Orang Tidore (Bagian 2)

Editor: Irfan Ahmad author photo
Pemandangan Pulau Tidore (1601) dengan kapal Amsterdam dan Gouda pada perlabuhan (Sumber Gambar: Robert Parthesius, 2010; 72)
Setalah kehancuran Mareku Kadato Sela Waringin di Mareku karena serangan yang dilakukan. Pusat kesultanan Tidore kemudian hijrah ke Toloa. Perpindahan pusat kesultan Tidore ini dimasa pemerintahan sultan Alauddin Syah alias Mole Majimu (1599-1626). Baca Juga: https://www.cengkeh.co/2020/04/orang-tidore-bagian-1.html

Kadato Biji Nagara
Kadato Biji dibangun pada 1600 oleh Sultan Alauddin Syah. Penamaan Kadato Biji (anak kadato) sebagai penghormatan kepada Kolano Tomabanga atau Kolano Jin yang pernah dan pertama menjadi penguasa Toloa sebelum adanya kesultanan Tidore. Ia yang disebut sebagai penguasa/raja belantara yang berada di gamyou. Selain penyebutan Biji, didapati juga sebutan Kadato Biji Nagara yang diartikan sebagai “anak negeri”. Penamaan ini dikaitkan dengan legenda Tidore yang menyatakan bahwa Toloa merupakan pemukiman awal orang Tidore yang kala itu masih berada di gamyou (Maswi M. Rahman, 2006;5,7)

Sultan Alauddin memilih Toloa sebagai ibu kota kerajaan Tidore karena bermaksud menyatukan gimalaha Toloa yang dipimpin oleh Kolano Tomabanga yang saat itu belum menganut agama Islam. Karena itu, upaya ini membutuhkan pendekatan khusus. Caranya dengan menikahkan salah satu putra dari Sultan Alauddin dengan Boki Bola, puteri dari Kolana Tomabanga. 

Selain alasan pemindahan tersebut, pemindahan itu dimaksudkan untuk memudahkan kontrol atas Kesultanan Ternate melalui perairan terdekat. Limau Balibunga yang berada di Sela, Kadato Sela Waringin yang berada di Mareku, serta pelabuhan Doro Hate Kananga yang berdekatan dengan perairan Ternate sehingga aktivitas Kesultanan Ternate mudah dikontrol dari Tidore (Amin Faaroek, 2016; 4). Peran pelabuhan sangat penting dalam aktivitas perdagangan kala itu. 

Denah Benteng Toloa (Sumber: dokumen tim penelitian Balai Arkeologi Maluku, 2019).
Aktivitas dagang dengan cara barter antara Tidore dengan orang Melayu, Cina, Arab, Spanyol dan saudagar dari Jawa. Setidaknya ada tiga pelabuhan penting kala itu, yakni pelabuhan Doro hate Kananga, Tanjung Mareku, dan Mareku (Sumpodo). Pelabuhan Doro hate Kananga saat ini berada di Tongwai. Pelabuhan lainnya terletak di Tanjung Mareku (saat ini kelurahan Rum). Sementara untuk pelabuhan Kesultanan Tidore yang diperuntukkan bagi sultan dan bangsawannya berada di Mareku. 

Selain alasan yang diuraikan di atas, pemindahan kadato Tidore ke Toloa karena wilayah ini dianggap  terdapat enam soa (marga) yang lihai dalam berperang. Ini terbukti dengan adanya perlawanan kepada pemerintah Belanda dilakukakan melalui Toloa.

Andaya (1993;220,243) mengatakan bahwa Toloa adalah pemukiman kuno penguasa Tidore. Toloa dipandang dan dihormati. Di tempat inilah kaicil Nuku menolak tawaran kerjasama pihak Belanda dengan meninggalkan Toloa pada 1780. Nuku melakukan ini sebagai bentuk sikapnya yang tidak sepakat dengan bangsawan Tidore yang menerima tawaran kerjasama dari Belanda.

Toloa menjadi basis pertahanan ketika Nuku memelakukan perlawanan terhadap Belanda. Pada 14 Juli 1780, melalui perintah Gubernur Alexander Cornebe (1780-1793), Toloa diserang dengan kekuatan empat kora-kora yang ditumpangi 100 orang Eropa dan pasukan Alfur/Alifuru dari Ternate. Negeri Toloa lalu dibumihanguskan. Sebagian besar para pengeran, pejabat kesultanan (hukum, sangaji, kimalaha) dan pempinan perlawanan dari Toloa di tangkap dan dibawa ke Ternate (Muridan Widjojo, 2013; 81, 85, 93,190).

