Tiga Sub-Etnis di Pulau Taliabu

Editor: Irfan Ahmad author photo
Dua tokoh adat orang Seboyo, di Dusun Ndevak Taliabu Selatan. Sumber Foto; Safrudin Abdulrahman.
Orang Kàdai’s, Mànge’s, dan Sëbojo’s (Kadai, Mange, Seboyo) adalah sukubangsa yang mendiami Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara.  Ketiga sub—etnik  ini menurut tradisi lisan disebut sebagai “orang suku”. Tidak mudah bagi orang Kadai, Mange, dan Seboyo untuk menuturkan kisah tentang asal-usul mereka. Mereka meyakini bahwa masa lalu boboso atau pamaili untuk diceritakan. Meskipun demikian, beberapa informan beranikan diri untuk menceritakan legenda tersebut. Tulisan yang diuraikan di bawah ini, selain mengunakan sumber primer juga mengunakan data etnografi di Taliabu.

Menurut Antropolog Universitas Khairun, Safrudin Abdulrahman dan Andi Sumar Karman yang intens melakukan penelitian terhadap orang Kadai, Mange, dan Seboyo di Taliabu sejak 2001-—sekarang. Mengemukanan bahwa ketiga sub—etnik tersebut, masing-masing memiliki wilayah bermukim. Orang Kadai mendiami wilayah pesisir pada titik-titik tertentu; Orang Mange mendiami wilayah dataran tinggi atau pegunungan, namun  akhir-akhir ini orang Mange lebih cenderung untuk menarik diri untuk bermukim lebih mendekat ke wilayah pesisir; dan Orang Seboyo cenderung mendiami wilayah pedalaman sekitar 5 – 10 Km dari pesisir pantai. 

Loparan Pemerintah Kolonial Belanda di Taliabu juga mencatat bahwa orang Alfur yang mendiami pedalaman Taliabu terdiri dari orang Kadai, Mange dan Seboyo. Sementara di pesisir pantai dihuni oleh orang Sula, Buru,  Seram, dan para nelayan yang berasal dari Tidore, Buton, Bajo, dan Mandar. Pulau Taliabu sebagai sasaran para nelayan karena memiliki kekayaan laut dan hasil hutan berlimpah.

Untuk membedakan dengan tulisan sebelumnya “Orang Taliabu”. Maka pada edisi cengkeh.co kali ini difokuskan pada orang Kadai, Mange, dan Seboyo. Ketiga sub—etnik  ini menurut tradisi lisan disebut sebagai “orang suku”. Baca, https://www.cengkeh.co/2020/01/orang-taliabu.html 

Orang Kadai
Orang Kadai dalam literatur penyebutannya sangat berbeda-beda, ada yang menyebut Kàdai’s, Kada’i, Kadawi, dan Kadae (Zulhani, 1996: 110). Menurut Yance Tureni (2016), Kadai asal kata dari “Kada” (bahasa Kadai) yang bermakna “pegang”. Memegang sesuatu jangan sampai jatuh. Juga bisa bermakna pegang terhadap janji. 

Orang Kadai yang mengunakan pakaian tradisional (fuda) dan mendiami wilayah pedalaman.
Beberapa sumber lisan yang diperoleh dilapangan juga mengemukakan bahwa, orang Kadai berasal dari Tobelo. Mereka lari ke hutan Taliabu akibat dari kalah berperang. Dikisahkan bahwa suatu saat ada seorang lelaki yang berasal dari Sula-Sanana menemukan seorang pemuda yang terkapar di pantai Taliabu. Lelaki yang diduga berasal dari Tobelo itu, sekalipun tidak sadar, ia tetap menggenggam pedang dan perisai dengan erat. Lelaki yang menemukan itu, lalu membawa pulang ke rumah dengan niat menolong serta mengobati sekujur luka ditubuhnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, selalu saja ada yang menanyakan ”siapa lelaki itu?” dan jawaban yang sering dilontarkan “kadahi” artinya saya dapat (bahasa Sanana). Sejak itu, lelaki Tobelo yang ditemukan di pantai tersebut, selalu disapa orang “kadahi”. Seiring waktu berjalan kata “kadahi” disebut menjadi Kadai (Kristofel, 2016).

