Muhammad Masud Taisa: Pejuang Provinsi Maluku Utara yang berakhir di Nusakambangan

Editor: Irfan Ahmad author photo
Muhammad Masud Taisa

Untuk memperjuangankan Maluku Utara menjadi provinsi memanglah tidak mudah. Tercatat dalam sejarah bahwa sejak awal negara ini diploklamirkan rakyat Maluku Utara telah berjuang menuntut agar wilayahnya dijadikan provinsi. Banyak putera daerah ini yang karena kegigihan perjuangannya telah menerima nasib yang tidak beruntung. Mereka diteror, ditangkap, dan dipenjara tanpa proses pengadilan. Bahkan sebagian diantaranya diasingkan jauh dari kampung halaman, jauh dari kerabat, dan sahabat.

 

Muhammad Masud Taisa adalah salah satu pejuang dan sempat dipenjara di Nusakambangan pada 1957-1958). Pengalaman Muhammad Taisa sebagai tahanan inilah sebagai bukti, bahwa terbentuknya Provinsi Maluku Utara tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Pergerakan Muhammad Masud Taisa bermula ketika ia melibatkan diri dalam organisasi Pemuda Pembangunan yang dipimpin oleh Umar Asegaf pada 1957. 

 

Perjuangan Maluku Utara menjadi provinsi dimulai sejak tahun 1950 pasca dibubarkannya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Sekalipun telah dikirim delegasi ke Jakarta, perjuangan tersebut mendapat berbagai hambatan. 

 

Pada 18 September 1957, DPRDP Maluku Utara menggelar sidang dan mencetuskan resolusi yang mendesak pemerintah pusat agar Maluku Utara dijadikan sebagai daerah otonom tingkat I. Pada bulan November 1957, pemerintah Maluku Utara kembali mengirim delegasi ke pusat untuk menyampaikan hasil resolusi pada sidang DPRDP tersebut. Namun, perjuangan ini belum membuahkan hasil karena sikap pemerintah pusat lebih mengutamakan pengembalian de facto  dataran Irian Barat ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Selain itu, penghambat lainnya adalah pecahnya Permesta pada 1958. Beberapa pejuang pembentukan provinsi ditangkap dan dipenjarakan di Nusakambangan termasuk Muhammad Taisa. 

 

Dibuang ke Nusakambangan

Muhammad Masud Taisa  ditangkap karena neyelamatkan teman sekaligus pemimpin mereka saat itu. Ketika ditangkap di Ternate, Muhammad Taisa dibawa ke Ambon, kemudian ke Bacan. Dari Bacan kapal menuju Surabaya, menaiki kereta ke Yogyakarta,  ke Cilacap kemudian berakhir di Nusakambangan. 

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Untuk mendapat dukungan, Muhammad Masud Taisa mengajak beberapa teman untuk bentuk pengajian dalam penjara. Dalam acara pengajian inilah, ia menyempatkan diri untuk menulis surat keoada Panglima Gatot Subroto. Dalam surat tersebut Muhammad Masud Taisa menjelaskan tentang, kronologis tentang penangkapannya bersama teman-teman dari Ternate, serta menyampikan bahwa mereka hanyalah tahanan titipan di Nusakambangan jadi tidak menerima bila ada perlakukan kerja paksa.

 

Tidak lama kemudian setelah surat itu dikirim. Muhammad Masud Taisa dan beberapa teman dari Ternate dipindahkan ke Madiun dan beberapa saat kemudian dijadikan tahanan kota kemudian dibebaskan dari tahanan dan kembali ke Ternate, Maluku Utara. 

 

Mereka yang pernah mampir di Nusakambangan

Menurut Muhdi Aziz, banyak pejuang dari Maluku Utara yang belum tercatat, meskipun demikian beliau menyebutkan bahwa selain Muhammad Masud Taisa, ada 17 patriot yang pernah merasakan pernderitaan di Nusakambangan.

 

Mereka yang pernah merasakan derita penjara di Nusakambangan itu antara lain adalah AM. Kamaruddin, Abdul Hamid Hasan, Abdul Wahab Kasim, Umar Assagaf, Arifin Assagaf, Saleh Azis,Munaser Aziz. Muhammad Abi, Muhammad Nur Adam, MK. Purbaya, Tamim BK, PAD. Brisman,Usman Basir, Djabir Hamid, dll.

 

Sayangnya beberapa tokoh yang tulus memperjuangkan daerah ini menjadi provinsi sejak tahun 1950’an tidak mendapat tempat dalam narasi sejarah Maluku Utara. Mereka patut dikenang atas jasa-jasa mereka, sekalipun mereka tidak mengingkan itu. 

Download PDF

Share:
Komentar

Terkini