Kora-Kora, Armada Perang Penakluk Laut

Editor: Irfan Ahmad author photo
Kora-Kora Kesultanan Ternate. Sumber: Documenting the East Indian Journey led by Admiral Jacob Cornelius van Neck. Featuring Depictions of: Ternate, Molluccas, Banda, and Gammalamme,1598.
Berabat-abat lamanya kerajaan yang berada di Kepulauan Maluku secara ekonomis, kultural, dan politis melakukan komunikasi antara pulau, dan perahu sebagai alat transportasi untuk menghubungkan mereka. Perahu menjadi kebutuhan kekuatan politik kerajaan untuk mengontrol wilayah kekuasaan yang terbentang luas. Sementara bagi penduduk, perahu difungsikan sebagai sarana perdangan lokal antara pulau. 

Jika berkunjung ke Candi Borobudur, maka kita dapat melihat relief kegiatan pelayaran kuno yang diukir dengan indah. Relief yang terdapat pada Borobudur salah satunya adalah perahu bercadik ganda yang berasal dari Halmahera, Halmaherian Double-Outriggers (Pearce, 2010:66). 

Halmaherian Double-Outriggers yang dimaksud kemungkinan bersar adalah perahu jenis kora-kora. Pernyataan ini juga pernah disampaikan oleh Stibbe (1927;8) bahwa pada relief Borobudur, terdapat lukisan kapal Jawa kuno dan perahu bersayap adalah kora-kora dari Maluku.

Dahulu, kora-kora sering dijumpai diperairan Maluku, Sulawesi, Papua, Banda bahkan sampai ke Philipin. Oleh Gubernur Maluku, Antonio Galvao (1536-1539) mendokumentasikan jenis-jenis perahu yang digunakan oleh kerajaan di Maluku pada saat itu adalah kora-kora, juanga, lakafiunu, kalulus. Naumn kora-kora sangat diminati karena daya tampung yang sangat banyak.

Armada Kerajaan
Secara etimologi nama kora-kora diadobsi dari kata Arab "قُرقور" qorqora; bentuk jamak dari qarâqir, yang berarti kapal dagang besar (Glossarium Oost-indische Compagnie, Verklaringen 2000;26). Orang Spayol menyebut kora-kora dengan sebutan karakoa/caracoa. Selain itu dalam laporan mareka juga disebut caracoracaracorecaracolecorcoa, dan caracolle sebagai kata ganti dari kora-kora (Raymond Arveiller,1999).

Kora-Kora asal Philipina pada Abad XVII
Nama kora-kora memiliki varian yang cukup banyak, dan kapal tersebut digunakan sebagai kapal perang di Asia Tenggara seperti kora-kora di Kepulauan Maluku (Raymond Arveiller,1999). Beberapa keterangan juga mentebutkan bahwa nama kora-kora, mungkin saja berasal dari rumpun Melayu-Polinesia yang maknanya hilang seiring waktu, seperti kapal Austronesia lainnya (Charle, 1896;83). 

Andaya (1993:53) menyebutkan bahwa kora-kora merupakan salah satu jenis perahu bercadik yang difungsikan untuk perang. Di Maluku sejak abad XVI,  terdapat jenis perahu kora-kora yang digunakan untuk perang dan dapat bepergian ke wilayah yang jauh (Knaap, 1987:641). Perahu ini digunakan terutama oleh penduduk di kepulauan Maluku sebagai penjaga pantai (pengintai) dari kerajaan. Bentuk kora-kora ada yang ukuran kecil, hingga mencapai bobot 10 ton (Forrest,1779: 23).
Panjang lunas perahu ± 30 meter dan lebar perahu ± 4 meter. Ujung haluan dan buritan diukir dengan berbagai motif  hiasan sakral, yang menjulang  ke atas hingga mencapai ± 2,5 meter. Cadik kora-kora dibuat dengan sangat kokoh karena dapat menampung para pendayung 100-300 orang. Perahu ini juga dilengkapi dengan dua buah tiang layar. Layarnya berbentuk segi empat, terbuat dari daun pandan (Gerrit Knaap,2002: 259) dan memiliki 2 buah kemudi di bagian belakang.