Oleh La Raman (2010;2) ketika Nuku berjuang melawan Belanda, berbagai peralatan perang (parang, pisau dan tombak) yang digunakan oleh pasukan Nuku,  salah satunya dibuat oleh pandai besi di Toloa. Tradisi membuat parang ini masih terjaga sampai saat ini.

Setelah penyerangan di Toloa, oleh Gubernur Cornebe, memutuskan untuk mengangkat/menobatkan Patra Alam atau Sultan Tidore, Badarudin (1780-1783) yang berlangsung di Batavia (Jakarta). Pengangkatan Sultan Badarudin seakan-akan memberikan suatu penghinaan di atas luka. Pengangkatan sultan Tidore ini diprotes keras oleh Nuku karena dianggap bertentangan dengan adat istiadat Tidore. Protes ini terdengar oleh Gubernur Cornebe. Akibatnya, penyerangan atas Toloa kembali terjadi yang dilakukan secara bersama-sama oleh Sultan Badarudin dan pasukan Gubernur Cornebe (Muridan, 2013:83-84). 

Tidak banyak keterangan yang diperoleh berkaitan dengan berapa banyak sultan berkuasa di Kadato Biji Nagara, Toloa. Namun, bila dirunut proses pembangunan Kadato Biji Nagara pada 1600 dan  berakhir pada 1780 akibat serangan selama dua kali yang menyebabkan terbakarnya Kadato Biji Negara oleh Belanda-Ternate, maka pemerintahan di Kadato Biji Negara dapat diperkirakan berlangsung kira-kira selama 180 tahun, dan bertakhta sebanyak 10 sultan.

Kadato Soarora
Setelah Sultan Tidore, Saifuddin atau Jou Kota atau Golafino (1657-1689) bertakhata dan memerintah ± 3 tahun di Toloa, ia berkeinginan untuk memindahkan pusat kekuasaan (kadato) di suatu tempat yang baru yang terletak di bagian timur pulau Tidore. Hal ini dilandasi perseturuan antara Tidore dan Ternate-Belanda yang semakin menghangat untuk merebut Pulau Makeang (Maswi Rahman, 2006:5). Sultan Saifuddin meyakini bahwa pemukiman dan kadato yang layak, seharusnya di dataran yang luas dan berhadapan langsung dengan matahari terbit, yang berada di bagian timur pulau Tidore.

Dorongan perpindahan ini, selain karena faktor politik antara Ternate dan Tidore, terdapat juga motif ekonomi di baliknya. Secara geografis, Pelabuhan Tanjung Mareku dianggap sangat tidak menguntungkan karena terlalu berdekatan dengan pelabuhan Talangame di Ternate. Sementara Pelabuhan Doro Hate Kananga (Tongwai) berhadapan langsung dengan lautan bebas sehingga tidak efektif untuk aktivitas dagang.

Terlepas dari alasan politik dan ekonomi, pusat pemerintahan di Mareku, Seli(a), dan Toloa dianggap tidak menguntungkan karena tidak sejalan dengan tradisi dan kosmologi orang Tidore. Pusat pemerintahan (kadato) yang berada di bagian barat pulau Tidore, suatu posisi yang berhadapan dengan matahari terbenam, dianggap tidak baik secara kosmologis. Karena itu, melalui musyawarah antara sultan dengan para bobato, diputuskan untuk memindahkan pusat kerajaan ke bagian timur pulau Tidore. Setelah ritual adat kololi kie (suatu ritual mengelilingi pulau) dilakukan oleh sultan dan perangkat adanya, maka ditemukan sebuah lokasi yang sangat luas dan stategis bernama “Timore”/Timur (Amin Faaroek, 2016;7).   

Meskipun dalam keterangan para informan menyebut “Limau Timore”, akan tetapi “limau timore” yang dimaksud bukan berarti sebuah kadato. Limau Timore menunjukkan arah, yakni sebuah nama tempat yang berada di sebelah timur Pulau Tidore. Usman (2019) membenarkan adanya perpindahan kadato dari Toloa ke Timore. Sultan Tidore saat itu membangun Kadato Soarora. Saat ini, di atas bekas lokasi kadato ini berdiri bangunan Sekolah Dasar Negeri 1 Tidore. Penamaan nama kadato menjadi Kadato Soarora mengindikasikan kuat bahwa tempat itu menunjuk ke Toloa. Soarora yang berarti enam marga merupakan identitas yang hanya terdapat di Toloa.  Sayangnya, informasi sangat sedikit tentang berapa lama dan sultan siapa saja yang memerintah di kadato ini. Akan tetapi, diketahui bahwa setelah pemindahan kadato ke wilayah timur, wilayah tersebut mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat cepat.  

