Sultan Baabullah Mengembalikan Marwah Kesultanan Ternate

Editor: Irfan Ahmad author photo

Sejarawan Universitas Indonesia, Susanto Zuhdi  (2019) mengemukakan bahwa Berbicara mengenai pahlawan tidak lepas dari unsur subyektif suatu masyarakat atau bangsa karena terdapat kepentingan tertentu. Pernah ada yang melontarkan pertanyaan seperti ini, apa substansi pentingnya seseorang diangkat jadi pahlawan nasional? Apa substansi bagi negara? dan substansi bagi daerah asal?


Pertanyaan di atas mungkin tidak bisa dijelaskan satu persatu. Susanto Zuhdi  yang mengutip pernyataan Taufik Abdullah (2008) menjelaskan bahwa ada lima alasan mengapa pahlawan diperlukan. 1) Karena apa pemahaman masyarakat terhadap pelajaran sejarah dan peristiwa; 2) Di dalam sejarah terdapat  aktor yang karena tindakannya memberi kepuasan kultural bagi masyarakat, misalnya karena perlawanan terhadap kolonialisme. 3) Aktor dianggap merupakan sosok yang meletakkan dasar bagi pembentukan ikatan solidaritas atau identitas. 4) Aktor sejarah dianggap mampu mengintegrasikan masyarakat-bangsa, 5) Karena kebutuhan maka pahlawan harus dibuat. Dengan kata lain pahlawan adalah “temu-cipta” masyarakat-bangsa akan pentingnya kehadiran pahlawan. 


Siapa pahlawan itu? Pada prinsipnya pengertian pahlawan adalah seseorang tokoh yang dianggap telah memberikan pengabdian yang bernilai tinggi bagi kehidupan suatu masyarakat atau bangsanya. Pahlawan merupakan personifikasi nilai yang melekat pada diri pribadi yang mampu menggerakkan orang-orang di sekitarnya untuk mencontoh dan meneladaninya. Dapat juga dikatakan bahwa pahlawan adalah sosok yang menjadi orientasi nilai masyarakat (Zuhdi, 2019: 2). 

.

Jika teori sederhana di atas diaplikasikan kepada sosok Sultan Baabullah, bagaimana analisis bisa dilakukan  dan kesimpulan dapat diambil dengan mengatakan bahwa sepak terjang Sultan Baabullah telah sesuai dengan kriteria.


Sepak terjang Sultan Baabullah serta usaha keras dari berbagai pihak yang tak dapat disebut satu persatu membawa hasil yang memuaskan. Alhamdulillah, momen 10 November 2020, masyarakat Provinsi Maluku Utara resmi memiliki seorang pahlawan nasional baru yakni Sultan Baabullah Datu Syah dari Kesultanan Ternate. Keabsahan penobatan tersebut ditandai dengan lahirnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117/TK/Tahun 2020 tertanggal 6 November 2020 di Jakarta.


Mengenal Sosol Baabullah

Baabullah (باب الله), artinya, “Pintu Allah”. Sebuah nama yang terukir indah mengunakan aksara Arab-Melayu dalam karya Valentijn (1724:3) Francois,  Uitvoerige  beschryving  der  vyf  Moluccos. Nama Sultan Baabullah, tidaklah asing lagi terdengar bagi masyarakat Maluku Utara dan sosok sultan  yang melegenda, karena kepemimpinan yang nyaris tidak tergantikan setelah beliau wafat. 


Babullah Datu Syah dilahirkan di Ternate pada 10 Februari 1528. Putra tertua dari Sultan Khairun Djamil (1535-1570) dan permaisurinya Boki Tanjung, putri tertua Sultan Bacan, Alauddin I. Sejak kecil, Baabullah telah digembleng untuk memahami ajaran agama Islam melalui pendidikan internal Kesultanan Ternate. Bahkan Baabullah memiliki guru spitual lebih dari satu orang.  


