Petunjuk Arah di Ternate, Maluku Utara

Editor: Irfan Ahmad author photo
Arah mata petunjuk tempat di Ternate. Sumber gambar: Genpi Maluku Utara
Sebuah perjalanan yang tidak diketahui arahnya pasti memerlukan bantuan untuk menentukan langkah selanjutnya akan kemana. Seperti yang sudah kita ketahui, banyak orang yang mengatakan jika arah mata angin ialah salah satu panduan yang umumnya digunakan untuk mengantarkan kita. 

Dahulu, arah mata angin harus diketahui oleh para pelaut pada untuk melakukan pelayaran. Pentingnya pemahaman bagi pera pelaut karena satu-satunya transportasi waktu adalah perahu/kapal. Ketarangan pelaut-pelaut Belanda pada abad XVII yang mengatakan bahwa kapal-kapal pribumi tidak mengunakan kompas. Perjalanan pertanama oleh Laksmana Steven ven der Haghen ke Nusantara (Indonesia), ia sempat membawa beberapa beberap ratus kompas dengan maksud menjual pada orang pribumi. Akan tetapi, kompas itu tidak diperlukan dan harus dikembalikan ke Belanda (Meilink-Roelofsz, 1962).

Keadaan iklim dan geografi di Indonesia memungkinkan pelaut-pelaut pribumi mencari baringannya pada pulau-pulau, gunung, dan tanjung jika berlayar menyusuri pantai. Kemudian pada malam hari mereka mengunakan bintang-bintang di langit untuk menghantarkan mereka. 

Presepsi tentang mata angin tidak sama di Indonesia. Ada sukubangsa yang hanya mengenal dua arah, yakni laut dan darat (gunung). Yang paling banyak diketahui jumlah mata angin adalah 4, yaitu utara, timur, selatan dan barat. keempat arah tersebut sering disebut sebagai arah mata angin primer. Dikarenakan disebut sebagai yang primer, keempat mata angin ini sering digunakan sebagai patokan untuk mata angin berikutnya.

Kompas penunjuk arah mata angin yang dibagi dalam bentuk derajat yaitu: Utara (0), Timur (90), 
Selatan (180) dan Barat (270).
Menurut Artropolog Universitas Khairun, Safrudin Abdulrahman, Mata angin merupakan panduan yang digunakan untuk menentukan arah. Umum digunakan dalam navigasi, kompas,  dan peta. Meskipun demikian, masing-masing sukubangsa di Indonesia telah mengembangkan penunju arah sesuai selera, kebutuhan, dan daya ciptanya sendiri. Seperti yang terjadi pada orang Ternate dan Maluku Utara pada umumnya yang mengenal kalao, kadara, kaatas, dan kabawa di ambil dalam kebiasaan orang Ternate menunjuk arah kaatas (siie) utara, kabawa (sitara) selatan, kalao (sihoko) timur, kadara (siisa) barat.

Kaatas dan Kabawa: Relasi Kuasa di Ternate
Kata Ternate berasal dari bahasa lokal yaitu Tara No Ate, artinya “turun kau pikat” (Crab,1878). Maksudnya turun dari tempat yang tinggi ke dataran rendah atau dari Formadiahi ke Su(a)mpalo (Kota Tua Ternate) dan memikat para pendatang yang telah ramai mengunjungi Ternate untuk melakukan transaksi cengkeh dengan masyarakat Maluku yang becerai-berai saat itu.

Perlu diketahui bahwa kaatas/ke atas bukan berarti arah utara (saat ini) yaitu di “Limau Jore-Jore”, melainkan Foramadiahi. Sementara kabawah/ke bawah yang dituju adalah negeri Sumpalo di daerah pesisir. Kemudian setelah kedatangan Portugis (1512) tempat ini dibangun sebuah benteng Nostra Senora del Rosario. Masyarakat pribumi Maluku (Utara) yang telah berdiam di sekitar pesisir pantai, kemudian memakai kata kaatas menunjukkan arah kadato (istana) yang berada di Foramadiahi dimana kolano (pemimpin) itu berada dan sebagai pusat Kerajaan Ternate yang pertama. 