Menurut Amin Faroek (2016;31), Sultan Saifuddin yang dikenal sebagai “Jou Kota” karena kemampuannya membangun Tidore seperti sebuah kota. Gelar “Jou Kota” bermakna sebagai “sultan pembangunan kota.” Ia membangun fasilitas kota di Tidore, seperti masjid, jembatan sultan, Dou-Dou Kolano dan sebuah tempat berlabuhnya armada umum yang disebut Gurua Tagalaya. Selain itu, Sultan Saifuddin juga mencetuskan sistem pemerintahan baru yang dikenal dengan “Kolano se Ibobato Pehak Raha se Isuduru”, yang berarti “Sultan bersama empat menteri dan stafnya”.

Sultan Tidore, Saifuddin Iskandar Zulkarnain atau dikenal dengan sebutan Galafino (1657-1689). Adalah orang pertama yang menghendaki agar Kesultanan Jailolo dihidupkan kembali. Beberapa surat yang dikirim kepada Gubernur VOC, Padtbrugge Saifuddin selalu meminta agar Kesultanan Jailolo dihidupkan kembali dan Kaicil Alam – penerus takhta Kesultanan Jailolo dipulihkan kekuasaannya sebagai Sultan Jailolo. Alasan-alasan utama yang diajukan Saifuddin adalah restorasi Kesultanan Jailolo akan mengatasi kemelut yang melanda Maluku dan memulihkan pedamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat. (Sumber Gambar: Burnet, 2011).
Sultan pun melakukan musyawarah bersama Dewan Menteri yang terdiri dari Jojau (Perdana Menteri), Tullamo (Menteri Sekretaris Negara), Pihak  Kompania (Pejabat di lingkungan Pertahanan dan Keamanan) dan Pihak Labee (Pejabat di lingkungan Peradilan). Musyawarah tersebut menghasilkan tiga keputusan penting, yaitu: (1) Azas Pemerintahan; (2) Azas Hubungan Sosial; (3) Azas Perekonomian. 

Sementara, azas pemerintahan ditetapkan sebagai berikut: 1) aga loa se banari (asas untuk bertindak jujur, adil dan benar); 2) Kie se kolano (asas integralistik antara pemimpin dan yang dipimpin, serta menyatunya berbagai komponen bangsa; 3) Adat se nakodi (asas kemanusiaan yang beradab); 4) Atur se aturan (asas pelimpahan wewenang); 5) Fara se filang (pembagian hasil yang diserahkan pada pemerintahan Nyili); 7) Syah se fakat (asas musyawarah dan mufakat).

Ibu kota kerajaan di Soa-Sio digambarkan sebagai "kota yang benar-benar paling indah" sebagai hasil dari upaya Sultan Tidore, Amir Bifadlil Aziz Muhiddin (1728-1756) untuk membuatnya lebih seperti sebuah kota Belanda. Namun, kota ini kemudian hancur karena terjadi pertempuran sengit antara Tidore dengan Belanda. Istana kediaman sultan dan masjid juga tidak luput dari pembakaran dalam peristiwa itu (Andaya, 1993;228). 

Peristiwa ini dipicu oleh pelantikan Hairul Alam Kamaluddin atau Kaicil Asgar sebagai sultan Tidore yang berkuasa sejak 1784 hingga 1797 oleh Belanda.  Pengangkatan Hairul Alam Kamaluddin sebagai sultan baru oleh Belanda ini mendapat penolakan keras di kalangan Tidore. Sultan Kamaluddin lalu ditahan Belanda di Ternate untuk mencegah terjadinya kontak dengan Nuku yang mungkin akan mengajaknya bergabung sehingga dapt memperburuk situasi bagi Belanda. 