Orang Kadai yang telah mengakui Pemerintahan tradisional Kesultanan Ternate, berpakaian rapih menungguh kedatangan utusan sultan Ternate. Sumber: Hulstijn. 1918. Plaat, IX.
Orang Kadai sebagaimana mereka menyebut diri mereka menempati wilayah yang meliput bagian timur Taliabu dan sebagian pulau Mangoli (Hulstijn,1918:41). Setelah Kepulauan Sula takluk pada kesultanan Ternate, orang Kadai ikut serta mengakui kedaulatan kesultanan Ternate dan hidup di pesisir-pantai pulau Taliabu (Kolonial Verslak,1881, 212).  

Secara tipologi orang Kadai merupakan tipe masyarakat yang mendiami dataran rendah dan tersebar dibagian timur Taliabu. Hulstijn (1918;37, 39, 41, 75) menyebutkan bahwa, dahulu pemukiman orang Kadai juga dapat dijumpai di pedalaman. Perpindahan orang Kadai dari pedalaman ke pesisir tidak terlepas ajakan sangaji dan kimelaha utusan dari kesultanan Ternate. Setelah mereka mendiami pesisir pantai Taliabu, orang Kadai berkewajiban untuk mengeluarkan upeti tahunan sebagai pengamanan wilayah, pajak bulanan hasil tangkapan atau pengambilan hasil bumi yang terdapat di pulau Taliabu, dan pajak perorangan. Untuk membayar upeti dan pajak pada sultan Ternate, orang Kadai akan mengirimkan sebagian hasil tangkapan penyu (kulitnya), taripang, kerang serta hasil laut lainnya dari hasil perburuan mereka di Selat Capalulu (de Clercq, 1890; 121).

Dalam laporan serah terima jabatan atau Memorie Van Overgave, Residen Ternate J.  H.  Tobias , 1857 dan  C. Bosscher,1859. Disebutkan bahwa, orang Kadai merupakan  penduduk  yang  tidak  bergantung  dalam  satu jenis  mata  pencaharian.  Aktivitas  mereka,  selain  sebagai  nelayan  juga berperan sebagai  petani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orang Kadai merupakan  salah  satu  penduduk yang  terlibat  dalam  aktivitas  perikanan  secara  aktif  sebagaimana  beban  kerja wajib  dan upeti  kepada Sultan  Ternate  atas komoditi  hasil  laut yang mereka peroleh. Hal yang sama juga terdapat dalam laporan serah terima jabatan Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate,1890 yang ditulis oleh Residen Ternate F. S. A, de Clercq,1890; 117).

Hingga  tahun  1918  eksploitasi  hasil  laut  di  Kepulauan  Sula,  terutama penyu,  mutiara, kerang  dan  rumput laut  hanya  dimafaatkan  oleh  sekelompok  kecil  orang Kadai dan Bajo. Hasil tangkapan  mereka  dijual ke orang Cina yang datang dari Ternate secara langsung di lokasi penangkapan (Hulstijn, 1918; 98).

Orang Mange
Menurut cerita masyarakat setempat, asal-usul etnik Mànge’s atau Mange tiak diketahui secara pasti. Meski demikian, mereka mempercayai bahwa etnik Mange masih keturunan dari keluarga Kesultanan Ternate yang diutus ke Taliabu. Cerita ini semakin diyakini dengan adanya sosok kimalaha Bunga, tokoh utama orang Mange. Cerita tentang asal-usul orang Mange dituturkan dengan berbagai versi. Dikemukakan bahwa kata “mange” berasal dari bahasa Buton (Wolio) yaitu ‘mangenge’, artinya “lama”.

