Jejak Keraton Ternate

Editor: Irfan Ahmad author photo
Lukisan Kadato Ternate 1820-1835 (Sumber: Quirijn Maurits Rudolf, Maritiem Museum Rotterdam)

Kesultanan Ternate merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara, yang berdiri pada abad XIII. Kesultanan ini didirikan berawal dari meningkatnya aktivitas sosial dan ekonomi. Dari aktivitas pedagang asing dari Arab, India, Cina, Makassar dan Melayu itulah kepala marga (soa) atau dalam bahasa Ternate Momole membentuk sebuah kerajaan. 

Atas prakarsa Momole itulah diadakan musyawarah yang dinamakan fowaro la madiahi (Foramadiahi) untuk mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai kolano (sultan). Dari hasil musyawarah itu, Mamole Ciko diangkat sebagai kolano pertama di Kesultanan Ternate  pada 1257  M  dengan gelar Baab Manshur Malamo yang bertakhta di “Kadato Foramadiahi”.

Istana atau Kadato (bahasa Ternate) atau keraton berasal dari kata ka-ra-tuan yang berarti tempat tinggal ratu atau raja/istana raja. Fungsi keraton adalah Sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya, sebagai pusat pemerintahan dan sebagai pusat kebudayaan serta pengembangannya. Keraton memiliki arti sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, filsafat dan kebudayaan.Istana diposisikan sebagai tempat yang memiliki kedudukan identitas adat tertinggi. 

Oleh Dwipayana (2004:32), istana dalam sejarah perkembangannya menjadi institusi kekuasaan yang secara politik memiliki bobot yang sama dengan institusi kebangsawanan itu sendiri. Istana dijadikan sumber acuan nilai-nilai adat yang berhubungan erat dengan sumber kepercayaan yang bersifat magis. Gedung ini merupakan tempat yang ditinggali orang-orang mulia dengan kedudukan tertinggi. 

Istana digunakan sebagai tempat bersemayamnya para sultan yang berkuasa yang dipundaknya diberi gelar sebagai “sirajul gulub” atau cahaya hati. Gelar tersebut menjadi sebuah pembenaran bahwa sumber kekuasaan yang diperoleh para Sultan dalam menjalankan pemerintahan berasal dari sumber suci, takni Tuhan. 

Alasan inilah yang membentuk pemikiran bahwa para keturunan Sultanlah yang memiliki hak untuk tetap berkuasa. Legitimasi magis-religius ini menjadikan kadaton bukan hanya semata-mata sebagai tempat hunian Sultan dan kerabatnya, melainkan dipandang sebagai suatu pengakuan atas keberadaan Kesultanan Ternate dan memperkokoh kekuasaan.

Dari Foramadiahi ke Limau Jore-Jore
Keberadaan istana sultan Ternate, yang sekarang ada di Limau Soki-Soki merupakan hasil perpindahan yang keempat. Awalnya istana sultan berada di Foramadiyahi sebagai istana pertama pada pemerintahan Sultan Tjitjo alias Baab Mansur Malamo Kesultanan Ternate yang dimulai  pertengahan abad XIII  (1257). Selama periode kedaton pertama telah bertahta atau memerintah 29 orang Sultan selama 370 tahun (1257-1627), dengan Sultan terakhir adalah Sultan Muzaffar (1610-1627). 

Perpindahan kedua dilakukan oleh Sultan Baabullah. Ia menjadikan benteng Nostra  Senora  del Rosario yang dilengkapi dengan istana yang megah. Beliau merenovasi dan memperkuat benteng tersebut serta merubah nama benteng menjadi Gamlamo, artinya kampung besar. Sultan Baabulah bersama Kaicil Saidi (anak sultan) besama perangkat kesultanan Ternate menempati Gamlamo sampai pada 1606 (Valentijn, 1724;11-12).

Kota Sampalo (Kota Tua Ternate) dan Istana Sultan Baabullah di Gamlamo (G).
Sumber: Karl Nesseler, Translated from original German. Documenting the East Indian Journey led by Admiral Jacob Cornelius van Neck (1598), featuring Depictions of: Mauritius, Tuban, Banda, Ternate, Molluccas, Banda, and Gammalamme. 
Perpindahan yang ketiga disekitar Ngade Sone (sekarang kelurahan Kasturia). Perpindahan ketiga ini terjadi pada 1627 pada masa pemerintahan Sultan Hamzah (1627-1648). Setelah dari Ngade Sone, istana Ternate kemudian dipindahkan yang keempat kalinya yaitu di Limau Soki-Soki pada masa pemerintahan sultan Muhammad Yasin (1768-1788). Perpindahan keraton ini berdasarkan strategi politik dan ekonomi yang terjadi pada waktu itu dan bertaha hingga saat ini.

Makna Bagunan Istana Ternate
Orang Ternate memiliki sebuah falsafah hidup yang lahir dari hasil kontempleasi terhadap alam yang disebut Jou se Ngofa Ngare. Falsah hidup ini memiliki makna hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Atas dasar inilah maka kehidupan masyarakat Ternate diatur dalam satu kesatuan dan memiliki pandangan hidup yang dinamakan Adat Matoto Agama, Agama Matoto Kitabullah, Kitabullah Matoto Jou Allah Ta’ala. Artinya, “adat bersendikan agama, agama bersendikan kitab Allah, kitab Allah bersendikan Allah SWT” (Immamuddin, 2015;8). 

