Orang Tidore (Bagian 1)

Editor: Irfan Ahmad author photo
Ilutrasi keindahan dan keramian pulau Tidore, 1603. Sumber: Anoniem , Dutch attack on the Portugasse fortress on Tidore. Rijkmuseum Amsterdam Atlas Van Stolk. Number. RP-P-OB-75-322, top1184).
Pulau Tidore bersebelahan dengan pulau Ternate. Tidore berada di bagian selatan dan Ternate di bagian utara. Pulau Tidore merupakan gunung berapi tua dengan ketinggian 1730 di atas permukaan laut dan salah satu pulau penghasil cengkeh dengan kualitas terbaik. Jauh sebelum kedatangan orang Arab di Maluku (utara), Tidore dikenal dengan sebutan Kie Marijang, artinya “puncak gunung yang indah” atau disebut juga dengan Kie Doku yaitu “gunung berapi.” Menurut mitologi orang Tidore, setiap komunitas atau soa (marga) pada zaman dahulu kala dipimpin oleh seorang kepala marga yang dinamai momole, artinya orang yang sakti/berilmu.

Kala itu terdapat beberapa momole di Tidore, diantaranya: Momole Rabu Hale, Momole Jagarora, dan Momole Rato. Kekuasaan para momole terbatas pada wilayah tertentu yang berada di Kie Doku. Dalam mencari legitimasi kekuasaan, para momole tersebut sering bertikai dan didukung oleh anggota komunitasnya masing-masing. Pertikaian tersebut seringkali menimbulkan pertumpahan darah. Usaha untuk mengatasi pertikaian tersebut selalu mengalami kegagalan, misalnya pada nukilan singkat peristiwa berikut.

Suatu ketika pada 846 Masehi, rombongan Ibnu Chardazabah utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad tiba di Kie Doku. Pada saat itu, sedang terjadi pertikaian di antara para momole. Untuk meredakan dan menyelesaikan pertikaian tersebut, salah seorang anggota rombongan Ibnu Chardazabah, bernama Syech Yakub memfasilitasi para momole untuk melakukan rekonsiliasi perdamaian yang disebut Gumira Mabuku. Pertemuan disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Kie Doku. Hasilnya, para momole bersepakat bahwa siapa yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan wajib memekikkan “To ado re!”, sebagai penanda bahwa ia telah sampai di puncak Kie Doku yang disebut Marijang. 

Dalam pendakian menuju ke puncak Kie Doku, para momole yang bertikai tersebut tiba pada saat yang sama sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syech Yakub juga tiba di lokasi, lalu berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore. Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang. Konon, sejak peristiwa tersebut kata Tidore, sebagai kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Thadore, artinya “aku telah sampai.” Disepakati untuk menggantikan kata Kie Duko dan Marijang menjadi nama sebuah pulau menjadi Tidore (Fardi Abubakar, 2017;8). Selain kesepakatan kata Tidore digunakan untuk menunjukkan Kie Duko, Syech Yakub juga melakukan rekonsiliasi perdamaian yang dinamakan Togorebo (menjaga haluan). Dalam pertemuan ini disepakati beberapa poin.

  1. Bidang agama, memeluk agama islam, menjalankan syariat agama Islam, meninggalkan kepemimpinan kolano dan momole menjadi sultan, boldan menjadi kesultanan, pemimpin spritual sultan adalah sowohi dan adat Tidore dengan filosofi yang bermakna “Adat bersendikan agama dan agama bersendikan kitabullah.”
  2. Bidang ekonomi, melakukan perdagangan cengkih untuk menopang jalannya pemerintahan.
  3. Bidang politik, membentuk struktur kesultanan untuk membantu sultan dalam menjalankan pemerintahan, melakukan perluasan wilayah untuk mengenalkan agama Islam serta mengimbangi (menjaga haluan) pusat Kesultanan Tidore di wilayah-wilayah pinggiran.
Peta Pulau Tidore, Mare dan Moti
(Sumbar: Vingboons, Johannes De Molucse Eijlanden, 1665-1668.



Perpindahan Pusat Kesultanan Tidore
Pusat pemerintahan kesultanan Tidore awalnya dikenal dengan sebutan limau di masa Pra-Islam dan masa Islam disebut sebagai kadato (keraton). Sejak berdirinya limau atau kadato di Tidore, mengalami beberapa kali perpindahan pusat pemerintahan baik karena faktor alam maupun politik yang berlangsung pada waktu itu. 