Berperawakan tinggi, sangat kekar, terlihat kuat, namun tetap dengan raut wajah yang ramah. Ia juga tampak memiliki sifat kebangsawanan, seolah itu adalah ciri yang sudah melekat padanya.


Sultan  Baabullah adalah sosok pemimpin yang demikian melekat di hati rakyat, bahkan menjadi bagian dari harga diri Nusantara karena berhasil mengusir Portugis untuk mempertahankan kehormatan umat Muslim, kala itu. Tegas dan bijaksana dalam kepemimpinanya, maka bangsawan Melayu—pun memberikan gelar “Datu(k)” kepada Baabullah.


Pengetahuan keislaman yang dimiliki sejak masa kanak-kanak menjadi modal pembentukan karakter diri seperti tampak dalam masa kemudian. Selain ilmu agama yang dipelajari, ia juga dibekali dengan pengetahuan menguasai bahasa Melayu, Portugis, dan beberapa bahasa daerah lainnya. Semua sikap dan kebijakan tersebut adalah buah dari pendidikan yang diberikan oleh Khairun kepada putranya, yang membentuk karakter dan kepribadiannya sedemikian rupa.


Kecerdasan dan kemampuan berkomunikasi serta sikap rendah hati yang dimiliki oleh Baabullah, membuat Gubernur Maluku, Antonio Galvao (1537-1540) terpukau dan sempat menawarkan kepada Sultan Khairun agar Baabullah mendalami pendidikan Kolese Santo Paulo Goa (India), namun tawaran itu ditolak oleh Khairun. 


Baabullah pertama kali menikah dengan Beka, seorang anak bangsawan Sulawesi Selatan. Pernikahan yang pertama ini tidak ada keterangan tertulis angka tahun dan berapa banyak anak yang dimiliki. Pernikahan kedua dilaksungkan pada 1571 dengan seorang gadis bagsawan asal Tidore, adik sultan Sultan Iskandar Sani dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu: 1) Mandarsyah;  2) Said Barakati/Saidi; 3) Boki Ainal Jarin yang menikah dengan Sultan Kodrati dari Jailolo; 4) Boki Ramdan Gagalo yang menikah dengan Sultan Tidore; dan 5) Putri yang menikah dengan Sangaji Moti.


Baabullah tumbuh dan besar pada saat Kesultanan Terante mengalami keruetan dinamika politik dan ekonomi. Tentunya ia mengetahui dengan benar sistem pemerintahan yang dijalankan oleh ayah—nya maupun para leluhur di bawah hasutan dari orang Portugis dan Spanyol. 


Dalam karya Documenta Malucensia, Vol. I, 1542–1577 disebutkan bahwa Baabullah muda mengikuti pelatihan militer dari Salahakan Sula dan Salahahakan Ambon, dua Panglima Militer Kerajaan Ternate yang paling ternama. Ia diberi julukan Kaicil Baru saat masih kecil, lalu kemudian naik menjadi Kaicil Paparangan karena aktif dalam angkatan perang Kesultanan Ternate (Jacobs, 1974:239).


Kecerdasan spritual serta memiliki ilmu perang yang mumpuni, membuat Baabullah muda disegani. Ia kemudian diangkat menjadi Kapita Lao  (Panglima Laut), jabatan militer tertinggi dalam struktur Kerajaan Ternate. Setelah mendapat gelar tersebut, ia kembali dipercayakan oleh ayahnya memimpin satu armada laut pada 1546 atas nama Kesultanan Ternate, untuk merangkul wilayah “pinggiran” untuk mengakui Kesultanan Ternate sebagai pusat kuasa (patron) mereka. Baabullah, kemudian menduduki posisi strategis, antara lain sebagai “Kapita Samudera”, yang memimpin pasukan Ternate dalam menaklukkan daerah-daerah di sekitar Maluku dan Sulawesi (Andaya, 1993:84).