Kadato Ternate, 2017.
Dari latar belang Adat Matoto Agama, maka segala sesuatu yang akan dibuat berkaitan dengan pandangan hidup orang Ternate. Pembagunan istana Ternate juga tidak terlepas dengan nilai yang disebut di atas. Hal tersebut dapat dilihat dari segi arsitektur bangunan istanan yang memiliki makna berdasarkan pada ajaran agama Islam.

Istana Ternate saat ini yang berada pada bukit Kaimaija atau di Limau Jore-Jore dibangun oleh seorang bas (tukang kayu) dari Cina dan dibantu oleh para tukang dari Kayoa dan Hiri (Pattikayhatu,1998:55).  Pembagunan istana ini dilakukan oleh Sultan Muhammad Ali (1788-1814).  Peletakan batu pertama pendirian istana ini pada hari ke-30 bulan Zulqaidah 1228 H (24 Nopember 1813). 

Bangunan istana Ternate, sarat dengan simbol-simbol keagamaan bernafaskan Islam. Bangunan berbentuk segi lima memiliki arti simbolik sebagai manifestasi waktu pelaksanaan shalat (subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya). Bentuk ini juga diibaratkan sebagai bentuk tubuh manusia yang sedang bersila menghadap timur yang diilhami cahaya fajar di hari subuh. Pendapat umum mengatakan bahwa kedudukan bentuk istana menggambarkan seekor serigala yang sedang duduk dengan kedua kaki depannya menopang kepala. Bentuk ini juga disesuaikan pula dengan falsafahnya seperti tersirat pada prasasti yang terpancang di atas pintu balakun (balkon) yang menjelaskan bahwa setiap sultan yang menghuni istana harus melaksanakan ”Amar Ma’ruf Nahi Munkar” (Radjiloen, 1982).
Bangunan bertingkat dua yang di depannya berupa sebuah balkon yang ditunjang dengan pilar. Tinggi bangunan dari dasar hingga bubungan adalah 17 meter. Angka ini memiliki arti simbolik yang berhubungan dengan jumlah raka’t shalat lima waktu, yaitu 17 raka’at, selain simbolisasi Nuzulul Qur’an 17 Ramadhan. 27 anak tangga di depan melambangkan hari ke-27 bulan Ramadhan sebagai malam ganjil, turunnya Al Qur’an dan hari ke-27 bulan Rajab saat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad. Jumlah 13 prajurit pengawal istana di Ngara Upas dan 13 pemuda dan 13 pemudi sebagai pengiring upacara saat hari raya besar keagamaan serta pada saat upacara tradisional melambangkan rukun 13 menurut syariah Islam (Radjiloen, 1984).
Kadato Ternate, 1880 (Sumber: Colletie Tropen Museum)
Pintu utama istana yang disebut hajral terdapat sebuah prasasti bertulisan arab gundul yang menjelaskan pendirian istana Ternate. Prasasti tersebut jika diartikan berbunyi: 

Dengan keputusan dari Yang Maha Agung yaitu Sri Paduka Sultan, penguasa dari negeri-negeri ini, pelita hati dan raja, raja antara dua samudera, Yang Maha Rahkman Muhammad Ali, putera sultan dengan rakhmat Allah Maha Rakhman, beserta para pembesar negeri. 

Bangunan ini didirikan semasa persekutuan atau persahabatan dengan wakil Pemerintah Inggris, Mackansie. Dibawah lindungan Allah Yang Maha Pengasih untuk Yang Mulia penguasa dari Ternate, diatas bukit Santosa. Pula diwajibkan kepada seluruh anggota keluarga sultan untuk selalu menghuni dan memiliharanya, dan apabila ada salah satu keturunan menolak untuk memenuhi kewajiban ini, maka rakhmat Allah beserta pesuruhnya akan dicabut dari padanya hingga di hari pembalasan, sekian (Rusli A. Atjo, 2008;7).

Inskripsi di pintu Kadato Ternate (kopeks Pribadi)
Dibelakang ruang tamu terdapat ruang jamuan makan para tamu agung. Bagian selatan dari ruangan tamu terdapat tiga kamar yang digunakan oleh Boki (pemaisuri), sedangkan bagian utara terdapat tiga kamar yang digunakan oleh sultan. Kamar depan dinamakan kamar puji (kamar suci). Biasanya digunakan oleh sultan untuk tafakkur apabila menghadapi kesulitan, bencana, dan sebagai tempat menyimpan pusaka sultan. Sementara kamar bagian barat dan tengah terdapat kamar tidur sultan. Kamar tersebut diapit oleh kamar puji dan ruang makan (Ibid).

Tidak jauh dari ruang jamuan juga terdapat sebuah pendopo, tempat pertemuan sultan dengan bala (rakyat) dan sebagai tempat pementasan kesenian Ternate yang dipersembahkan untuk sultan dan bangsawan kerajaan.






Share:
Komentar

Terkini