Kora-kora  biasanya dibuat di Pulau Halmahera. Karena pulau tersebut banyak terdapat kayu gosafabatu yang berukuran besar. Sementara untuk tiang-tiangnya terbuat dari pohon bintangor yang lurus dan panjang (Rodidee Van der Aa 1872: 259; Kolf 1896: 428-464).
Kora-Kora dari Gamrange
Leirissa, (1996:106) memberi keterangan bahwa para pengayuh duduk di atas bangku yang terbuat dari papan yang membentang di atas cadik. Bila perahunya berukuran besar, maka kadang-kadang sampai dua jajar di kakanan dan dua jajar di kiri. Di tengah bagian lambug, atau di buritan terdapat semacam atap yang kokoh sebagai tempat berlindung para pemimpin. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di atas atap terdaat para pemimpin pasukan, beserta para penabuh gong yang mengatur irama para pendayung. Perahu kora-kora ukuran kecil yang tidak menggunakan cadik hanya digunakan sebagai transportasi antar pulau di Maluku bagian utara, dan bukan untuk pelayaran arak jauh. 

Menurut Robert Dick-Read (2008), setiap pemimpin atau sultan di Maluku memiliki kapal sendiri, status sang pemimpin tergantung dari jumlah budak yang diperoleh dari pulau-pulau.. Setiap kora-kora terdapat  prajurit bersenjata yang terdiri dari  tombak, sumpit, panah, dan pedang yang berada di tempat yang lebih tinggi (balai).  Kehebatan kora-kora ini dibuktikan dengan adanya hongi yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda dan memanfaatkan sejumlah kora-kora yang dilengkapi dengan awak yang dipersenjatai.

Beberapa kora-kora Ternate yang berlabuh di depån Gamlamo, 1598
Meskipun kora-kora adalah jenis perahu perang yang diperuntukan untuk kesultanan, bukan berarti penduduk setempat tidak berhak menggunakan. Laporan dari ekspedisi pada 1806 memberi gambaran yang paling jelas mengenai jumlah kora-kora di Halmahera Timur yang dihancurkan sebanyak 287 unit, yang terdiri dari kora-kora, rorehe, jungku dan perahu-perahu yang lebih kecil. 

Apabila armada kora-kora berangkat untuk menarik upeti, akan diikutkan salah seorang keluarga sultan atau bangsawan menggunakan perahu kadungga, oleh de Clercq (1898) menulis kakunga yang diperuntukan untuk sultan, anak sultan, dan bangsawan yang diutus oleh kerajaan. Selain itu, kora-kora akan dipersenjatai dengan lengkap untuk mengantisipasi  serangan bajak laut Mangindano, papua dan canga dari Halmahera.

Pertempuran laut mengunkan perahu kora-kora
Upeti Perahu
Memeproduksi dan kepemilikan armada laut adalah impian Kesultanan Ternate dan Tidore semenjak abad XV. Dua kerajaan saat itu yang paling menonjol bersaing dalam kancah politik, ekonomi, dan militer adalah Ternate dan Tidore. Persaingan kedua kerajaan ini menimbulkan dua persekutuan. Masing-masing menjadi pemimpin dalam persekutuan tersebut. Uli-Lima—persekutuan lima bersaudara—dipimpin oleh Ternate, Bacan, Seram, Obi, dan Ambon (Yanuarti, 2004).

Persekutuan tersebut mengantarkan kejayaan Ternate di bawah kekuasaan Sultan Baabullah. Disebutkan bahwa daerah kekuasaan Ternate meluas hingga ke Philipina menandai masa keemasan tersebut. Sementara Uli-Siwa—persekutuan sembilan bersaudara—dipimpin oleh Tidore, Halmahera, Jailalo sampai ke Papua (Fraassen, 1987). Di bawah kepemimpinan Sultan Nuku, Kerajaan Tidore mencapai masa-masa keemasan pemerintahannya. Tentu, kekuatan laut yang dimiliki dua kerajaan tersebut membutuhkan kora-kora yang cukup banyak yang harus disuplai melalui upeti atau pajak dari wilayah-wilayah taklukan(?).

Dari segi ekonomi-politik, Kesultanan Ternate sangat mengandalkan “commercial power” dan sangat bergantung pada fluktualisasi arus perdagangan internasional di Asia Tenggara. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan kekuatan angkatan laut yang ekspansif. Kesultanan Ternate adalah Rezim yang sangat mengandalkan pada warganya yang tersebar dibanyak pulau dan sangat dibutuhkan partisipasinya untuk ekspedisi militer, perjalanan mencari produk lokal, pengerahan kora-kora dan mendorong relokasi penduduk (Joko Suryo, 2001:93). Hal yang sama juga mungkin terjadi pada Kerajaan Tidore atau kerajaan lainnya di Maluku.