Perang Baabullah Terhadap Kebrutalan Portugis

Dalam dinamika pola sekutu-seteru antara Ternate dan Portugis maka mudah dijumpai pelbagai peristiwa sejarah yang menunjukkan saling klaim tentang siapa yang merasa benar dan menjadi keniscayaan munculnya “pengkhianatan” terhadap persetujuan apapun yang telah disepakati. Lalu, apa motif dan faktor bagi fakta sejarah yang muncul? Dalam dunia perdagangan, hal mendasar yang diperjuangkan adalah keuntungan, sedangkan dalam dunia politik adalah upaya untuk mendapatkan kuasa.


Pada abad XVI-XVII di Ternate, terjadinya konflik karena kepentingan, baik perdagangan maupun kuasa di dalam konteks struktural seperti itu. Ditambah semakin tinggi tingkat ketegangan karena munculnya para agensi yang terlibat dalam peristiwa konflik sampai perang. Sebuah keniscayaan dalam sejarah manusia, munculnya watak manusia dengan naluri untuk tampil karena ingin dihargai, sehingga cenderung memaksakan kehendak. 


Di tengah kondisi ekonomi dan politik seperti itu, peran Sultan Baabullah hendak disoroti bukan karena kebetulan sejarah, tetapi karena peran seseorang yang sadar akan tindakan yang diambil dan risiko sebagai konsekuensinya.


Pembunuhan Sultan Khairun pada 28 Februari 1570, oleh Antonio Pimental, keponakan dari Gubernur De Mesquita merupakan kesalahan besar. De Mesquita mengira bahwa kematian Sultan Khairun dapat melancarkan kembali kuasa Portugis di Maluku, beserta dengan monopoli terhadap rempah dan persebaran misi Katolik. Namun, impian itu merupakan jalan menuju kehancuran bagi orang Portugis di Terante, Maluku. 


Strategi Perang Baabullah

Dalam karya Tiele (1880: 444), disebutkan bahwa kematian Khairun, yang pada awalnya diharapkan De Mesquita sebagai jalan pintas bagi berkuasanya Portugis di Maluku, justru memunculkan kemarahan besar dari rakyat Maluku, serta putranya, Baabullah. 


Perangkat Kesultanan Ternate kemudian memutuskan untuk mengangkat Baabullah sebagai Sultan Ternate (1570–1583),  mengantikan ayahnya yang telah wafat. Baabullah pun bersumpah bahwa ia akan mengusir orang Portugis dari bumi Maluku. Baabullah sangat meneladani sikap ayahnya dalam memerintah dan sangat memegang teguh prinsip-prinsip keislaman. 


Menurut Valentijn (1724), Sultan Khairun digambarkan sebagai seorang pelaksana pemerintahan yang bijaksana, seorang prajurit pemberani, dan seorang pembela akidah Islam yang sangat kuat. Kematian Khairun menjadi hambatan besar bagi orang Portugis setelah Baabullah diangkat menjadi sultan. 

Genderang perang pun ditabuh dan dipimpin langsung oleh Sultan Baabullah. 


Langkah pertama yang diambil adalah melancarkan serangan dan mengepung benteng Nuestra Senhora del Rosario. Strategi Baabullah memutuskan hubungan orang Portugis di dalam benteng dengan dunia luar, seperti Ambon, Malaka, Goa, dan wilayah-wilayah lain yang ditempati oleh Portugis. Kemudian, strategi berikutnya adalah mempersiapkan pasukan untuk mengepung benteng Nuestra Senhora del Rosario dan Ia mencabut segala fasilitas yang diberikan Sultan Khairun kepada Portugis, terutama yang menyangkut Misi Jesuit (Djafaar, I.A. 2006: 69,71,73).


Namun Baabullah tidak serta merta mengobarkan perang, tetapi dengan terlebih dahulu mengirimkan surat kepada Raja Portugal untuk meminta agar keadilan dapat ditegakkan bagi mereka yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya (Burnet, 2011: 8).


Tuntutan ini disampaikan Baabullah, baik kepada Raja Philip II di Portugal maupun Raja Muda di Goa, India. Baabullah juga menuntut Pemerintah Kerajaan Portugis agar Diego Lopez de Mesquita dan Antonio Pimental dapat diajukan ke pengadilan Portugis di Malaka, dan dijatuhi hukuman setimpal bila terbukti bersalah. 


