada bahasa Cina yang sangat variasi. Sebutan orang Cina untuk cengkeh adalah chi-she hsiang, artinya “lidah ayam,” bila buahnya telah kering. 

Istilah Chi-she pertama kali muncul dalam karya Kang Tai (Abad III) yang mengatakan bahwa tanaman itu berasal dari Ma Wu (sebelah timur Funan). Nama Cina lain untuk cengkeh yaitu ting hsiang (benda mirip jarum) karena bentuknya mirip ting (jarum). Tampaknya buah cengkeh di Cina mulai digunakan pada abad V atau VI. Sebelumnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan bunga dan aroma dari tanaman tradisional. I-Tsing (sekitar tahun 632) melaporkan bahwa dua bentuk cengkeh tumbuh di Pulo Condore (tanah Kun-lun), lepas pantai Funnan selatan, yakni berupa ting tzu hsiang dan mo ting hziang (induk cengkeh). Mo ting hsiang mungkin digunakan dalam upacara kerohanian. Pernyataan ini tidak bisa digunakan sebagai bukti bahwa cengkeh telah diperkenalkan di Pulo Condore, tetapi melalui Funan Selatan dalam perjalanannya menuju Cina (Donkin, 2003).

Ting-hsiang disebut-sebut dalam naskah Cina kuno sebagai bentuk “obat dalam wujud tercetak”, yang diterbitkan tahun 1249 Masehi. Nama cengkeh juga digunakan dalam karya resep terkenal Li Shih-Chen, Pen t’s’ao kang mu tahun 1596. Ting hsiang merupakan nama asli untuk cengkeh di seluruh semenanjung Melayu dan kepulauannya—Malaya, Jawa, dan Bali, lebih lengkap sebagai buah atau bunga cengkeh. Penggunaan nama atas dasar ting shiang mungkin merujuk pada partisipasi orang Cina dalam perdagangan cengkeh pada abad V dan VI. Chi she hsiang merujuk pada cengkeh yang dikenal di Cina dan mungkin diperoleh melalui jalur Funnan. 

Pigafetta menyebutkan chian che pada 1521 di Malaka dan chained di Cebu, sementara Rumphius menyebut tsjenkhe. Di Maluku selain nama asli gomodhe kita menemukan sebutan ghianche atau chanque. Banyak pulau di kawasan itu yang menggunakan istilah serupa. Thomas Forrest menemukan dengan menyebut istilah chinqy (Ibid).

Meski cengkeh telah dianggap bernilai sejak ribuan tahun lalu, tetapi dokumentasinya baru dilakukan pada beberapa abad terakhir. Fraassen (1987) menyebutkan bahwa perdagangan cengkeh di pasar dunia telah berlangsung sejak abad III SM. Kala itu cengkeh telah dikenal di Cina. Dalam epos India Ramayana, yang tertanggal sekitar tahun 200 SM, cengkeh juga disebutkan dan dalam sebuah sumber India dari abad pertama SM diberitakan cengkeh dibuat sebagai pengobatan. Pada tahun 70 M, Plinius menyebutkan cengkeh sangat berkhasiat dan sejak saat itu di Cina, Arab dan Eropa pemberitaan mengenai cengkeh terus disebarluaskan, tanpa mengetahui wilayah di mana pohon cengkeh itu tumbuh dan menjadi rahasia bagi para saudagar.

Bukti History
Selain bukti linguistik yang diuraikan di atas. Sumber sejarah juga membernarkan bahwa Cengkeh adalah tanaman asli, endemik dari Maluku.  Berbagai laporan terdahulu menunjukkan bahwa cengkeh hanya terbatas pada lima pulau kecil (cinco Ilhas de Cravo) yang pertama kali dipetakan oleh Francisco Rodriguez (1512), yaitu: Tarenate (Ternate), Tadore (Tidore), Mutir (Moti), dan Machian (Makeang). Dari sumber Cina, India, dan Romawi diketahui bahwa sejak paruh kedua milenium pertama sebelum Masehi, cengkeh diperdagangkan hingga ke manca negara. Di Cina, cengkeh telah dikenal sejak abad III SM. Menurut Fraassen (1978) bahwa penanaman varietas cengkeh berasal dari empat gunung dan belakangan dikenal sebagai Moloku Kie Raha. Akan tetapi, Pigafetta (1521) menambahkan bahwa pohon ini juga ditemukan di Bacan (Bacchian) dan Jailolo/Gilolo.