Di Ternate, Belanda memberikan suatu keputusan yang menguntungkan bagi sultan dengan membangun kediaman bagi mereka di Ternate. Sultan Kamaluddin bersama sejumlah keluarga dan pengikutnya tinggal di kadato yang dibangun oleh Belanda untuk mereka di Ternate. Sebenarnya pihak Belanda melakukan ini agar mudah mengontrol mereka. Di balik tindakan ini, dibangun asumsi sebagai pembenaran bahwa pusat pemerintahan Tidore telah hancur karena perang dan masih dalam sengketa: apakah Tidore yang harus dibangun kembali terletak di Soa-Sio atau Toloa (Andaya,1993;229). Hingga saat ini, kediaman Sultan Tidore di Ternate ini dikenal dengan sebutan “Kadato Tidore”.

Kadato Kie
Semasa Sultan Tidore, Zainal Abidin (1806-1810) bertakha, ia tidak mendiami kadato yang telah ada di Tidore ataupun Kadato Tidore di Ternate. Zainal Abidin lebih memilih pergi meninggalkan Tidore menuju Maba untuk menjalankan aktivitas pemerintahannya. Pada masa pemerintahan Zainal Abidin, kondisi politik-ekonomi mendapat intervensi dan tekanan oleh Belanda. Sultan keberatan dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Belanda. Keberatan ini ditunjukkan sultan dengan tetap melakukan perlawanan bersama pengikut-pengikut setianya di Maba yang dikenal dengan gam range (tiga negeri) yaitu Maba, Patani, Weda. Itulah kenapa julukan “Jou Maba” (sultan Maba) melekat pada Zainal Abidin. Penarikan pajak yang diterapkan oleh Belanda di Tidore ditentang oleh Zainal Abidin. Sultan bersama rakyat gam range terus melakukan perlawanan selama tiga tahun untuk mempertahankan kedudukannya dan membela Tidore. Sayangnya usaha ini tidak membawa hasil yang memuaskan. Tidore dan sekitarnya digempur oleh suatu ekspedisi Hongi Balangenge yang terdiri dari pasukan Belanda dan Ternate. Akibat serangan ini, reputasi sultan semakin menurun. Bahkan, aa nyaris mati kelaparan. Hingga mangkat, Zainal Abidin tidak kembali ke Tidore (Amin Faroek, 2006; 35).

Kadato Kie. Kadato ini dibangun pada 1811 saat berkuasanya Sultan Muhammad Tahir (1810-1821). Bangunan Kadato Kie baru dapat diselesaikan 40 tahun kemudian pada saat Sultan Mansur Sirajuddin naik takhta (1821-1856). Lamanya pembangunan karena adanya gempa bumi, sehingga sultan merasa tidak nyaman dan membuat kediaman sultan di samping Kadato Kie yang dikenal dengan Kadato Tui kemudian berpindah tempat dan membangun Kadato Ijo. (Sumber gambar: Antoine Auguste Joseph, Tidore eiland, Soa Siu. Nomor inventaris: RV-60-79c1).
Setelah mangkatnya Sultan Zainal Abidin, ia digantikan oleh Sultan Muhammad Tahir Muijuddin (1810-1821). Satu tahun menjabat sebagai sultan Tidore, Sultan Muhammad Tahir Muijuddin membangun sebuah istana untuk ia tempati. Ia memanggil beberapa ulama untuk mendiskusikan pembangunan istana dan masjid. Selain itu, sultan juga mengirimkan utusan di wilayah Maba, Patani, Weda, dan Raja Ampa untuk menyampaikan berita tentang pembangunan istana sultan dan masjid. Himbauan dan ajakan sultan ini disanggupi. Lalu berdatanganlah para tukang dari Maba, Patani, Weda, dan Raja Ampa. Rakyat Tidore bersama para utusan tukang dari berbagai daerah tadi yang dipimpin oleh seorang tukang dari marga Kipu Bela Toduho bahu-membahu membangun istana sultan. Istana yang dibangun bergaya arsitektur yang dikenal dengan “Lang Kie Jiko Sorabi”. Kadato Kie diibaratkan seperti Hai Mole, yaitu kalajengkin jantan (Ibid;36).

Gaya arsitektur ini tampak mulai dari kepemilikan lahan yang luas, bentuk, serta bahan bangunan yang digunakan. Kadato Kie memiliki dinding yang kokoh karena sebagian besar terbuat dari kalero. Kadato Kie yang dibangun pada 1811, sangat berbeda dengan kadato yang ada sebelumnya yang masih berbentuk semi parmanen (Maswi Rahman, 2006:7). Kadato Kie juga dilengkapi dengan sebuah pandopo (ruang pertemuan sultan dan para menteri dan bobato), Ngara Lamo (lapangan besar sebagai tempat di mana acara-acara kesultanan dilakukan yang dihadiri oleh bangsawan Tidore dan rakyat Tidore), Parseban (tempat bobato akhirat, imam masjid berserta para modim untuk melakukan ritual tahunan keagamaan), rumah untuk dano-dano (rumah untuk anak sultan) serta sebuah pos jaga yang berdiri kokoh (Amin Faroek, 2006;8). 