Orang Mange di Pedalaman Taliabu. Sumber: Hulstijn. 1918. Plaat, IX.
Penyebutan ini awalnya terkenal di kalangan pelayar Buton. Ketika memasuki Pulau Taliabu, para pelayar Buton bertemu dengan penduduk setempat. Pakaian mereka masih menggunakan bahan dari kulit kayu/cawat dan hanya menutupi kemaluan. Untuk menyebut orang-orang yang ditemuinya tersebut, orang Buton menamainya sebagai ‘ammai mangenge’, artinya “orang lama”. Mungkin yang dimaksud adalah orang yang lebih dahulu menempati pulau Taliabu. Oleh beberapa kalangan, cerita ini disangkal. Meski demikian, kalangan ini juga enggan menyebutkan atau menuturkan menurut cara yang diyakininya (Rainannur, 2015; 183).

Jika benar kata “mange” berasal dari bahasa Buton  yaitu ‘mangenge’ (lama). Maka besar kemungkinan kedatangan orang Buton di pulau Taliabu, wilayah tersebut telah dihuni oleh orang Mange. Mereka diduga berasal dari Selatan Tobelo, orang Boeng. Indikasi ini berkaitan dengan penaklukan wilayah Taliabu oleh Raja jailolo I. Keterlibatan orang Boeng bersama Raja Jailolo I untuk menaklukan wilayah-wilayah Kesultanan Ternate. Sehingga kemungkinan besar orang Mange adalah bagian dari orang Boeng yang membentuk identitas baru, menghindar dari incaran pasukan Ternate yang terus mengejar mereka karena dianggap sebagai pengikut setia Raja Jailolo I pada saat itu.

Oleh Hulstijn (1918;41) pada saat melakukan pendataan pertama kalinya di Kepulauan Sula menemukan bahwa orang Mange tinggal dan menyebar di seluruh pedalaman pulau Taliabu bagian barat (Mantarara). Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil, terdiri dari sebuah keluarga dan saling menghindar untuk bersentuhan secara langsung dengan kelompok lain yang hidup dipessir pantai pulau Taliabu. Orang Mange hidup berpindah-pindah tempat (nomaden) apabila merasa tidak nyaman di tempat yang mereka tempati. Pola hidup yang berpinda-pindah tempat membuat orang Mange tidak mengakui kekuasaan dari Kesultanan Ternate dan menolak untuk mengeluarkan upeti dan pajak perseorangan maupun kelompok. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, komunitas mereka selalu didatangi orang Seboyo sebagai perantara untuk melakukan transasksi “barter” hasil hutan dan laut.

Beberapa informan juga mengisahkan bahwa, dahulu orang Mange hidup di pesisir pantai. Keberadaan mereka di pedalaman tidak lain karena penyerangan terhadap komunitas mereka dan terjadi berulang laki. Salah satu peristiwa yang tercatat adalah perlawanan orang Mange pada 1881. Kejadian ini bermula ketika utusan sultan Ternate diutuskan ke pulau Taliabu.  Setelah mengetahui kedatangan mereka, orang Mange pun menolak kehadiran utusan dari Ternate. Sebagai bentuk penolakan orang Mange membangun benteng pertahanan di muara Way Miha dengan maksud berjaga-jaga bila terjadi penyerangan dari pihak Ternate.

Nampaknya setelah beberapa hari penolakan itu, utusan Kesultanan Ternate bersama posthouder melakukan penyerangan ke wilayah Way Miha. Dalam penyerangan ini orang Mange mengarahkan pasukan secara massal untuk melakukan perlawanan dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kedua pihak. Peristiwa ini membuat pemimpin orang Mange tewas terbunuh. 

Setelah peristiwa tersebut, orang Mange yang kehilangan pemimpin melarikan diri ke hutan. Bahkan setelah keberadaan mereka di hutan akses untuk menuju ke pumkimaan merekapun selalu dirahasiakan (Hulstijn, 1918:  62-63). Faktor inilah yang membuat mereka menutup diri terhadap para pendatang. Pemukiman orang Mange berada di pedalaman dan senang dengan keberadaan sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Orang Seboyo
Sëbojo’sSiboyo, Suboyo atau Seboyo asal kata dari “boyo” (bahasa Seboyo dan Mange) artinya “lelah”. Sementara orang Kadai mengartikan “boyo” yaitu gora/jambu. Konon pada zaman dadulu terjadi penyerangan di pulau Taliabu yang dilakukan oleh sekelompok orang yang datang secara tiba-tiba dari arah laut mengunakan perahu dan membunuh siapa saja yang mereka temui.