Sketsa pohon cengkeh disertakan dengan kepulaun Maluku (Antonio Pigafetta, the Moluccas with a clove tree, 1525 (Beinecke Rare Book and Manuscript  Library, Yale University).
Eksistensi Maluku tak terlepas dari sejarah rempah-rempah. Dalam sejarahnya, rempah-rempah ini telah dikenal di Mesir sejak ribuan tahun silam. Hal ini terutama berkaitan dengan tradisi mumifikasi di Mesir. Toeti (2010) mengatakan bahwa pentingnya rempah-rempah di Mesir karena mereka saat itu belum mengenal formalin untuk mengawetkan mayat. Oleh karena itu, rempah-rempah sangat diperlukan untuk kebutuhan mumifikasi mayat para bangsawan. Untuk memeuhi kebutuhan itu, sampai Abad Pertengahan, rempah-rempah didatangkan dari wilayah yang sangat jauh. Lantas, siapa yang mengenalkan rempah-rempah ke Mesir dan membawanya, melintasi Samudera yang begitu luas?

Rempah-rempah, khususnya cengkeh, telah dikenal sejak zaman Cina klasik di dapatkan dari Maluku oleh para saudagar. Cengkeh kemudian dibawa melalui Teluk Persia ke Mesir, Yunani, dan Romawi oleh sudagar Venesia dan menyalurkan ke seluruh Eropa pada Abad Pertengahan (Hanna, 1996). Hal ini dilakukan melalui cara barter dari pelabuhan/pasar ke pelabuhan lainnya. Para saudagar membanderol harga cengkeh dengan harga tertinggi karena jarak tempuh yang diperlukan sangat jauh untuk mendapatkannya. 
Empat pulau penghasil cengkeh Maluku.
Di Maluku telah tumbuh cengkeh sejak berabad-abad lalu. Pohon ini tumbuh subur dan memiliki kualitas terbaik. Demikianlah sehingga cengkeh dianggap berkah alam yang unggul dan khas bagi pulau Maluku. Pohon ini tumbuh di lereng-lereng gunung berapi. Tangkainya yang jatuh ke tanah dan kering kena sinar matahari dapat meningkatkan cita rasa sedap pada makanan apa saja. Pentingnya cengkeh membuat banyak para pedagang Cina menggunakan jung untuk mengangkutnya dari Maluku dan memperdagangkannya di tempat-tempat lain (Donkin, 2003).

Bagi para saudagar atau penjelajah, pohon cengkeh yang hanya tumbuh di Maluku, merupakan tempat yang sangat jauh kala itu. Karena alasan sejarah dan geografis, cengkeh sering disandingkan dengan pala dan bunga pala (fuli). Namun pada kenyataannya kedua jenis tumbuhan ini berbeda. Pohon cengkeh adalah pohon yang tumbuh dengan ketinggian 8-12 meter, berselimutkan daun mengkilap dan beraroma tajam. Di era pelayaran, para pelaut mengklaim bahwa mereka dapat mencium wangi pulau-pulau di mana cengkeh itu tumbuh, meskipun masih berada jauh di tengah laut.

Pentingnya cengkeh dalam perdagangan telah berlangsung lama jauh sebelum Abad Pertengahan. Hal ini dibuktikan dengan temuan fosil cengkeh dalam sebuah wadah keramik di gurun pasir Suriah, kota kecil di tepi sungai Efrat. Fakta temuan cengkeh telah mengejutkan namun yang luar biasa lagi adalah keanehan botani yang terkait dengannya. Sebelum masa modern, pohon cengkeh hanya tumbuh di pulau-pulau vulkanik di daerah timur jauh saja, yakni Maluku (Tuner, 2011).
Temuan fosil cengkeh oleh Tim Arkeologi di Suriah, tepi sungai Efrat. (Sumber: Terqa Final Reports No. 1, L'Archive De Puzurum Paperback 1 Jan 1984)

Pentingnya Cengkeh
Cengkeh adalah daya tarik utama bagi orang Eropa dan menuju pada penemuan tanah-tanah baru oleh orang Eropa, misalnya Amerika dan Pasifik. Pentingnya cengkeh bagi kehidupan bangsawan di Eropa, melahirkan para Penjelajah Spanish dan Portuguese melakukan ekspedisi untuk menemukan tempat di mana cengkeh itu tumbuh. Cengkeh tergolong komoditas langka dan sangat mahal di Eropa pada abad pertengahan. Itulah kenapa orng Cina, Arab, Portugis, Spanyol, Inggirs, dan Belanda datang untuk melakukan perdagangan dan berakhir dengan monopoli dan penjajahan di Nusantara. 