Arah mata angin mengunakan Bahasa Ternate.
Valentijn (1724) dan Naidah (1878) memberi petunjuk tentang terbentuknya Kerajaan Ternate melalui pengabungan empat soa (marga), yaitu Foramadiahi, Tuboleo (Sumpalu), Tobona, dan Tobanga. Ketiga soa dan para pendatang bila menuju ke istana di Foramadiahi, selalu mengunakan kata kaatas, kemudian masyarakat yang bermukim di Foramadiahi, bila ke wilayah sekitar (turun) mengunakan kata kabawa untuk menunjukan tiga perkampungan tersebut. 

Penggunaan arah kaatas, hanya diperuntukan untuk pergi ke istana.  Pengunaan arah kadara diperuntukan untuk pergi ke arah yang lebih tinggi (gunung) bila dari arah pantai. Sementara arah kalao/ke laut dari posisi atau tempat yang lebih tinggi (gunung) ke arah pesisir. 

Seperti yang terdapat dalam catatan harian Antonio Galvao, Historia Das Molukas (1544), bahwa masyarakat Maluku pada umunya memiliki dua mata pencaharian utama untuk keberlangsungan hidup. Pada masyarakat Alfoer/Alfur berprofesi pembuat kobong/kebun (petani). Dalam keseharian bahasa yang dipakai untuk menunjukan profesi bakobong disebut kadara bakobong. Sementara untuk masyarakat pesisir yang bermata pencahariannya di mangael (memancing ikan) di laut, mengunakan kata kalao untuk menunjukan arah laut.

Oleh Antropolog Ch. F. van Fraassen  (1987), Sebelum terjadi perpindahan pusat pemukiman dari daerah pegunungan ke daerah pesisir, pengunaan konsep kaatas dan kabawa telah dimulai sejak tahun 1607, bahkan jauh sebelumnya dengan mengunakan bahasa Ternate, namun dalam keterangan Fraassen, arah kaatas yang dituju adalah Soa-Sio, sebagai pusat pemerintahan yang awalnya berada di Foramadiahi.

Perpindahan Arah Kaatas
Setelah terbunuhnya Sultan Khairun Djamil, sultan Baabullah (1570-1584) berhasil mengusir orang Portugis dan membuat Istana Gamlamo di Sumpalu, arah kaatas berubah ke Sumpalu karena posisi pemerintahan untuk sementara dipusatkan di kampung tersebut. Tidak banyak yang diketuhi berapa lama pemerintahan dipusatkan di Sumpalu, sekitar Nostra Senora del Rosario. Namun perpindahan kesultanan Ternate dan pemukiman induk, soa-sio terjadi beberpa kali dan mempengaruhi arah kaatas dan kabawa pada masyarakat Ternate dan Maluku (utara).

Gambar perpindahan Arah kaatas mengikuti perpindahan kadato Ternate
Sebelum Kadato Ternate atau istana sultan berada ditempatnya yang sekarang, awalnya berada di Foramadiahi. Kemudian perpindahan yang kedua menurut Valentijn, adalah ke wilayah Sumpalu. Di wilayah ini tidak bertahan lama karena sering terjadi penyerangan dari Kerajaan Tidore dan Spanyol dan berpindah ke Ngade Sone pada 1627. Dan yang terakhir di Limau Jore-Jore, saat ini. 

Dalam karya G.K. Schutte, De Indisch Sion: De Gereformeerd Kerk onder de Vereenigde Oost Indische Compagnie (1626-1795), disebutkan bahwa Pemerintahan Kerajaan Ternate pernah berpusat disekitar pemukiman orang Melayu, sebelum ke  Ngade Sone.

Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa pengunaan arah kaatas—kabawah dan kadara—kalao  selalu berubah mengikuti arah istana sebagai pusat pemerintahan. Dari tahun 1257-1627, arah kaatas masih tertuju pada kampung Foramadiahi, Sumpalu. Kemudia tahun 1627-1806, kaatas berubah arah tempat karena istana telah berpindah sekitar kampung Melayu, sebelum ke Ngade Sone  dan Limau Jore-Jore

Setelah Istana Ternate berada di Limau Jore-Jore kemudian diikutsertakan dengan pemukiman Soa-Sio. Sejak itulah pengunaan kaatas berubah arah yang saat ini kita kenal dengan wilayah Utara dengan batas wilayah dari Soa-Sio hingga Tofure. Sementara arah kabawa artinya ke selatan dari kampung Takoma, Tobohoko (Toboko) sampai kampung Rua, selain itu ada juga kampung tenggah, yang terdiri dari kampung Makassar, Cina, Melayu, Arab, Sarani, dan kampung Palembang.






Share:
Komentar

Terkini