Orang Seboyo dan Mange di kampung Pihingtjado yang telah mengakui pemerintahan tradisional kesultanan Ternate. Sumber: Hulstijn, 1917. Plaat, IX
Peristiwa itu membuat sebagian besar orang terbunuh. Mereka yang selamat, terus menghindar dan berlari ke arah hutan karena takut dibunuh. Dalam pelarian ke hutan, mereka terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama terus berlari kearah hutan tanpa berhenti karena merasa ketakutan, sementara kelompok kedua memilih beristrahat karena merasa lelah dan beranggapan mereka tidak lagi dikejar oleh musuh. Kelompok inilah yang kemudian dinamakan orang “boyo” atau orang yang lelah (Lukas Mbawa, 2016). 

Selain cerita di atas juga terdapat versi lain yang dikemukakan oleh  Hasanuddin (2014), bahwa orang Seboyo adalah sekelompok orang yang datang dari Banggai ke Taliabu untuk mencari penghidupan yang lebih baik, dan menghindar dari peperangan yang sering terjadi di wilayah mereka. Asumsi ini muncul karena ada kesamaan antara orang Seboyo di Taliabu dan orang Seboyo yang berada di Teluk Tomini. Belum diketahui apakah orang Seboyo di Teluk Tomini yang bermigrasi ke Taliabu atau sebaliknya.

Pada saat Hulstijn (1918) melakukan pendataan menyebutkan bahwa dahulu orang Seboyo terdapat di wilayah Tengah, Selatan, dan Barat pulau Taliabu, dan di ujung timur yang berbatasan dengan wilayah orang Kadai. Sebagian dari mereka masih menetap dan bertempat tinggal di pedalaman, dan sebagian juga terdapat di pesisir dan mengakui pemerintahan yang dijalankan oleh masyarakat yang mendiami pesisir Taliabu. Orang Seboyo selalu menjaga hubungan baik dengan orang Mange dan menjadi pelantara dengan “dunia luar” atau masyarakat pesisir. Hal ini menunjukan bahwa ada ketegasan bahwa orang Mange lebih menyukai wilayah di Pedalaman ketimbang wilayah pesisir.  

Minimnya sumber, mengakibatkan narasi sukubangsa Kadai, Mange, dan Seboyo tidak dinarasikan secara terperinci. Meskipun penulisan ini telah mengunakan sumber kolonial. Tampaknya sumber kolonial hanya sedikit menguraikan tentang ketiga sukubangsa tersebut, dan sebagian besar sumber kolonial hanya memfokuskan apa yang mereka alami dan amati peristiwa yang terjadi di pesisir pantai pulau Taliabu. 

Dalam beberapa literature, menyebutkan bahwa orang Kadai, Mange, dan Seboyo tidak memiliki sebaran sukubangsa diluar dari Kepulauan Sula mereka lebih memilih menetap di kepulauan tersebut sekaipun mereka harus berpindah-pindah tempat untuk mencari daerah baru yang dianggap cocok untuk mereka. 

Selain pulau Taliabu sukubangsa  Kadai, Mange, dan Seboyo juga bisa ditemui di pulau Mangole. Ketiga sukubangsa hidupnya masih berpindah–pindah (nomaden), bentuk kampung di Mangole dan Taliabu tidak jauh berbeda, kampung yang dihuni oleh orang Kadai, Mange, dan Seboyo. 

Kampung-kampung tersebut berada di pedalaman dan sewaktu–waktu berpindah ke tempat lain. Faktor yang mempengaruhi kepindahan mereka karena, kesuburan tanah yang sudah mulai berkurang atau karena adanya penduduk/warga yang meninggal. Mereka beranggapan bahwa apabila ada warganya yang meninggal, maka daerah tersebut sudah tidak cocok lagi sebagai tempat hunian. Harta yang tidak bisa dibawa mereka musnahkan dengan cara merusaknya atau membakarnya. Bentuk rumah sangat sederhana sekali, berupa rumah panggung dengan atap rumbia dan dinding papan yang sewaktu – waktu akan ditinggal pergi. 





Share:
Komentar

Terkini