Pada Abad Pertengahan, rempah-rempah tidak saja berperan sebagai mumifikasi. Sebagai rempah, cengkeh juga digunakan sebagai pengharum mulut dan penyedap makanan yang bergengsi dan mewah bagi kalangan bangsawan di Eropa. Efek lezat dan sensasi rasanya membuat cengkeh makin diburu. Cengkeh juga digunakan sebagai pewangi alami di Cina, kala itu. Dalam upacara kematian cengkeh dimasukan ke dalam peti mati, dan perwira yang ingin menghadap kaisar diharuskan mengunyah cengkeh sebelum berhadapan. Sedangkan di Persea, cengkeh digunakan sebagai lambang cinta.

Untuk sampai ke ujung ujung Timur, Maluku. Para saudagar yang membawa buah cengkeh harus melewati rute yang cukup jauh. Akibatnya, harga cengkeh menjadi mahal. Pada Abad Pertengahan, harga cengkeh sangat bervariasi di Eropa. Tingginya nilai rempah-rempah dapat dilihat dari pernyataan seorang Pedagang Arab, “Bila anda memuat cengkeh ke empat kapal dan tiga kapal tenggelam, maka dengan keuntungan dari penjualan muatan satu kapal yang tersisa, kerugian yang ditimbulkan oleh kapal lainnya dapat kembali dan sisanya masih cukup besar bagi Anda” (Adnan Amal, 2010).

Itulah kenapa jalan menuju kepulauan rempah-rempah sangat dirahasiakan oleh para saudagar pada waktu itu. Sangat penting karena nilai rempah-rempah di Eropa saat itu melebihi nilai emas (1 kg cengkeh sama nilainya dengan 7 kg emas). Itulah sebabnya kenapa semua informasi ke pulau di mana cengkeh itu tumbuh merupakan rahasia negara yang harus dijaga ketat. Bagi mereka yang lalai dan mengungkapkan keberadaannya, maka ganjarannya adalah hukuman mati. Demikianlah sehingga peta-peta pelayaran diperlakukan layaknya dokumen rahasia.
Pentingnya Cengkeh diceritakan juga dalam beberapa naskh klasik di Yunani.
Dengan kata lain, cengkeh lebih mahal dari pada emas saat itu. Hal ini memicu Pengeran Hendry mengembangkan disiplin ilmu pelayaran untuk membantu navigator-navigator Portugis melakukan misi-misi pelayaran. Sebagai hasilnya, Magellan mencari rute langsung ke Kepulauan Rempah-Rempah melalui jalur barat dalam ekspedisnya.

Kehadiran cengkeh dengan harga yang fantastis, membuat orang Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan wilayah di mana pohon cengkeh tumbuh. Bagi orang Eropa, kepulauan rempah-rempah terletak di suatu tempat yang tidak pasti. Kemisteriusan kepulauan tersebut membuat orang-orang berspekulasi dengan pengetahuan yang terbatas, mengalahkan mitos-tentang dunia yang datar dan timur sebagai ujung dunia yang curam. Keberadaan kepulauan rempah-rempah juga dikonstruksi berbahaya untuk pelayaran dengan menyatakan bahwa barang siapa yang tiba di ujung dunia, maka mereka akan terperosok dan tidak mungkin kembali lagi. Akan tetapi, jiwa petualangan para pelaut Eropa untuk menemukan keberadaan pulau penghasil cengkeh yang hanya tumbuh subur di beberapa pulau vulkanik, mengalahkan mitos yang berkembang di Eroap Abad Pertengahan (Andaya,1993).


Usaha untuk menemukan tanah di mana cengkeh itu tumbuh terus dilakukan oleh orang Eropa saat itu. Hal inilah yang kemudian melahirkan penjelajah terkemuka di Eropa, seperti: Columbus, Vasco da Gama, Bartolomeu Dias, Magellan, dan lain-lain  yang berupaya menemukan jalan alternatif melalui laut (pelayaran) menuju  pulau di mana pohon cengkeh tumbuh. 

Share:
Komentar

Terkini