Apabila tuntutan tersebut dapat dipenuhi Portugis, maka Baabullah siap memulihkan kembali hubungan dan hak-hak yang pernah Kesultanan Ternate diberikan kepada Portugis. Usul tersebut diterima dan Raja Portugis berjanji bahwa ia akan menyerahkan De Mesquita untuk diadili. Namun, Portugis tidak menepati janji mereka.


Pengepungan dan pembatasan segala fasilitas ke dalam benteng membuat kekuatiran dan penderitaan bagi orang Portugis. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan surat dari Christovão Da Costa Sj. Kepada Frater Fransisco De Borja di Roma. Pada surat tersebut dikatakan bahwa Baabullah dianggap sebagai rintangan besar bagi Portugis, seperti yang dikutip di bawah ini: 

“... e ainda não sabemos em que estado estarão agora. Porque foi là o capitão do mor que estava em Amboyno e daqui lhe foi também algum socorro. Morreu muita gente pelos trabalhos e fomes de guerra. Agora esperamos em Nosso Senhor que ficarão as coisas de Maluquo e Amboino milhores assentadas do que mumca estiveram porque este rey 89 era o maior impedimento que tinham”  (Jacobs, 1974: 632).
Terjemahan:
“... dan kita masih belum tahu akan seperti apa keadaan mereka sekarang. Karena kapten yang ada di Amboino dan dari sini dia juga kerap dibantu. Banyak orang meninggal karena kelelahan bekerja dan kelaparan dalam perang. Sekarang kami berdoa pada Tuhan kami agar keadaan yang ada di Maluku dan Amboino akan tetap lebih baik dari yang pernah ada, karena raja ini adalah rintangan terbesar yang pernah ada...”


Sumber di atas memperlihatkan kekhawatiran orang Portugis terhadap nasib mereka pascakematian Sultan Khairun. Padahal, mereka yang berada di Maluku dan Ambon pada masa yang lalu telah merasa aman, yang tidak lain karena sikap toleransi Sultan Khairun. Merupakan konsekuensi logis saja ketika mereka menganggap Baabullah yang naik menjadi raja, atau dalam hal ini penguasa Ternate, akan menjadi rintangan terbesar yang pernah ada.


Sultan Baabullah sebenarnya dapat saja menguasai benteng itu dengan jalan kekerasan, namun ia memikirkan nasib dari sejumlah rakyat Ternate yang telah kawin campur dengan orang Portugis dan tinggal di dalam benteng bersama keluarganya. Walaupun begitu, pengepungan yang dilakukan Baabullah berhasil menekan Pemerintah Portugis.


Baabullah mengobarkan strategi perang soya-soya (perang pembebasan negeri).  Kedudukan Portugis di berbagai tempat didatangi untuk mencari pembunuh ayahnya. Beberapa wilayah terjadi peperangan dan memakan korban jiwa, karena ada serangan yang dilakukan ketika pasukan Ternate mendatangi wilayah tersebut.

Motivasi Baabullah berperang melawan Portugis, juga dinarasikan oleh Frater Alessandro Valignano yang berkebangsaan Italia, pada 22 November sampai 5 Desember 1577 sebagai berikut: 

“... Et se iva quella christianità molto felicemente dilatando et facendo grandissimo frutto. Ma per il nostri peccati et per la poca prudentia di alcuni portugesi, ammazorono il re di Malucco, cioè di Ternate, che era re moro et sugetto al Re di Portogallo. Et cosi rebello il suo figlio con tutto il regnio et gli altri re vicini, di quali egli é distroido tutta quella christianità di quelle parti et fattala per forza et per timore professar la sua setta di moro, alla fine, per non si mandar ivi in cinque anni soccorso, pigliò quella fortaleza a fame di decembro di 1575 et si fece signore di tutto quel paese...” (Jacobs, 1980: 13).