Laporan serah terima jabatan atau Memorie van Overgave (MVO) oleh Residen Ternate, C. Bosscher pada 1859 melihatkan banyaknya angka upeti kora-kora yang dilengkapi dengan para pendayung berkisar 50-70 orang setiap kora-kora dan bersifat wajib sebagai upeti tahunan untuk kesultanan Ternate.

Kora-Kora dari Kesultanan Tidore, 1903
Selain Sultan Ternate, Baabullah yang miliki armada angkatan perang yang tangguh di laut. Sultan Tidore, Nuku juga demikian memiliki angkatan laut yang tangguh dan tak terkalahkan. Banyaknya kora-kora milik angkatan laut Tidore dibuktikan dengan penyerangan di Halmahera bagian utara dengan jumlah kora-kora yang fantastis. 1 kora-kora dari Raja Jailolo, 1 kora-kora dari putra-putra Raja Jailolo, 8 kora-kora dari orang-orang Tobelo-Kau , 6 kora-kora dari  Loloda, 1 kora-kora dari Totfuo, 4 kora-kora dari distrik Sahu, 2 kora-kora dari Galela, 6 kora-kora dari distrik Patani, 6 kora-kora dari  Weda, 6 kora-kora dari Tidore dan 5 kora-kora dari Papua. 

Para sangaji berkewajiban untuk mengawasi agar perahu-perahu perang yang sudah dijatahkan setiap distrik, siap untuk dipakai apabila dibutuhkan. Upeti ini bersifat wajib bagi wilayah-wilyah taklukan, baik itu kerajaan Ternate maupun Tidore.

Hilangnya Kora-Kora 
Dalam laporan Portugis dan Pemerintah Hindia Belanda dikemukakan bahwa perahu kora-kora memiliki bentuk bervariasi. Baik itu dari Kerajaan Ternate maupun Tidore, kurang lebih kora-kora Maluku memiliki 12 jenis. 

Pertengahan abad XIX Pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan jenis kapal Uap dan sebagain besar urusan laut dan keberangkatan yang dilakukan oleh sultan dan bangsawan kerajaan mengunakan kapal tersebut dan perlahan-lahan tradisi membuat kora-kora sebagai kebutuhan kerajaan mulai hilang. 

Kora-Kora dari Maluku
Perahu kora-kora merupakan salah satu bentuk perahu tradisional orang Maluku yang memiliki sejarah yang panjang. Kini hanya tinggal kenangan, narasi kora-kora berceceran dalam laporan-laporan hongi, extirpatie, peperangan dan penaklukan wilayah-wilayah pinggiran milik Kolonial Belanda yang tersimpan dengan rapi dibeberapa perpustakaan ternama. Bahkan beberapa gambar kora-kora yang dijual secara online dibandrol dengan harga fantastis.  

Meskipun beberapa sumber dijual dengan harga yang mahal. Bukan berarti kita tidak dapat memiliki dan merekonstruksi kora-kora yang telah dinarasikan. Agar dapat digunakan perahu tradisional tersebut pada hajatan-hajatan terntu atau paling tidak Kota Ternate memiliki replika kora-kora berukuran jombo, seperti beberapa kerajaan Maritim yang menampilkan budaya bahari mereka.

Kora-Kora dari Ternate, 1654 
Meskipun belakangan Pemerintah Kota Ternate melakukan melakukan event pariwisata reguler setiap tahun yang bertema “festival Kora-Kora” dengan maksud untuk menghidupkan wisata bahari, pada festival tersebut dan mempromosikan kora-kora sebagai bagian penting sejarah dan budaya masa lalu di Ternate. 

Tampaknya selama event  tersebut, perahu-perahu yang ditampilkan juga bukan replika kora-kora. Selain bentuknya yang serampangan, juga tidak memiliki makna filosofi perahu itu sendiri. Perlu diketahui bahwa jenis kora-kora memiliki banyak bertuk yang mewakili daerah pemberi upeti dari dua kerajaan yang telah disebutkan. Dengan demikian pendokumentasian kora-kora sangat penting sebagai wujut dari pemajuan kebudayaan daerah. Semoga Kota Bahari dan Kerajaan Maritim ini kedepan dapat merekam kembali kebudayaan masa lalu sebagai wujud kepedulian kita untuk generasi berikutnya. Meskipun dibeberapa kesempatan kora-kora juga masih diperdebatakan, apakah milik Kesaultanan Ternate dan Tidore ataukah mereka hanya sebagai penguna yang didapatkan dari upeti tahunan?


Share:
Komentar

Terkini