Pembangunan Kadato Kie memakan waktu yang cukup lama, yakni berlangsung selama 51 tahun, dari tahun 1811 hingga 1862. Proses pembangunannya melibatkan rakyat Tidore. Beberapa sultan yang pernah menempati Kadato Kie antara lain: Sultan Muhammad Tahir Muijuddin,  Sultan Ahmad Mansur Sirajuddin (1821-1857), Sultan Ahmad Saifuddin (1857-1865), Sultan Ahmad Fatahuddin (1865-1877) dan Sultan Ahmad Qawiyuddin/Syahjuan (1877-1905). Berdasarkan masa pemerintahan para sultan ini, maka dapat diperkirakan bahwa istana pernah dihuni selama kira-kira 101 tahun lamanya. 

Pada akhir masa pemerintahan Sultan Ahmad Qawiyuddin atau Sultan Syahjuan (1905), Tidore mengalami perang saudara. Perang ini timbul karena diprovokasi oleh Belanda. Akibat peristiwa ini, Kadato Kie yang sebelumnya merupakan pusat aktivitas pemerintahan, akhirnya ditinggalkan karena terjadi kekosongan pemerintahan sejak 1905-1946 (kekosongan ini berlangsung selama 42 tahun). Kadato Kie yang terlihat mewah dan kokoh mengalami nasib yang buruk dan hancur total. Kadato ini baru dibangun kembali ketika Sultan Tidore Hi. Djafar Syah (1999-2012) berkuasa. Atas inisiatif sultan, Kadato Kie dibangun kembali pada tahun 2000 di lokasi yang sama. Kontruksi bangunan juga dibuat serupa dan selesai dibangun pada 2010. Kadato yang baru ini di tempati Sultan Djafar selama tiga tahun sebelum akhirnya mangkat.

Kadato Tui
Kadato Tui dibuat oleh Sultan Muhammad Tahir Muijuddin sewaktu membangun Kadato Kie (1811). Kadato Tui dibuat pada 1912 yang diperuntukkan bagi sultan serta menjalankan pemerintahan sementara karena menunggu selesainya pembangunan Kadato Kie

Rumah Sultan Tidore, Mansur Sirajuddin, pada 1821. Rumah Sultan ini, dikenal sebagai Kadato Tui (Sumber: Bik, Jannes Theodorus, Huis van de Sultan op Tidore. Rijksmuseum Thesaurus: RM0001.THESAU.98848 Tidore. europeana.eu)
Maswi M. Rahman (2006;7) mengungkapkan bahwa pembuatan Kadato Tui, yaitu kadato yang terbuat dari bambu yang dibangun pada 1822, semasa Sultan Ahmad Mansur Sirajuddin (1821-1857) memerintah. Kadato yang dibangun dengan kuntruksi bambu ini karena beberapa bagian Kadato Kie saat itu mengalami kerusakan akibat dari tanah goyang (gempa bumi) yang dahsyat. Peristiwa ini membuat sultan merasa tidak aman dan memerintahkan untuk membuat Kadato Tui bersebelahan dengan Kadato Kie agar bisa menjalankan aktivitas pemerintahannya.

Pada masa berkuasanya Sultan Tidore Ahmad Mansur Sirajuddin, ia juga berupaya untuk melanjutkan pembangunan Kadato Kie. Ia menggagas pembuatan Kadato Mare dengan konstruksi dari batu bata dengan bahan baku tanah (mare artinya tanah). Karena itu, kadato ini sering juga disebut sebagai Kadato Mare. Selain Kadato Mare, dibuat juga sebuah kadato yang dinamakan Kadato Ijo. Penyebutan ijo (hijau) karena kadato ini berwarna hijau. Karena membuat sebanyak empat kadato semasa jabatannya, orang Tidore lalu melabeli Sultan Ahmad Mansur Sirajuddin dengan ungkapan “Sultan Kadato Nyinga Mangaro”, artinya, “mengikuti keinginan hati sultan”, untuk membangun kadato.



Share:
Komentar

Terkini