Terjemahan:

“Dan jika ya, kekristenan sudah dengan senang hati berkembang dan menghasilkan “buah yang besar”. Tetapi karena dosa-dosa kita dan kecerobohan dari beberapa orang Portugis, mereka membunuh raja Maluku, yaitu Raja Ternate, yang merupakan raja muslim dan berhubungan baik dengan Raja Portugal. Maka memberontaklah putranya dengan semua kerajaan dan raja-raja lain di sekitarnya. Dialah yang menghancurkan semua sendi kekristenan dan dengan segala kekuatan memaksakan “sekte” islamnya, pada akhirnya, selang lima tahun, ia merebut benteng dan membuatnya lapar pada bulan Desember 1575 dan menjadi penguasa semua wilayah itu...”


Dari sumber sezaman di atas, terungkap fakta dari pihak Portugis yang di satu sisi merasa senang hati atas keberhasilan penyebaran agama Kristen, sementara di sisi yang lain mengakui kekeliruan sendiri karena tindakan membunuh “raja muslim”, yaitu Sultan Khairun, sebagai perbuatan dosa. Tentu masuk akal dan merupakan konsekuensi logis apabila anaknya, Sultan Baabullah, kini melawan dan menuntut balas.


Kekuatan Laut Baabullah 

Ekspedisi pasukan Baabullah menyerang wilayah Moro-Halmahera, Bacan, dan Morotai, lalu kemudian bergerak menuju pantai timur Halmahera sampai ke utara, terus berkembang dengan menargetkan orang-orang Portugis. Pulau Bacan berhasil dikuasai dan orang Portugis di sana diusir pada 1571 (Anday, 1993: 133-4).


Di bagian utara, Kesultanan Ternate mendapatkan dukungan yang aman dan kuat dari vassalnya. Ada dukungan dari armada lokal di Hiri, Tobelo, Jailolo, dan Morotai, bahkan jauh hingga ke Mindanao di Filipina. Setelah mendapatkan laporan bahwa semuanya terkendali, Baabullah mengeluarkan maklumat bahwa seluruh wilayah laut Ternate terlarang untuk dimasuki kapal asing manapun. 


Baabullah memberi perhatian penuh pada jalur pelayaran karena ia sadar bahwa perang selalu bermula dari laut. Sebagai negara maritim terbesar, menguasai laut berarti menguasai daratan, karena laut yang luas itu dijadikan sebagai penghubung pulau dan penanda kawasan. Blokade laut kelak terbukti efektif dan berkontribusi besar dalam pengusiran Portugis dari Ternate. Pasokan makanan ke dalam benteng juga dibatasi agar penghuni benteng hidup dalam penderitaan, namun tetap bisa bertahan (A. Saleh, 2020). 


Strategi ini dilakukan untuk menghindari kontak fisik atau perang terbuka antara Ternate dan Portugis yang dapat menimbulkan korban jiwa lebih banyak. 


Meskipun penyerangan Baabullah terjadi di beberapa wilayah Portugis yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen Katolik, seperti Galela, Morotai, dan Bacan, bukan berarti karena agama menjadi alasan utama. Sebab, Baabullah hanya menginginkan wilayah tersebut kembali dikuasai oleh Kesultanan Ternate dan menghilangkan kekuasaan Portugis semata.


Berdasarkan catatan Tiele (1881: 162) semasa perang melawan Portugis, Baabullah mendapat dukungan dan suplai pasukan dari berbagai pulau dengan jumlah yang bervariasi, yang secara keseluruhannya mencapai 128.550 orang prajurit yang siap berperang dengan perincian sebagai berikut: Ternate (3.000), Hiri (400), Moti (200), Makeang (1.500), Kayoa (300), Maju (200), Tafori (200), Gacea (300), Kepulauan Sula (4.000), Buru dan sekitarnya (4.000), Veranula dan Seram (50.000), Bonoa dan Manipa (3.000), Dooi (500), Raw (500), Morotai (500), Batocina/Halmahera (10.000), Totoli/Tontoli (3.000), Bool/Buol (3.000), Gaydupa/Kaidipang (7.000), Gorontalo (5.000), Iliboto/Limboto (5.000), Tomini (12.000), Manado (2.000), Dondo (700), Labague (1.000), Pulo (5.000), Jaqua (5.000), Gape/Keling (300), Tobuquo/Tebungku (300), Butun/Buton (350), dan Sangir (300). 