Sumber-sumber kolonial sempat mencatat dan memberi keterangan awal pusat pemerintahan di Kadato Sela Waringin, Mareku hingga hijrah ke Kadato Kie dengan berbagai peristiwa politik yang terjadi pada waktu itu. Sayangnya beberapa catatan masih mengunakan bahasa Spanyol, Portugis, dan beberapa mengunakan bahasa Belanda. Sementara tradisi lisan yang diketahui oleh para leluhur saat ini pantang untuk diceritakan. 

Limau Balibunga
Menurut Salim Tuguira (63), Sela menjadi pusat pemerintahan terhitung sejak kekuasaan Kolano Syahjati, Busamuangi, Suhu, Balibunga, Duhu Madoya, Kie Matiti, Seli, Mategana, hingga Tjaliati. Pusat “kota” berada di Limau Balibunga. Sela diyakini sebagai adalah gamtina (pemukiman tua) awal yang didiami oleh sembilan soa. Semasa kolano Seli, pusat pemukiman kemudian dipindahkan dan di sebut “Ela”. Di pemukiman ini berkuasa tiga kolano secara bergantian. Semasa memerintahnya kolano Tjaliati, diyakini kontak awal dengan Syehk Yakub dan menerima ajaran agama Islam.  Tjaliati pun kemudian diberi nama Djamaluddin dan memakai gelar sultan. Semasa pemerintahan sultan Jamaluddin (1495-1512), ia bersama rakyatnya dan Syehk Yakub bahu-membahu membangun sebuah masjid awal di Sela(i), Tidore.

Untuk menjalankan perekonomian, sultan Tidore, Jamaluddin, melakukan kontak perdagangan cengkeh dengan para saudagar yang datang dari Jawa dan Cina. Djamaluddin kemudian mengangkat Sangaji Malofo sebagai perwakilan sultan untuk melakukan perdagangan demi menopang jalannya pemerintahan. Hal tersebut menurut Nani Jafar (55), terakam dalam sastra lisan orang Tidore yang saat ini masih tersimpan dalam memori perangkat adat Tidore secara turun temurun pada sumpah jabatan sangaji dalam dolabololo pelantikan sangaji sebagai berikut:

To torine toma Seli
Gam gumafu madoya
To marasa laha ua
To mangali toma topo
Topo kota toma ngosi 
Ngosi kota tomayuo
Sodola ma banga tina
To sibane ma bane-bane
Kota jou ma sangaji
Toma gam Mareku.

Nani Jafar (55), mengungkapkan bahwa Seli adalah pusat kerajaan Tidore awal. Hal ini dibuktikan dengan adanya sembilan soa yang telah terbentuk. Sembilan soa, yang belakangan dikenal dengan soa-sio, awalnya terdapat di Seli kemudian dipindahkan ke Mareku. Akan tetapi, pada saat itu pusat kekuasaan tidak disebut kerajaan, melainkan limau. Limau ini mencakup keterwakilan dari sembilan soa tersebut. Setelah orang Seli mengenal dan menganut agama Islam, muncul kesepakatan untuk memindahkan Limau Balibunga ke tempat yang baru, yaitu di Mareku.

Beberapa informan mengatakan bahwa masa pemerintahan di Limau Balibunga, sangat sulit diperoleh. Hal ini disebabkan oleh belum adanya tradisi tulis pada saat itu. Karena hanya mengandalkan tradisi tutur/lisan, maka sebagian besar informasi tentang masa pemerintahan hanya diketahui para tetua.

Kadato Sela Waringin
Sela adalah nama pemukiman tua/pemukiman awal yang terdapat sembilan soa. Pemukiman Sela telah berpindah sebanyak tiga kali (Sela—Eli—Seli). Sayangnya, tidak ada sumber tertulis yang menjelaskan di mana letak awal pemukiman ini berada, karena dianggap boboso (pemali) oleh berbagai informan. Menurut Salim Tuguira (63), penamaan Sela Waringin di Mareku adalah nama yang diambil dari Kampung Sela. Hak ini dimaksudkan untuk mengingatkan rakyat Tidore pada masa itu bahwa Mareku—di mana tempat kadato/istana sultan dibangun—memiliki hubungan atau ikatan yang kuat dengan Limau Balibunga yang ada di Sela. Sementara untuk penamaan Waringin, karena saat itu bangunan kadato menggunakan bahan dasar dari pohon Waringin (beringin), meski dengan konstruksi bangunan yang sangat sederhana. 

Pemukiman awal Mareku dan kawasannya. Serta benteng pertahanan pertama yang dibuat oleh orang  Spanyol di atas bukit yang berdampingan dengan Istana Sultan Tidore/Sela Waringin. Sumber: “Fort Mareku.” Contained in the Bodel Nijenhuis Collection. The others are: Batavia, COLLBN 002-10-034. 
Informasi lainnya dikemukakan oleh Umar Sangaji (66) bahwa Sela Waringin berada di Mareku. Sultan yang pertama kali memimpin di Kadato Sela Waringin adalah Sultan Al Mansur. Pemindahan pusat kesultanan ke Mareku oleh Sultan Al Mansur karena terkait dengan aktivitas perdagangan pada saat itu. 