Kora-kora sebagai kapal perang wajib dikirimkan dari vasal Kesultanan Ternate untuk menjaga perairan Maluku, Sulawesi dan Papua. Bahkan di Laut Banda, berlabuh sebuah jung besar utusan dari Johor yang dikirimkan khusus untuk membantu Sultan Baabullah untuk melawan Portugis. Baabullah begitu disegani dan terkenal di kalangan raja-raja Melayu yang telah lama menjalankan prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya.


Baabullah terus menunjukkan bahwa ia memiliki strategi militer dan perang yang mumpuni. Yang juga menjadi langkah awal dari penyerangannya adalah ketika ia mengirim satu armada laut berkekuatan besar, yang dipimpin oleh pamannya, Kaicil Kalasineo, ke wilayah selatan. Perairan Pulau Buru dan Seram dikuasai, sebab ada Portugis di Ambon. Baabullah sangat berhitung, dalam arti jika perang meletus di Ternate, sangat mungkin bala bantuan akan dikirim dari Ambon, dan kemungkinan ini harus dicegah sedini mungkin.


Satu persatu kota yang telah diduduki Portugis kembali kepada Kesultanan Ternate. Dalam konsep mendekati pengertian perang semesta, tentu tidak mudah bagi Baabullah untuk mengorganisasi armada laut yang tersebar, tapi nyatanya, loyalitas pasukan laut yang bertahun-tahun melakukan patroli pengamanan tak tergantikan. Jika dihitung mungkin anggaran pertahanan terbesar saat itu diperuntukan untuk angkatan laut. Hal itu dapat dilihat dari besarnya jumlah armada dan luasnya wilayah perang laut yang berada dalam satu komando yang efektif. Dalam rentang waktu peperangan yang lama, mungkin hanya ada satu bentuk pertahanan yang tepat bagi orang Portugis, yakni dengan menempatkan semua orang Portugis yang berada di wilayah kekuasaan Ternate diperintahkan untuk memasuki benteng Nuestra Senhora del Rosario (Leirissa, 1999: 60).

Dengan kembali mengutip sumber sezaman yang tertuang dalam Documenta Malucensia:

“... alla fine, per non si mandar ivi in cinque anni soccorso, pigliò quella fortaleza a fame di decembro di 1575 et si fece signore di tutto quel paese...”(Jacobs, 1980:13).

Terjemahan:

“... pada akhirnya, selang lima tahun, ia merebut benteng dan membuatnya lapar pada bulan Desember 1575 dan menjadi penguasa semua wilayah itu...”

Maka, jelas bahwa kemenangan Baabullah ditandai dengan keberhasilannya dalam merebut benteng pada Desember 1575, serta diakui sepenuhnya oleh Portugis.


Pada 27 Desember 1575, Gubernur De Lacerda mengibarkan bendera putih tanda menyerah kepada Sultan Baabullah, dan bendera Kerajaan Portugis di Benteng Nuestra Senhora del Rosario diturunkan. Pada tanggal 31 Desember 1575, Sultan Baabullah berhasil mengusir orang Portugis keluar dari Maluku dalam keadaan yang amat terhina, namun tak satupun disakitinya secara langsung (Andaya, 1993: 132-3).