Sultan Tidore, Al Mansur (1512-1526) digambarkan sebagai seorang Muslim (moor) yang taat, tubuhnya kekar, gagah, berpenampilan rapi, bersahaja, cerdik, sanggup belajar dengan cepat, bijak, memiliki naluri memerintah, dan mempunyai cara komunikasi yang baik kepada siapa saja. Selain itu, ia juga seorang astrolog yang andal(Des Alwi, 2005; 326-327). Sejak diangkat menjadi Sultan Tidore, Sultan Al Mansur diberi gelar Malikiddin Mansur Kaicil Mulako dan bertakhta di istana Sela Waringin, Mariecho (Maswi M. Rahman, 2006;41). Pemukiman Mareku terletak di bagian barat pulau Tidore di atas bukit yang curam dengan ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Menurut Valentijn (1724), Mariecho, Marieco, Mariku, Mareko, Mareiku, (meski disebut berbeda, tetapi semuanya menunjuk kepada satu tempat yang sama, yakni Mareku) adalah tempat kedudukan penguasa  Tidore (Valentijn  1724;160).

Dalam sejarah kesultanan Tidore, Mareku mendapat pandangan lebih. Sebagai pusat kekuasaan Tidore, Mareku dipandang memiliki harkat tersendiri sebagai sumber kegiatan sultan. Mareku juga dipandang sebagai pusat kesaktian yang disandang para sultan (Adnan Amal, 2010; 98). Selain itu, Mareku dianggap pusat suci bagi orang Tidore karena prestisenya sebagai sumber dari para penguasa awal di Tidore. (Andaya 1993;51)

Hancurnya Mareku 
Tidore selalu terlibat persaingan ketat dengan Ternate dan menimbulkan ketegangan, sekalipun kedua kesultanan ini sering melakukan “perkawinan silang” di antara bangsawan untuk menghindari konflik terbuka (Ibid). Akan tetapi, “perkawinan politik” ini hanyalah keakraban semu. Sejak kedatangan ekspedisi Spanyol di Tidore, Sultan Al Mansur berhasil menjalin hubungan sedemikian eratnya, sehingga suatu perjanjian militer antara Tidore-Spanyol dibangun. 

Penyerangan Mareku, Tidore oleh pasukan Ternate dan Portugis dibawa perintah Gubernur Antonio Galvao pada 21 Desember 1536. Peristiwa tersebut membuat Deyalo (Putra Mahkota Ternate, 1522-1529) anak dari Sultan Ternate, Bayan Sirullah (1500-1522) dan Nukila, mengalami luka yang cukup parah dan meninggal dunia. Situasi politik yang tidak terkendali di Ternate membuat Deyalo meminta perlindung kepada Sultan Al-Mansur, Kakek—nya di Tidore dan terlibat dalam perang ketika Portugis dan Ternate menyerang. (Sumber: Jan en Casper Luyken, Boekillustratoren, 1672-1708. A45205. Amsterdam Museum).

Persekutuan Tidore-Spanyol untuk mengimbangi persekutuan serupa antara Ternate-Portugis. Perjanjian militer yang dibuat kedua kerajaan Maluku dengan mitra asingnya itu dimaksudkan untuk memberikan rasa aman. Akan tetapi, pada akhir tahun 1524, sebuah pasukan gabungan Ternate-Portugis berjumlah 600 serdadu dipimpin Taruwese, menyerang dan membakar ibu kota Kesultanan Tidore di Mareku (Adnan Amal, 2010; 97-98), dan serangan yang kedua kalinya berlangsung pada 1529. Pada peristiwa penyerangan yang kedua terhadap pemukiman Mareku ini, Portugis membakar habis dan menguasai atau mendudukinya selama beberapa hari. Akibat peristiwa ini, Kaicil Rade bersama Sultan Amirudin Iskandar Zulkarnain (1529-1547) mengembalikan pusat kekuasaan Tidore ke Seli (Irfan Ahmad, 2017; 66-68).

Tidak ada keterangan tertulis berapa lama pusat kerajaan berada di Seli. Namun, menurut  Nani Jafar (2019) setelah penyerangan di Mareku, Kaicil Rade dan Sultan Iskandar Zulkarnain mengembalikan pusat kerajaan di Seli untuk mengatur perdamaian antara Tidore dan Ternate.

(Bersambung dibagian 2)


Share:
Komentar

Terkini