Baabullah dan Kajayaan Ternate

Setelah kepergian orang Portugis, Sultan Baabullah menjadikan Benteng Nuestra Senhora del Rosario sebagai pusat kekuasaan, sekaligus istana yang ia renovasi dan perkuat. Ia mengubah nama benteng tersebut menjadi Benteng Gamlamo, yang berarti “kampung besar”. Sultan Baabullah bahkan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap bangsa Eropa yang tiba di Ternate untuk melepaskan topi dan sepatu mereka, sebagai sekedar pengingat bahwa bangsa Maluku-lah yang berdaulat atas bumi Maluku. Sultan Baabullah, juga penggantinya yaitu Sultan Saidi, menempati benteng sampai pada tahun 1606 (Valentijn, 1724: 11-12).


Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaan dan pengaruhnya membentang dari Sulawesi Utara, Tengah, Timur, dan Barat, hingga Kepulauan Marshall bagian timur. Dari Filipina (Selatan) di utara sampai sejauh Kepulauan Kei dan Nusa Tenggara di bagian selatan. Di setiap wilayah atau kawasan tersebut, ditempatkan wakil-wakil sultan, atau sangaji.


Kemenangan Baabullah atas Portugis membuatnya sangat dihormati di antara penduduk asli di wilayah tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, sebagian besar wilayah pulau di bagian timur berada dalam pengaruhnya (Reid, 1988: 147-8). 118 Keberhasilan Sultan Baabullah mengusir Portugis memberikan momentum bagi proses Islamisasi lebih lanjut di Maluku secara keseluruhan. Sultan, misalnya, memberikan peluang bagi sebagian besar penganut Kristen Portugis di seluruh Maluku untuk menerima Islam sebagai tanda kesetiaan. Baabullah sudah menjadi “agen propaganda” yang efektif untuk Islam. Melalui kemenangannya, ia mampu meningkatkan kepercayaan diri orang muslim di wilayah Ambon, Buton, Selayar, serta beberapa kerajaan pesisir Sulawesi Timur dan Utara, dan bahkan hingga Mindanao Selatan.


Sultan Baabullah tetap melanjutkan kebijakan ayahnya dengan menjalin persekutuan dengan Aceh dan Demak sebagai upaya mengenyahkan Portugis dari Nusantara. Persekutuan tiga wilayah ini adalah simbol persatuan Nusantara karena ketiganya merupakan pusat-pusat kekuasaan terbesar dan terkuat di masa itu, yaitu kekuasaan yang merangkai wilayah barat, tengah, dan timur Nusantara dalam satu ikatan persaudaraan, guna mewujudkan kembali apa yang dicetuskan oleh Sultan Zainal Abidin, kakek buyut Baabullah sendiri Fraassen, 1987: 33).


Setelah berakhirnya perang, Baabullah melakukan pemulihan perdagangan dengan berbagai wilayah, seperti Arab, Gujarat, Aceh, Jawa, dan memperoleh sebagian besar pendapatannya dari bea ekspor yang sebesar sepuluh persen. Kesultanan Ternate juga kian disegani karena memiliki pengaruh Islam yang luas. Untuk memperkuat basis kekuasaannya, Sultan mengembangkan dan memelihara aliansi dengan kekuatan Islam lainnya di sepanjang rute perdagangan rempah di luar kendali Portugis, seperti Demak di Jawa, Makassar di Sulawesi, dan Aceh di Sumatera (Burnet: 2011: 136).


Kecakapan berdiplomasi dan menjalankan syariat Islam, Baabullah  sangat disegani. Baabullah—pun mengaktifkan kembali Persekutuan Aceh—Demak—Ternate. Persekutuan tersebut adalah simbol Persatuan Nusantara yang merangkai wilayah Barat, Tengah dan Timur dalam satu ikatan persaudaraan, untuk mewujudkan kembali apa yang di cetuskan oleh kakek—nya Sultan Ternate, Zainal Abidin (1486-1500).


Perang melawan Portugis, dianggap sebagai perang jihad. Oleh karena itu, Sultan Baabullah diangkat pula sebagai Khalifah Imperium Islam Nusantara oleh Sidang Majelis Raja-Raja yang bersekutu dengan Ternate pada masa itu (Leirissa (1999: 60).



Share:
Komentar

Terkini